it’s about all word’s

Johann Casutt: On Interview

Posted on: February 20, 2008

Pendidikan siap kerja teknik memang harus mahal

Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia jumlahnya cukup berlimpah. Namun, sangat sedikit yang menyiapkan mahasiswanya dengan keahlian yang diterima oleh pasar tenaga kerja.

Pendidikan di Indonesia mengalami penurunan fungsi menjadi sekedar mesin cetak ijazah dengan kualitas lulusan yang tidak siap kerja. Akibatnya jumlah pengangguran terdidik makin menumpuk.

Bersamaan dengan itu pendidikan siap kerja yaitu diploma, yang dulu disepelekan universitas kini kembali dilirik dan sangat diminati oleh lulusan SMU.

Ironisnya pendidikan diploma lalu terjebak sekedar menghasilkan ijazah karena masalah klasik a.l manajemen pendidikan yang berpola strata-1, peralatan yang seadanya hingga kurikulum yang tidak ramah pada industri.

Untuk itu wartawan Bisnis berbincang-bincang dengan Johann Casutt, pendiri Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) St. Michael, Solo. Berikut petikannya:

Sejak didirikan 37 tahun lalu ATMI mampu bertahan sebagai panutan pendidikan teknik yang paling siap kerja di Asia. Apa yang menjadikan ATMI mampu bertahan?

Ada tiga hal, a.l. menjaga kualitas sumber daya manusia yaitu instruktur dan siswa, peremajaan mesin yang mengikuti perkembangan jaman, menjaga mutu produk dihasilkan yaitu lulusan dan barang produksi yang dipesan pasar.

Sebetulnya seperti apa model pendidikan siap kerja apa yang telah berhasil diterapkan?

Praktik di sini menempati porsi terbesar. Komposisinya 2/3 di bengkel dan 1/3 di kelas atau 40 jam di bengkel dan empat jam teori. Tanpa praktik maka pendidikan siap kerja tak akan pernah terwujud.

ATMI tetap bertahan untuk mempertahankan sistem paket. Selama tiga tahun diperlukan 5.510 jam tatap muka, jauh lebih banyak dibandingkan dengan sistem kredit semester tingkat Diploma 3.

Sistem gugur tingkat yang sudah ditinggalkan di tempat lain juga tetap dipertahankan. Siswa harus keluar jika tidak mampu memenuhi standar nilai yang ditentukan.

Kedisiplinan dan etos kerja ditanamkan. Jika siswa terlambat maka mereka harus menggantikan jam keterlambatan itu. Mengambil satu baut saja maka siswa itu akan dikeluarkan.

Lulusan ATMI harus memenuhi tiga hal yaitu competensia [berdisiplin tinggi, teliti, dan konsisten pada mutu], conscientia [memiliki tanggung jawab moral], dan compassio [memiliki kepedulian pada orang kecil dan cinta kasih].

Ada pameo, selama tingkat satu siswa ATMI dilarang sakit. Jika ada pasti akan gugur di tengah jalan. Apakah memang disengaja?

Untuk tingkat satu, mereka harus melakukan kerja bangku 40 jam selama lima hari kerja atau seharinya delapan jam. Pekerjaan yang dilakukan sederhana, misalnya membuat baut dengan alat manual seperti kikir dan tanggem dengan ketelitian hingga 1/100 milimeter.

Bagi lulusan SMU cukup berat. Sebab selama kerja bangku itu siswa harus terus berdiri. Tetapi sistem ini membuat lulusan ATMI siap bersaing di pasar kerja.

Bagaimana tenaga instruktur?

Gelar tidak perlu. Instruktur yang dipakai ATMI selain pintar juga terampil. Pada 1969 instruktur kami masih dari Swiss, di antaranya Mr. W. Frick, Mr. Ruegg dan Mr. Vetterli.

Sejak 1970 selalu ada instruktur yang dikirim ke sekolah teknik di Jerman atau di Swiss a.l. Solingan, Jerman atau ke Ingenierschule St. Gallen [sekarang Fachhochschule] atau magang di perusahaan di sana.

Instruktur harus selalu mengikuti kemajuan industri permesinan. Kadang kami menolak untuk mengirim instruktur yang diundang Jerman sebab paket pendidikan yang ditawarkan di bawah standar ATMI.

Bagaimana dengan mesin untuk praktik?

Tentu terus diperbaharui. Sejak akhir 1980-an ATMI menjadi satu-satunya sekolah yang memiliki mesin Computer Numerical Control [CNC]/EDM/Wire Cut, guna membuat beragam barang, CAD/CAM [Computer Added Design/Computer Added Machine] yang canggih. Memang mahal tapi itu harus dilakukan untuk mengejar kemajuan teknik.

Saat ini komputer membuat pekerjaan menjadikan lebih mudah. Tapi kerja bangku tidak akan pernah dihapuskan. Sebab kerja bangku mengajarkan kedisiplinan, sikap percaya diri dan teliti.

Sebagai pionir pendidikan siap kerja apakah ATMI pernah diminta pemerintah untuk membangun pendidikan sejenis?

Tentu saja. Dimulai 1970, Mendikbud -saat itu Mashuri-mela-kukan kunjungan mendadak lalu dia memanggil duta besar Swiss dan meminta agar didirikan sekolah sejenis ATMI.

Berulang kali utusan ITB me-ngunjungi kami. Hasilnya pada 1975 berdiri PMS di Bandung yang berdiri dengan dana yang jauh lebih besar. PMS lalu menjadi politeknik yang diterapkan di berbagai universitas.

Sekitar 1995 bersama STM St. Mikael, ATMI diminta untuk meningkatkan 5 STM [Sekolah Teknik Menengah] di Jateng yang sebelumnya cenderung menerapkan Competency Level dari Australia a.l. STM 1 dan 2 di Solo, STM Negeri Pati, STM Pembangunan Semarang dan STM Negeri Magelang.

Satu politeknik yang berdiri dengan bimbingan ATMI adalah Politeknik Caltex, dan tiga pusat pelatihan milik PT Astra, PT Krakatau, dan PT United Can dan ADR Group.

Selain itu kami menerbitkan sertifikat bagi lulusan STM yang diakui oleh industri. Tetapi setiap kali tes tidak separuh dari peserta yang lulus tes sertifikasi.

Kalau sistem ATMI sudah menjadi dasar di banyak politeknik, mengapa tak banyak politeknik mampu mencapai keberhasilan seperti ATMI. Apa yang menjadi kendala?

Sejak 1973 kami menerapkan dual system yang diterapkan Jerman dan Swiss. Sistem in yaitu pendidikan praktik dan teori dijadikan satu dengan orientasi production-based training. Jadi produk yang dihasilkan oleh siswa dilempar ke pasar.

Di satu sisi siswa belajar untuk bekerja menghasilkan sesuatu sesuai kebutuhan pasar di sisi lain barang produksi tersebut menghasilkan keuntungan finansial untuk mensubsidi jalannya pendidikan di sini.

Apakah dengan ini bisa dikatakan pendidikan ala ATMI membutuhkan biaya yang mahal?

Oh ya tentu saja. Pendidikan siap kerja bidang teknik ongkosnya mahal kalau menerapkan pendidikan model ATMI. Karena itu production-based training harus diterapkan.

Sampai saat ini sekolah teknik atau politeknik hanya berorientasi sekolah. Mesin banyak menganggur dan tidak memikirkan produk jadi yang bisa dijual untuk membiayai operasional.

Dengan demikian kami dapat bertahan tanpa membebankan mahasiswa dengan uang kuliah yang tinggi. Sebab tidak mungkin seluruh biaya operasional dari dari siswa.

Berapa omzet produksi ATMI dalam setahun?

[Sambil tertawa] Yah, baik-baik saja sampai kini masih cukup untuk menjalankan ATMI.

(Bisnis mencatat 10 tahun lalu ATMI memiliki omzet produksi Rp3,5 miliar. Omzet itu kini sudah berlipat ganda karena permintaan tenaga lulusannya dari pasar dalam dan luar negeri terus berdatangan. Pemesannya di dalam negeri a.l. Pindad, Polytron, PT Inka, Pertamina, Coca-Cola, Daihatsu, German Motor, hingga Astra-Federal.)

Bagaimana prediksi pendidikan siap kerja tingkat diploma di Indonesia?

Tentu saja sangat diperlukan. Mengingat pembangunan di Indonesia sejak akhir 1960-an mulai dipacu ke arah industri dan meninggalkan pertanian. Sarjana lulusan perguruan tinggi banyak dan tenaga unskilled berlimpah.

Diperlukan tenaga pengisi di tengah-tengah kondisi itu. Hanya saya tidak mengerti mengapa pendidikan siap kerja ini kemudian sempat ditinggalkan oleh dunia pendidikan. Selain itu, seperti ada gejala bahwa ijazah di atas segala-galanya.

Saya bisa mengerti mengapa Pater J. Drost atau Romo Mangun berulang kali gusar dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Sayang mereka tidak pernah didengarkan.

Apakah tidak ada niat untuk meningkatkan ATMI menjadi sebuah universitas?

Untuk apa? Tujuan pendirian kami sejak awal mencetak tenaga ahli. Toh jika lulusan [ATMI] ingin meraih gelar sarjana, beberapa universitas seperti UGM atau ITB siap menampung.

Kami pernah punya pengalaman unik dalam hal ini. Di antaranya tentang akreditasi oleh Kopertis [yang begitu sulit] hingga dilarangnya kerja sama perkuliahan antara ATMI dan UGM.

Kedepannya bagaimana ATMI akan melangkah?

Kami mulai membuka kampus baru untuk jurusan mekatronika dan perancangan mekanik dan mesin yang memungkinkan perempuan untuk masuk ATMI. Tetapi khusus jurusan mesin industri, tetap tidak mungkin dimasuki perempuan.

Selain itu ATMI sejak tahun lalu juga membuka kelas Puslatek UCC, Polman Astra, ATMI Cikarang, dan D-3 Teknik Mekatronika Universitas Sanata Dharma.

*Bisnis Indonesia Edisi: 18/09/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: