it’s about all word’s

Jika eksekutif jadi relawan

Posted on: February 20, 2008

Pagi itu, jam baru saja beranjak dari pukul empat. Saat ayam jago pun masih terkantuk-kantuk untuk berkokok, Frans sudah bergegas menuju kamar mandi. Setelah itu dibereskannya perlengkapan mengajarnya.

Di ujung gang sana, mentari di ufuk barat masih mengintip malu-malu dan adzan subuh mulai mengumandang. Bergegas, Frans memacu Jazz-nya dari rumahnya di Villa Pamulang Mas ke arah Pondok Indah.

Hari itu Fransiscus Lumentut, biasa dipanggil Frans, merupakan satu di antara ratusan karyawan Citibank yang menjadi relawan pada program Citibank Peka sejak mulai diperkenalkan kepada karyawan pada Desember 1998.

Tercatat rata-rata setiap tahunnya 450 karyawan Citigroup bergabung dalam program ini.

Namun, berbeda dengan program-program peduli lainnya, program ini tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk dana, melainkan juga melibatkan karyawan secara aktif.

Mereka tidak hanya mengajar atau menjadi kakak asuh bagi para siswa-siswi. Bisa saja mereka melakukan pekerjaan lain, misalnya membacakan buku bagi siswa-siswi, mendongeng, mengajarkan bahasa Inggris, rapat dengan dewan sekolah dan memonitor kemajuan sekolah tersebut.

Selain itu staf senior menjadi dosen relawan di FEUI selama 2 jam untuk topik spesifik dalam mata kuliah selama satu semester.

Ada pula relawan yang tergabung dalam program edukasi bagi yang membutuhkan dan anak jalanan, membantu mitra Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam mengatur aktivitas kreatif tambahan seperti menyanyi, menggambar, seni dan kerajinan tangan

Mereka juga membantu untuk membersihkan sekolah, mengidentifikasi kebutuhan persediaan sekolah, menjaga hubungan baik dengan LSM dan orang tua anak juga mendata arsip kartu laporan dari tiap sekolah.

Yang berminat pada bidang perpustakaan tergabung dalam LSM Pustaka Kelana untuk membantu dalam bidang administrasi dan mengkoordinasi aktivitas perpustakaan keliling pada setiap perhentian. Relawan itu membantu anak-anak memilih buku yang menarik atau membacakan buku kepada mereka yang mengunjungi perpustakaan tersebut.

Sedangkan yang peduli dengan tuna netra, bergabung dalam Yayasan Mitra Netra (YMN). Mereka menghabiskan beberapa jam sehari di Citibank Peka Community Center dan kantor YMN.

Tugas mereka menerjemahkan buku-buku bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, membantu memasukkan data tersebut ke komputer untuk versi Braille dan memproduksi kamus elektronik untuk tuna netra.

Dapat izin kantor

Untuk memperlancar pekerjaan itu ada pula relawan yang bertugas mengkoordinasikan aktivitas sehari-hari Citibank Peka di Community Center dengan memastikan jadwal, aktivitas dan program para relawan dapat berjalan dengan baik.

“Sebagai relawan kami mendapat izin satu hari untuk melaksanakan kegiatan ini. Meski begitu pekerjaan sebagai relawan tidak berarti membebaskan kami dari kewajiban pekerjaan kami,” ujar Fransiscus Lumentut, Manager Human Resources Citibank.

Pagi itu jalanan di bilangan Pondok Indah sudah mulai ramai. Hanya sepelemparan batu dari tempat kami berdiri mobil-mobil mewah milik penghuni kawasan elit itu memadati pom bensin.

Tepat pukul enam pagi, tak lebih dari lima menit usai Frans sampai di titik pertemuan yang sudah disepakati, kawan satu tim Frans, yakni Richard Wahongan, Manager MIS and Analysis, sudah sampai.

Keduanya lantas sibuk memeriksa ulang kondisi LCD projector yang akan mereka bawa sembari menunggu kehadiran Michael Sofian Tanuhendrata, Deputy Head CRS Citibank yang hari itu bertugas sebagai supir tim mereka.

Ketiganya sudah lama berteman sejak di Queensland University of Technology, Australia. Kekompakan mereka merupakan modal untuk mengajar di SDN Cipriangan dan SDN Sukalarang yang diadopsi Citibank Peka dari program Creating Learning Communities for Children Program (CLCC).

Untuk itu mereka sudah mempersiapkan diri agar bisa tampil meyakinkan di depan murid kelas lima dan enam sekolah dasar yang per kelasnya menampung 41 hingga 45 anak.

Berbeda dengan Citibank Peka yang sudah mapan didukung perusahaan tempat eksekutif tersebut bekerja. Pengalaman berbeda dialami oleh eksekutif yang tergabung dalam Yayasan Kasih Mulia (YKM).

Program narkoba

YKM yang bergerak di bidang penanggulangan narkoba didirikan 21 Oktober tujuh tahun silam dalam keadaan sangat sederhana oleh Pastor Lambertus Somar itu. Awalnya hanya sepetak kamar berukuran 4×4 milik Somar di Pastoran Stella Maris Pluit, Jakarta.

Kliniknya pun menumpang di salah satu ruang pertemuan pastoran. Kantor YKM kemudian berpindah ke sebuah ruko di kawasan Pantai Indah Kapuk. Hingga akhirnya secara permanen bertempat di Pluit Muara Karang.

Menurut Presiden Direktur Sugar Group Company Gunawan Jusuf, meskipun narkoba sudah menjadi bahaya yang mengkhawatirkan namun tak mudah untuk mengajak sesama pengusaha tergerak turut serta dalam hal ini.

Tak heran jika kemudian panti rehabilitasi yang diberi nama Kedhaton Parahita-yang berarti istana kasih peduli terhadap sesama-awalnya meminjam rumah milik seorang keluarga di Cikokol, Tangerang.

“Eh, baru setahun pemiliknya memohon agar diizinkan untuk dapat menggunakan rumahnya kembali. Untuk itu pada pertengahan Oktober 2001 kita pindah ke Cikupa, Pasar Kemis, Tangerang,” tuturnya.

Beruntung perlahan-lahan makin banyak pengusaha yang bergabung dan gaung YKM makin terdengar. Hasilnya sejak awal pendirian, kini YKM dukung oleh sedikitnya 200 pengusaha besar di Indonesia.

Pada Januari 2003 mereka bisa mendirikan panti rehabilitasi di kaki Gunung Salak, tepatnya Desa Cisaat, Sukabumi, dengan kapasitas 20 residen.

Bahkan pertengahan Agustus lalu, tanpa sepeser pun uang dari pemerintah, YKM membangun panti rehabilitasi narkoba terbesar di Asia Tenggara yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Idealis, kadang naif

Sebagai pekerjaan yang mewajibkan kerelaan tanpa imbalan sepeserpun tentu saja untuk menjadi relawan yang tangguh diperlukan motivasi dari dalam diri yang kuat bahkan secara sepintas terdengar idealis, bahkan naif.

Sebab tak hanya waktu bersantai bersama keluarga yang harus tersita, seringkali isi kocek yang dirogoh untuk membayai kegiatan yang dilakukan cukup besar. Hitung saja bila harus mengunjungi sekolah-sekolah di pedalaman Jawa Barat.

Atau seperti Michael yang selain bergabung dengan Citibank Peka, bersama mertuanya saat ini sedang membangun asrama di pedalaman Lampung bagi anak-anak pedesaan yang akan bersekolah di kota.

“Saya sadar terlahir sebagai orang yang beruntung. Gizi tercukupi, sekolah apalagi. Tapi di sekeliling kita masih banyak anak yang kurang beruntung. Padahal pendidikan adalah modal utama mereka,” ujar Michael yang diamini kedua kawannya.

Jika mengandalkan pemerintah, lanjutnya, mungkin harapan yang sia-sia. Sampai saat ini korupsi masih merajalela, penanganan pun tidak jelas. Untuk itu diperlukan kepedulian dari yang beruntung kepada sesamanya.

Richard dan Frans justru menekankan arti pentingnya arti hidup mereka bagi lingkungan. “Hidup kita sekarang lebih beruntung. Toh dengan kegiatan seperti ini juga bagian dari melepas rutinitas dan kejenuhan pekerjaan kantor.”

Senada dengan hal itu bos Sugar Group Company, Gunawan Jusuf justru mulai ingin terjun langsung menjadi relawan saat dirinya mulai lulus dari California State Long Beach University dan kembali ke Indonesia.

“Setelah bekerja siang malam hingga mencapai kesuksesan justru kemudian timbul pertanyaan apa arti hidup ini,” tuturnya.

Sayangnya kalangan awam sering memandang sinis kiprah mereka sebagai relawan. Misalnya hanya sekadar topeng di balik kehidupan mewah mereka.

Hasilnya sebagian besar diantara mereka memilih diam, terus bekerja dan menjauhi publikasi.

“Pada umumnya mereka tak ingin menonjolkan perannya. Saya pun ada di sini karena harus menemani romo [Somar]. Yang membuat YKM besar adalah kasih dan ketulusan untuk melayani sesama,” ungkap Gunawan.

*Bisnis Indonesia Edisi: 16/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: