it’s about all word’s

Jenderal Sudirman sudah mengingatkan…

Posted on: February 20, 2008

Satu-satunya milik nasional yang tetap tidak berubah adalah Tentara Nasional Indonesia.”

Itulah ucapan Panglima Besar Jenderal Soedirman pada 1 Agustus 1949 usai bergerilya dengan separuh dongkol karena ternyata Presiden Sukarno yang berjanji akan turut berjuang bersama rakyat ‘memilih’ untuk ‘ditawan rakyat’.

Puncak kekesalan Soedirman adalah saat dirinya begitu dingin saat bertemu Soekarno. Hanya saja berkat foto diplomatis adegan pelukan Soekarno-Soedirman yang memperlihatkan muka haru presiden RI pertama itulah yang menyelamatkan sejarah hubungan sipil-militer kala itu.

Tak mudah memang bagi Jenderal Soedirman yang bersama seluruh pasukan Indonesia untuk dapat kembali masuk ke ibukota Yogyakarta.

Tercatat setidaknya dilakukan lima kali serangan umum untuk merebut Yogyakarta yaitu 30 Desember 1948, 9 Januari 1949, 16 Januari 1949, 4 Februari 1949, dan terakhir 1 Maret 1949 dibawah pimpinan Overstee Soeharto.

Dalam waktu tempur yang panjang itu berkali-kali Soedirman merasakan bagaimana rakyat Indonesia di pedesaan adalah unsur penting pendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sebuah patron yang kemudian dipertegas oleh Nasution tentang pentingnya kemanunggalan rakyat dan tentara sebagai suatu sistem pertahanan semesta yang terbukti efektif menghadapi pergolakan melawan agresor asing atau pemberontakan dalam negeri.

Boleh dibilang periode 1947-1952 adalah masa dimana hubungan antara sipil dan militer begitu mesra. Hanya saja sejak Nasution dengan kekuatan Angkatan Darat ‘berpetualang’ pada 17 Oktober 1952 menekan Sukarno, sejak saat itu usai pula masa mesra hubungan sipil dan militer. Namun perlu juga dicatat, militer pulalah yang kembali menyelamatkan Soekarno.

Maka boleh dibilang hingga 1966 adalah ‘waktu tidur’ yang cukup panjang militer dalam dunia politik yang ditegaskan oleh Ahmad Yani untuk mendukung presiden tanpa perkecualian.

Tentu saja kesetiaan itu harus ditebus dengan pecahnya G30S/PKI, yang menurut pendapat sebagian besar pihak adalah akibat kuatnya suhu perpecahan di tubuh militer.

Sekali lagi militer menunjukkan eksistensinya menghadang gerakan tersebut dengan memunculkan sosok bernama Suharto yang secara idem ditto dimulainya ‘periode gelap’ bagi TNI AD hingga 1998.

Itulah sebuah periode dimana TNI AD sudah sepenuhnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari figur Soeharto sebagai presiden yang memimpin rezim otoriter di Indonesia.

Malah disebutkan oleh Saurip Kadi dalam TNI-AD Dahulu, Sekarang dan Masa Depan hampir 92% dari usianya, boleh dikatakan TNI AD sama sekali belum mengenal lebih dalam profesinya sebagai militer.

Merumahkan TNI

Sekali lagi salah satu ‘manifesto’ Soedirman kembali terbukti bahwa “Tentara tidak berpolitik, tidak memihak kepada golongan, atau partai politik tertentu. Politik negara adalah politik tentara.”

Tepat empat hari menjelang ulang tahun TNI, Fraksi TNI/Polri melalui juru bicaranya, Mayjen TNI Kohirin Suganda berpamitan kepada seluruh anggota MPR untuk kembali ke ‘barak’ sembari membacakan puisi.

“Ketika pekik merdeka bergema di persada tercinta, kami mengawal dengan sumpah setia, sepanjang liku-liku perjalanan bangsa ini, kami teguh mengabdi pada engkau pemilik negeri, itulah kami TNI/Polri.

Kini reformasi jadi gaung di negeri ini/kata dwifungsi tak lagi punya arti, sekali lagi dharma satria kami penuhi, TNI/Polri undur diri kembali ke profesi, kami pamit, tangan di dada sepuluh jari, siap mengabdi sesuai jati diri, satu pesan kami, hantarkan negeri ini, ke ‘istana’ gemah ripah loh jinawi, dan..kami TNI/Polri mengiring sepenuh hati.”

Puisi Suganda secara tak langsung mencerminkan sikap berbesar hati militer. Dan akhirnya dengan hanya dihadiri tidak sampai separuh dari seluruh anggota DPR dan diwarnai aksi ratusan demonstran, Rancangan Undang-Undang TNI akhirnya disahkan secara bulat dalam sidang terakhir anggota DPR periode 1999-2004 menjadi UU.

Kesembilan fraksi DPR, dalam pendapat terakhirnya sebelum menyetujui, menyadari masih ada kalangan yang mengkhawatirkan munculnya penyalahgunaan kekuasaan TNI, terutama sehubungan penghapusan komando teritorial TNI AD. Untuk itulah, menurut mereka, perlu dibangun aturan tegas mengenai komando teritorial TNI AD.

Menko Polkam ad interim Hari Sabarno yang hadir mewakili pemerintah sudah memberi sinyal bahwa hal itu akan dilakukan secara bertahap.

”Karena kalau satu wilayah pertahanan sama sekali tak ada yang menjaga kita harus menempatkan pasukan tempur dan penempatan itu sangat mahal. Nanti kita buat Peraturan Pemerintah untuk mengaturnya,” tuturnya.

Sementara Happy Bone Zulkarnain dari Fraksi Partai Golongan Karya menyatakan UU baru itu merupakan langkah maju karena mengatur dengan tegas peran para anggota TNI.

Hal itu diatur dalam Pasal 76 yang dengan jelas melarang anggota militer untuk terlibat dalam kegiatan sebagai anggota parpol, berpolitik praktis, berbisnis, ataupun menjadi anggota legislatif, kecuali memang mengundurkan diri.

Dalam pasal yang sama juga diatur bahwa semua aktivitas bisnis yang dimiliki TNI akan diaudit dan harus diambil alih pemerintah dalam waktu lima tahun setelah RUU tersebut disahkan.

Padahal kita tahu peralatan perang baik pembelian maupun pemeliharaan bukalah suatu hal yang murah. Kesejahteraan prajurit pun masih jauh dari layak. Dengan gaji minim sebagian mereka harus rela merendahkan diri menjadi Satpam, tukang sayur sampai bisnis yang nyerempet-nyerempet bahaya.

Apakah sesudah mundur dari panggung politik, manifesto Sudirman kembali terbukti. Kata Jenderal Besar itu: “Kesetiaan tentara adalah kepada ideologi negara yang berarti bahwa tentara senantiasa bersikap kritis terhadap keputusan-keputusan kabinet yang diilhami oleh paham ideologi golongan yang dianut oleh berbagai partai yang mendukung pemerintah. Tentara menganggap diri mereka sebagai pengemban wawasan kenegaraan, dan bukan sebagai alat dari berbagai kabinet yang sedang berkuasa.”

Dirgahayu TNI.

*Terbit di Bisnis Indonesia edisi 06/10/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: