it’s about all word’s

Kemenangan dua Nia di MTV Indonesia Movie

Posted on: February 20, 2008

Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya film Arisan! dan Eiffel…I’m in Love keluar sebagai film yang mendominasi perolehan di MTV Indonesia Movie Award (MIMA) 2004 yang baru pertama kalinya digelar.

MIMA 2004 adalah ajang penghargaan atas film Indonesia yang terbagi dalam 10 kategori berbeda.

Nominasi serta kategori penghargaan di MIMA 2004 seluruhnya merupakan hasil penjurian tertutup oleh 15 juri yang terdiri dari pers, pengamat dan praktisi film, artis, sutradara film dan tim MTV Indonesia.

Dua nama yang sering dipanggil Nia, yaitu Nia Dinata dan Rachmania Arunita menjadi sosok yang menonjol dalam perhelatan itu.

Arisan! yang disutradarai Nia Dinata yang masuk nominasi di 11 kategori, akhirnya menggondol tiga penghargaan untuk kategori Most Favorite Supported Actor, Best Director, dan Best Movie.

Sedangkan Eiffel…I’m in Love, film hasil arahan sutradara Nasri Cheppy yang dinominasikan di sembilan kategori, meraih tiga penghargaan untuk kategori Most Favorite Supported Actress, Most Favorite Actor, dan Most Favorite Movie.

Nama Nia Dinata dan beberapa sineas muda lainnya seperti Mira Lesmana, sejak beberapa tahun belakangan ini memang mulai menjadi identik dengan perfilman nasional

Nia mulai berkibar sejak menyutradarai Cau Bau Kan tahun 2001. Lewat film ini dia meraih penghargaan Best Promising New Director dan Best Art Director di Asia Pacific Film Festival.

Pada bulan April 2003 bersama-sama Afi Shamara, Nia menjadi produser dan meluncurkan filmnya Biola Tak Berdawai. Kemudian namanya semakin mencuat sejak Arisan di-release Desember 2003.

Film tersebut dinilai oleh banyak pihak memberi warna lain dalam dunia perfilman Indonesia sehingga banyak mendapat pujian dari kritikus film, baik dari dalam maupun luar negeri.

Dari segi cerita dan penokohan Arisan! diakui cukup kontroversial karena menampilkan kecenderungan gaya hidup ibu-ibu bersuami makmur yang kurang kegiatan dan tentu saja adegan ciuman antar pasangan gay.

Pada beberapa dialog, Nia secara sadar juga memasukkan sentilan terhadap kecenderungan indutri film Indonesia yang cenderung masih terlalu hobi mengekploitasi film-film remaja atau justru film horor.

Sedangkan Eiffel…I’m in Love adalah sinema remaja berdurasi 2 jam 15 menit yang sejak pemutaran awalnya pada November 2003 sukses ditonton sekitar 3 juta penonton.

Sebenarnya kemenangan Eiffel…I’m in Love adalah kemenangan Rachmania Arunita atau bisa dipanggil Nia sebagai penulis pemula yang sampai saat ini masih kuliah di D-3 Sastra Prancis Universitas Indonesia.

“Setelah novel Eiffel, I”‘m in Love selesai [ditulis], aku fotokopi jilid lakban sebanyak 20 eksemplar. Dan aku jual dengan harga 10.000. Ternyata novel itu banyak peminat.”

Selanjutnya, setelah laku beberapa puluh novel, Nia menggantinya dalam bentuk fotokopi jilid spiral. Waktu itu harganya naik jadi 12.000. “Ternyata semakin laku. dan aku ganti lagi jadi fotokopi jilid softcover.”

Setelah laku sekitar 150 eksemplar, Nia mendapat pinjaman uang dari orang tua untuk mencetak bukunya.

“Akhirnya, aku nyetak kecil-kecilan. Aku taruh di Gramedia Mal Pondok Indah dan Gramedia Cinere. Ternyata laku, 100 eksemplar laku terjual dalam waktu kurang dari tiga minggu di satu toko buku,” kenang Nia.

Tak seorang pun akan menyangka sebuah film sesukses Eiffel…I’m in Love ternyata pada awalnya melangkah dengan begitu sederhana dan keberuntungan itu berlanjut hingga ditemukan oleh PT Soraya Intercine Film.

Terpilihnya Surya Saputra untuk perannya sebagai gay di Arisan! sehingga meraih Most Favorite Supported Actor, sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah sebab dalam film ini Surya mampu secara total keluar dari kehidupan sehari-harinya.

Sedangkan Most Favorite Supported Actress yang diraih oleh Titi Kamal untuk perannya sebagai cewek penggoda dalam film Eiffel…I’m in Love, menjadikan Titi terkesan menjadi ‘biasa-biasa’ sebab peran yang mirip sebelumnya sudah pernah diperankannya di Ada Apa Dengan Cinta.

Catatan yang agak mengejutkan adalah diraihnya Best Crying Scene, ternyata pada akhirnya malah diraih oleh Winky Wiryawan dalam Mengejar Matahari. Dia mengalahkan tangisan bintang muda berbakat Shandy Aulia maupun artis Cut Mini yang bermain sebagai istri mandul dalam Arisan!.

Namun yang paling mengejutkan dan diluar dugaan adalah diraihnya Most Favorite Actress oleh Nirina Zubir dalam 30 Hari Mencari Cinta. Cukup mengherankan sebab secara kualitas akting Nirina sebagai karakter Gwen yang ceroboh, terlihat kekanakan, pemberani dan sedikit centil adalah sebuah keseharian karakter Nirina sebagai VJ MTV.

Untuk Most Favorite Actor akhirnya diraih Samuel Rizal untuk perannya di Eiffel…I’m in Love, hal yang sudah diduga banyak pengamat.

Kualitas vs SMS

Seperti diketahui MTV menerapkan aturan SMS terbanyak bagi seluruh kategori Most Favorite sedangkan untuk kategori Best diberikan berdasarkan penilaian dari 15 juri seperti disebutkan diatas yang juga ikut menyeleksi sejumlah film layar lebar Indonesia dari periode Januari 2003 sampai 2004.

Sutradara film kawakan Indonesia, Garin Nugroho mengatakan penghargaan MTV kepada insan film Indonesia harus dihargai sebagai sebuah upaya untuk memacu kreativitas film Indonesia.

“Lepas dari cara MTV menentukan siapa yang terbaik atau penentuan kategori yang sangat MTV sekali,”ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Menurut dia, justru dengan keberagaman penghargaan itulah yang akan memberikan pemetaan yang jelas terhadap industri film di Indonesia.

Hanya saja, lanjutnya, persoalan dari penilaian sebuah penghargaan dengan berdasarkan pesan pendek itu tidak akan dapat lepas dari pertanyaan siapa dan dari mana pesan tersebut dikirimkan.

Namun yang lebih penting dari itu adalah MTV dalam gelaran kali ini sudah dapat menarik segmen anak muda untuk memberikan apresiasi terhadap produk film dalam negeri yang harus diakui atu tidak baru saja mengalami kemunduran intelektual dengan ditarik paksanya Buruan Cium Gue dari peredaran.

Poin terakhir, secara tidak sadar dalam gelaran ini, MTV dengan basis massa anak mudanya ternyata telah memberikan perlawanan terhadap pandangan yang berbeda tentang definisi tabu adegan perciuman.

Adegan ‘haram’ yang pada Arisan! dan Eiffel…I’m in Love malah menjadi plot pelengkap tak terpisahkan bahkan memperkuat cerita kedua film tersebut. Salut MTV Indonesia.

*Terbir di Bisnis Indonesia edisi: 19/10/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: