it’s about all word’s

Hidup nyaman meski tak bekerja, bisakah?

Posted on: February 20, 2008

Judul: The Joy of Not Working (Cara Bahagia saat Pensiun, Menganggur, dan Kebanjiran Pekerjaan)
Penulis: Ernie J. Zelinski
Penerbit: Pustaka Binaman Pressindo
Tebal: 348 halaman

Menganggur tidak selalu identik dengan beban sosial dan kebodohan. Bagi Ernie J. Zelinski, menjadi penganggur berarti menjadi pemenang. Menganggur justru menjadi ujian yang tepat untuk mengenal siapa sesungguhnya diri Anda.

Membaca karya Ernie J. Zelinski sama seperti menikmati karya serius yang dituangkan dengan santai, ringan dan mudah dicerna. Meskipun mengangkat tema serius, buku ini mampu memberikan pencerahan terutama bagi mereka yang tidak lagi bekerja.

Tak heran jika The Joy of Not Working ini telah dipublikasikan dalam 14 bahasa dan terjual lebih dari 150.00 eksemplar di seluruh dunia.

Melalui buku ini, Ernie ingin membantu pembaca menjadi seorang pemenang. Buku ini mengajak Anda untuk belajar menghayati dan menikmati setiap bagian hidup. Dalam edisi ini, Anda diajak bergabung bersama ribuan orang yang sudah dicerahkan dan belajar bagaimana memadukan antara pekerjaan dan kesenangan.

Ada beberapa poin yang ditekankan oleh Ernie, antara lain menjadi lebih produktif dalam pekerjaan dengan sedikit bekerja, menemukan kembali dan mengejar keinginan hidup.

Selain itu bagaimana memperoleh nyali untuk meninggalkan pekerjaan tetap di kantor ketika pekerjaan itu membuat Anda sengsara. Selanjutnya mendapatkan pekerjaan menarik dan menyenangkan yang membawa perubahan dalam kehidupan fisik, mental, maupun spiritual.

Ernie menyodorkan langkah-langkah untuk meninggalkan rasa bersalah setelah lama tidak bekerja dan saat-saat tidak menyenangkan. Hasilnya, Anda akan merasa tenang, meskipun memiliki sedikit uang.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan ide-ide membingungkan namun bermakna dalam, misalnya Menjadi penganggur berarti menjadi seorang pemenang (hal. 106) yang merupakan salah satu subbab dari Bab 5: Tidak bekerja: Ujian yang Tepat untuk Mengenal Siapa Sebenarnya Diri Anda.

Jika ditelusuri lebih jauh, Anda akan menemukan kalimat lanjutan yang menyimpulkan bahwa pengangguran pun membutuhkan kesiapan mental. “Memilih menjadi penganggur dapat berbahaya bagi kesejahteraan orang yang tidak menyesuaikan diri secara psikologis. Ada beberapa aspek negatif pengangguran: ketidakamanan finansial, kontak sosial berkurang, lebih sedikit tujuan yang dicapai dan kurangnya kesempatan untuk merasa puas karena mencapai sesuatu yang bermanfaat” (hal. 107).

Tulisan ini terutama ditujukan bagi orang-orang yang sudah pensiun. Orang-orang yang kadang tidak siap untuk berhenti dari puncak prestasi dan rutinitas yang selama ini mereka nikmati, benci sekaligus rindukan.

Mengatasi kebosanan

Yang mengasyikan dari buku ini adalah setiap bab selalu menjadi pengantar bagi bab berikutnya. Pembaca akan mudah menemukan kelanjutan topik antara satu bab ke bab yang lain hingga akhir buku.

Misalnya pada bab 5 yang membicarakan masa-masa pensiun atau menganggur, Anda digiring kepada persoalan klasik saat masa tidak bekerja, yaitu kebosanan.

Ernie tidak memberikan topik yang mengayomi pembacanya terhadap masalah kebosanan namun langsung menohok dengan ide “seseorang yang membosankan saya, itu adalah saya (hal 127).

Pasalnya tingkat rasa bosan tidak bisa dinilai sama pada setiap orang. Bahkan ironisnya, beberapa hal yang kita perjuangkan akhirnya justru dapat membuat kita bosan.

Untuk beberapa orang, pekerjaan baru menjadi membosankan setelah beberapa waktu. Hubungan yang sebelumnya menyenangkan mungkin kemudian dapat menjemukan.

“Dan waktu luang yang suatu saat dianggap berharga mungkin berubah menjadi sepi” (hal 129). Ernie tidak mengada-ada sebab orang yang mengalami kebosanan kronis cenderung mempunyai beberapa ciri, seperti khawatir akan keamanan dan kekurangan materi, sangat sensitif terhadap kritik, selalu cemas, kurang percaya diri dan tak kreatif.

Usai menjejali pembaca dengan doktrin-doktrinnya, Ernie lalu menggiring pembaca pada topik selanjutnya yang langsung menggilas sanggahan di benak pembacanya.

Menurut dia, masa pensiun yang membosankan hanya terjadi jika Anda pensiun dari hidup. Dia memberikan fakta bahwa masa pensiun yang bahagia justru melakukan sesuatu dengan sedikit namun hasilnya banyak.

Kebahagiaan tidak peduli pada hal yang dicapai atau tidak. Yang diperlukan secara mutlak justru perasaan puas dan senang terhadap yang sudah dilakukan untuk diri sendiri atau bagi lingkungan di sekitar kita.

Jadi untuk apa Anda pusing bahkan menjadi stres, kalau dengan sedikit kreativitas dan kemauan Anda bisa menjalani hidup dengan nyaman.

*Bisnis Indonesia Edisi: 19/06/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: