it’s about all word’s

Franz Magnis-Suseno: on interview

Posted on: February 20, 2008

Natalan kok pakai hasil korupsi…

Jika Anda tak mengetahui sosoknya, Anda akan berpikir pria ini seorang Jawa tulen dari caranya bertutur kata dalam bahasa Jawa. Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ tak sekadar rohaniwan Katolik. Kiprahnya dalam berbagai kegiatan sosial dalam masyarakat telah membuat namanya dikenal luas.

Terlahir sebagai Franz Graf von Magnis, putra bangsawan Jerman ini mengalami langsung penderitaan perang, ketika dia keluarganya harus mengungsi meninggalkan kampung halaman dan segala yang mereka miliki, dalam Perang Dunia II. Mungkin faktor itu turut membentuk Romo Magnis-begitu dia biasa disapa-menjadi pribadi yang peka terhadap penderitaan sesamanya manusia.

Keahliannya berbahasa Jawa diperolehnya ketika dia menjadi misionaris di Yogyakarta pada periode 1960-an. Setelah itu kiprahnya lebih banyak dalam pengembangan studi filsafat di Indonesia.

Di tengah kesibukannya yang luar biasa-di antaranya mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Drijarkara, di jurusan filsafat Fakultas Sastra UI, menulis, memberikan ceramah, dll-Romo Magnis menyempatkan diri berbincang dengan wartawan Bisnis Algooth Putranto mengenai makna Natal dan masalah yang dihadapi umat Kristen pada umumnya. Berikut petikannya.

Perayaan Natal semakin komersial, bagaimana pendapat romo?

Komersialisasi Natal tidak mungkin dihindari. Apapun yang ada sekarang dikomersialisasikan. Jadi bagi mereka yang betul-betul merayakan, sebetulnya asal mereka sendiri merayakannya tidak terlalu menjadi masalah. Sama dengan pesta-pesta agama lain yang juga dipakai karena ini kesempatan untuk menjual sesuatu. Ya, ini mau bagaimana.

Bagi seorang Kristen, merayakan Natal secara bermakna adalah bukan saja pergi ke gereja tapi juga di dalam keluarga merayakan hal itu dan itu saya kira masih banyak bisa dilakukan.

Misalnya?

Ya, misalnya di mal-mal itu ada simbol-simbol seperti pohon Natal dan lagu-lagu orang Kristiani. Merayakan Natal yang sebenarnya ya di gereja.

Saya tidak tahu di sini, kalau kami di Jerman di rumah juga ada perayaan Natal seperti ada hadiah-hadiah, menyanyi lagu-lagu Natal antara keluarga, merayakan keakraban. Sehingga bagi saya komersialisasi Natal bukan sesuatu yang mengkhawatirkan.

Bagaimana memosisikan Natal dengan lebih baik di tengah masyarakat yang pluralistik?

Saya kira kita umat Kristiani sudah mempunyai cara-cara yang mestinya tidak menjadi masalah kalau tidak ada orang yang melemparkan bom. Itu tidak akan menjadi masalah. Dan diharapkan tidak ada seperti itu.

Saya kira perayaan-perayaan Natal di sini selalu berjalan dengan khidmat dan memungkinkan juga bagi orang untuk menghayati misteri Natal sebagai peringatan akan Allah beserta kita, kedatangan Allah itu berjalan baik.

Apa peranan yang seharusnya dimainkan oleh umat Kristiani dalam masa Natal dan belum dilakukan?

Berkaitan dengan Natal tidak ada peran khusus, tapi tentu orang Kristen itu seperti seluruh bangsa terus diharapkan betul untuk membangun wawasan yang lebih jauh daripada umatnya dan kehidupan keluarganya sendiri sehingga umat Kristen pun selalu diharapkan membangun kesadaran sebagai warga bangsa Indonesia yang ikut bersama-sama bertanggung jawab atas nasib bangsa.

Juga agar membangun hubungan yang baik dan penuh kepercayaan bersama umat beragama lain.

Ini sekarang sesuatu yang sangat penting, karena ketegangan-ketegangan di masyarakat juga bisa mengancam hubungan baik di antara umat beragama.

Berkaitan dengan keluarnya rekomendasi peninjauan kembali SKB pendirian rumah ibadah oleh Persatuan Gereja Indonesia. Apakah itu akan berpotensi mengganggu hubungan umat beragama?

Kalau ditinjau atau kalau tidak ditinjau… Jadi SK itu masalahnya dipakai secara diskriminatif. Saya sangat melihat itu.

Kami umat Katolik hemat mengajukan permohonan izin karena memang Katolik hanya satu organisasi, saya kira [itu] bisa menjamin bahwa kami tidak pernah mengajukan permohonan izin kalau tidak betul-betul perlu.

Mungkin itu tidak saja terjadi pada minoritas Kristen, bisa juga terjadi di mana umat Islam menjadi minoritas, di Bali misalnya?

Ini sebetulnya bukan hanya masalah umat Kristen saja. Saya juga tidak tahu [apakah] umat Islam di Flores bisa bebas membangun masjid atau sebagainya di mana-mana.

Kita masih punya mentalitas mayoritas yang menindas, ter-tutup dan tidak mau tahu, mengikuti perasaan-perasaan negatif dan sebetulnya itu yang menjadi masalah. Itu serius karena memang setiap umat memiliki hak asasi untuk beribadat sesuai dengan agamanya dan untuk tidak diganggu oleh umat beragama lain.

Dan hak asasi itu sudah diakui di dalam UUD 1945 sebelum pernyataan akan hak asasi PBB. Jadi para founding fathers kita semua mengakuinya dan itu semua secara teori tidak persoalkan.

Kalau dikatakan bahwa pembangunan rumah ibadah perlu diatur negara saya kira itu ada benarnya juga. Tidak bisa liar sama sekali. Tetapi bahwa dalam pembangunan itu bisa dicegah oleh karena ada, kadang hanya karena satu atau lima suara saja [yang menolak], saya anggap itu tidak tepat.

Kalau sebagian besar umat mayoritas mengatakan “Okay, kami bisa menerima,” seharusnya izin jatuh.

Bagaimana dalam kasus Sang Timur di Ciledug? (Pintu masuk ke kompleks sekolah yang diasuh yayasan Sang Timur di Cileduk ditutup secara paksa oleh sejumlah orang belum lama ini)

Ya, izinnya tidak kunjung turun. Andai kata mereka menerima, tidak akan pernah ada masalah. Jadi itu justru masalahnya. Selalu saja begitu.

Itu bukan masalah antara Kristen dan Islam. Tetapi di lain tempat perlu ada cukup keterbukaan untuk menerima bahwa ada minoritas. Kalau tidak ya, kita harus pergi tenggelam ke laut atau apa.

Minoritas sama artinya ada rumah ibadah mereka yang berada di tengah-tengah mayoritas.

Abdurrahman Wahid menentang penembokan itu [Sang Timur]…

Itu karena Gus Dur adalah orang yang sejak semula menganggap kebebasan beragama itu sangat penting, dan berpendapat bahwa menjadi kebanggaan mayoritas untuk memberi rasa aman pada minoritas bukan hanya Islam tapi juga yang lainnya juga.

Dan kepada Sang Timur dia memberi semacam tanda yang bisa dilihat supaya orang tahu wah seorang tokoh Muslim malah begitu. Jadi saya sangat menghargai itu.

Apa artinya menghormati minoritas dan menghormati kebesaran mayoritasnya?

Menghormati minoritas itu berarti menghormati sebagai sesama bangsa dan manusia. Tidak berarti menyetujui agamanya, itu tidak perlu. Toleransi justru berarti bisa menerima orang lain dalam perbedaanya kalau pun kita sebetulnya tidak setuju.

Apakah langkah yang dilakukan oleh beberapa umat Katolik di Semarang dengan mendirikan gereja tanpa salib sehingga bisa digunakan oleh umat lain merupakan salah satu jalan keluar?

Saya tidak melihat itu sebagai kemungkinan antarumat beragama karena apakah saudara umat Muslim mau menggunakan gereja. Tetapi itu barangkali bisa diterapkan pada gereja-gereja Kristen. Di Jerman ada contoh gereja yang bisa digunakan Kristen Protestan dan Katolik.

Tetapi itu pun tidak bisa begitu saja bisa sebab Katolik memiliki kekhususan yaitu Sakramen Maha Kudus [yang disimpan] dalam tabernakel.

Dan orang Katolik tentu merasa keberatan atau tidak enak orang bisa begitu saja di dalam gereja tanpa menunjukkan kesadaran akan kehadiran Yesus di dalamnya.

Itu tentu bisa diatasi dengan menempatkan sakramen itu di kapel sampingan yang memang untuk orang Katolik yang bisa saja ditutup sehingga tidak bisa kelihatan.

Toleransi mulai dengan menghargai keutuhan agama lain, terutama dalam hal religius.

Misalnya kan kalau saudara umat Muslim ingin beribadah kan membutuhkan tempat wudhu. Kalau kita tidak bisa menyediakan hal itu kan juga tidak sopan. Jadi hal itu juga harus diperhitungkan.

Tetapi jika konsep ini diterapkan di tempat-tempat umum yang bisa digunakan oleh semua umat beragama, ya bagus malah.

Masih relevankah ide 100% Katolik, 100% Indonesia yang pernah dilontarkan oleh tokoh Katolik I.J. Kasimo?

Oh iya, menurut saya itu tidak bisa dilepaskan karena [berada] dalam pandangan kemanusiaan yang menurut saya tepat. Manusia itu tidak bisa dikotak-kotakkan.

Tidak perlu karena hanya dia adalah seorang nasionalis maka posisinya sebagai kepala keluarga lalu menjadi 50%, begitu jika ke Katolik-kan atau ke Islam-annya. Itu salah.

Berkaitan dengan keseriusan pemerintah memberantas korupsi, apa yang harus dilakukan umat Kristen sebagai tanggapannya?

Paling penting, ya jangan ikut korupsi. Pada Natal orang Kristen harus introspeksi. Jadi bukan untuk menunjuk kamu harus begini begitu. Tapi di Natal itu kita harus merenungkan [apa yang terjadi di] gua itu dengan Yesus, Maria dan Yosef dan sebagainya [di dalamnya].

Orang harus bertanya apa yang sudah ku lakukan bagi Yesus dan di situ termasuk yang dikatakan Yesus, “Yang kau lakukan bagi Aku kelihatan dari yang kau lakukan bagi saudaraKu yang paling miskin dan lemah.”

Dan kalau kita korupsi kita mencuri dari mereka, jadi bagaimana kita bisa merayakan Natal dengan hati yang gembira kalau sekaligus terlibat korupsi.

Apa sumbangan yang harus diberikan orang Katolik bagi negara ini?

Ikut sebagai warga negara tentu yang pertama supaya dia [berada] dalam kehidupan berkeluarga, berprofesi, masyarakat menjadi unsur positif yang mendukung keadilan, persatuan, toleransi, hubungan baik dan menjalin kepercayaan antarwarga. Jika dapat menjalankannya di bidang politik tentu akan lebih baik.

Artinya warga Katolik yang turun ke dunia politik mendapat dukungan yang kuat dari gereja?

Saya kira dukungan [dari gereja] kuat. Gereja Katolik sudah sejak 100 tahun mendorong umatnya untuk terjun di semua bidang kehidupan.

Dan Konsili Vatikan II sangat jelas mengatakan hal itu. Beberapa Paus yang menjabat pun mengatakan agar umat Katolik jangan menarik diri tanggung jawab di masyarakat.

Di Indonesia pun Konferensi Uskup sudah seringkali mengatakan hendaknya umat itu sepenuhnya berpartisipasi sesuai dengan kedudukan masing-masing dalam berbangsa dan bernegara.

Apakah gereja Katolik akan menggariskan pilihan organisasinya kepada kadernya?

Oh tidak, gereja Katolik tidak pernah berbuat seperti itu, karena pertama tidak ada kompetensi dan wewenang gereja dalam bidang politik.

Selain itu gereja Katolik juga mengakui kebebasan umatnya untuk memilih partai politik yang diyakini. Itu bukan tugas uskup atau romo kardinal untuk menentukannya.

Gereja akan mengangkat suara dalam hal-hal yang menyangkut moralitas, misalnya negara mau membebaskan abortus karena dianggap suatu kejahatan karena dia belum lahir. Begitu juga beberapa hal seperti kloning dan pernikahan homoseksual.

*Diterbitkan di Bisnis Indonesia Edisi: 26/12/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: