it’s about all word’s

Ilham Akbar Habibie: Dan Brown and Pram

Posted on: February 20, 2008

Lahir dan besar di luar negeri, bagi Ilham Akbar Habibie, di satu sisi merepotkan, tapi di sisi lain sangat menguntungkan. Sebab kebiasaan membaca dan mendapatkan bahan bacaan sangat didukung oleh pemerintah.

Lahir dan besar di Jerman, Ilham tumbuh sebagai manusia yang menyukai beragam bacaan. Hasilnya, dia berhasil menjadi ilmuwan dan pengusaha. Dia bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah berupa Bintang Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda atas prestasinya.

“Saya suka macam-macam buku. Selain buku teknik dan bisnis, saya juga suka buku fiksi dan filsafat. Fiksi ilmiah yang sangat saya suka adalah karya Dan Brown yang menulis Da Vinci Code,” ujarnya usai peresmian Alumni Club University of Chicago di Hotel Four Season belum lama ini.

Jebolan Phd dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman, itu mengakui Dan Brown mampu membuat novel yang menghibur.

Namun lebih dari itu, dalam setiap karya Brown, Ilham mengaku selalu mendapatkan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya. “Ini mendukung kesukaan saya untuk selalu meningkatkan pengetahuan,” ujarnya.

Sayangnya, saat ini Ilham termasuk orang yang sangat sibuk. Tak hanya memegang sejumlah posisi penting di beragam perusahaan swasta dan pemerintah, dia juga masih tetap memimpikan pesawat rancangannya mengudara.

Akibatnya, tak setiap hari dalam kesibukannya itu Ilham bisa menyempatkan diri untuk membaca buku. “Sekarang memang tidak bisa setiap hari baca buku. Tetapi bisa saya pastikan sekurang-kurangnya dua hingga tiga buku yang tebal pasti saya selesaikan dalam sebulan.”

Tentu saja selain karya Brown yang mencuri hatinya. Karya Pramudya Ananta Toer, yang memukau pembaca di seluruh dunia dan pernah diharamkan oleh Orde Baru, pun dia lahap.

Menurut dia, buku-buku Pram sangat menarik sebab selain cara penulisannya sangat baik, dari novel-novel tersebut sangat jelas terlihat penguasaan Pram yang mendalam terhadap hal-hal yang ditulisnya.

“Saya banyak menemukan hal-hal yang seringkali sebelumnya tidak saya ketahui karena tidak pernah dibahas dalam buku sejarah. Meski tak dapat dihindari aspek politis masuk dalam karya-karya Pram.”

Ilham juga termasuk penggemar cerita-cerita kriminal yang menegangkan dan memaksa orang berpikir. Salah sa-tunya karya Jan Willem van Witering asal Belanda.

Menurut Ilham, penulis itu tak hanya mahir menulis novel cerita detektif yang rumit, tetapi selalu berusaha memandang setiap persoalan yang terjadi dengan falsafah Budha yang harmonis dan humanis. Di matanya, karya Van Witering unik sebab setiap kasus tidak dilihat siapa pelaku-nya tetapi alasan pelaku melakukan tindakan tersebut.

Novel setebal bantal pun dia lahap. Sebut saja karya Umberto Echo dari Italia yang spesialis novel sejarah seperti Enemy of the Rose yang menceritakan betapa sulitnya mendapatkan pendidikan di Eropa pada abad pertengahan saat hirarki otoriter gereja berkuasa.

*Bisnis Indonesia Edisi: 09/10/2005

1 Response to "Ilham Akbar Habibie: Dan Brown and Pram"

kecerdasan seseorang memang selalu berbanding lurus dengan ‘bacaan cerdas’ yg dibacanya.
salut atas artikelx..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: