it’s about all word’s

Keusilan cerdas dan bernas seorang Harry Roesli

Posted on: February 20, 2008

Judul: Republik Fungky Asal Usul Harry Roesli
Editor: Putu Fajar Arcana
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Penerbitan: Maret 2005
Sampul: Soft cover
Jumlah hal: xx + 266 halaman

Harry Roesli telah tiada. Namun setiap orang yang mengenal seniman ini pasti akan rindu gayanya yang khas. Harry tak hanya memberikan warna lain dari sebuah dinamika hidup melalui alunan musik, ia juga mampu menggelitik pembaca melalui tulisan yang nakal namun cerdas.

Binal, liar bahkan gila! Begitu komentar singkat orang sambil tergelak setiap usai membaca tulisan Harry Roesli dalam kolom Asal Usul di Kompas Minggu sejak Desember 2000 sampai Oktober 2004.

Orang bilang, Harry memberi warna lain dari sebuah persoalan yang dia hadirkan pada pembaca. Gaya tulisannya khas sinis menggelitik dan humoris, artinya setiap persoalan yang dia kupas selalu hadir dengan gayanya yang unik.

Gaya tersebut memang biasa kita temukan pada gaya bertutur para dalang wayang dalam adegan prolog punakawan saat mengkritisi suatu masalah. Dan tak jarang masalah yang dikritisi dalang adalah kaum bangsawan yang tentu mudah terpancing ke-aku-annya.

Artinya sebuah masalah selalu dihadirkan menjadi lebih ringan dan sederhana, sehingga nyambung dengan jalan pikiran kaum awam. Setelah mudah dimengerti, baru kemudian bangsawan di balik masalah itu yang juga penonton adegan wayang itu disentil oleh sang dalang.

Tentu saja, dengan bahasa menyentil dan lucu, sehingga tidak menimbulkan rasa marah hingga tokoh yang disentil itu merasa harus menunjukkan ke-aku-annya.

Sebetulnya gaya ini pernah dibawakan oleh beberapa orang dalam tulisan kolom di koran yang berbeda, sebut saja Prie GS dalam kolomnya di Suara Merdeka. Tentu saja dalam konteks permasalahan dan penajaman gaya penulisan yang bobotnya tidak bias disamaratakan.

Dalam hal sentil menyentil ini, Harry sudah hadir sejak sebelum era keterbukaan-bahkan disebut Harry kebablasan-euforia reformasi sedang kencang-kencangnya menggilas tatanan feodal kapitalistik yang dikembangkan rezim Soeharto selama 32 tahun.

Artinya tulisan Harry sebetulnya bukan sekedar sebagai antitesis katartasis kepenatan berpikir masyarakat di akhir pekan selama empat tahun itu. Kedalaman berpikirnya sebetulnya sudah terpercik sejak dirinya masih berstatus mahasiswa pada zaman 1970-an.

Percikan pemikiran selama kurun waktu jaman berbeda itu lah yang kemudian membuat persoalan-persoalan yang memberatkan itu oleh Harry mampu diaduk dalam deretan kata-kata menghibur tanpa harus kehilangan bobot makna di dalamnya.

Hebatnya, Harry mampu mempertahankan gaya tersebut pada 60 karya kolomnya. Artinya, Harry selalu menyederhanakan persoalan-persoalan serius dengan plesetan-plesetan tak terduga namun bernas.

Dan sering kali secara tak sadar pembaca dibawa kepleset untuk terus mencermati tulisan itu, mengerti esensi persoalan yang dibawa tanpa harus mengerutkan kening laiknya membaca karya sastra dengan bahasa berbunga-bunga.

Jika dicermati sebenarnya, dalam tulisan-tulisannya jelas tersirat keberpihakan seorang Harry Roesli pada kaum marjinal, miskin bahkan tertindas secara sistematis oleh sistem yang dikembangkan pemerintah.

Semuanya dituangkan dalam deretan kata-kata yang nakal, binal bahkan liar tetapi tetap taktis nyinyir menyentil celah persoalan yang menjadi target incarannya. Seringkali target yang disentilnya harus tersenyum masam saat membaca tulisan itu.

Alhasil, tulisan karya Harry memiliki usia yang sangat panjang. Jika boleh dikata, bisa menjadi referensi pada kondisi yang disebut sering kali de javu (berulang), tulisannya selalu eksis tak tergilas zaman seperti halnya sebuah berita.

Ambil contoh, kenaikan BBM saat ini yang begitu serius hingga memaksa para wakil rakyat baku mulut hingga dorong mendorong mirip anak play group. Harry menghadirkan tulisan yang berbeda dengan para penulis opini-zaman reformasi-yang cenderung mencaci-maki secara langsung.

Sebaliknya dengan Harry, pada dua tulisannya yang berbeda tahun pemuatan tetapi berjudul sama Harga BBM Turun. Di sana dia menyindir hobi pemerintah dalam menaikan harga BBM. Yang tentu, hobi itu akan merugikan kalangan tertindas.

Konyolnya, Harry menukas, “…mohon dipahami bersama kenapa Pemerintah Republik Beling harus menaikkan harga BBM…tidak lain tidak bukan agar kepercayaan rakyatnya semakin tebal pada pemerintahnya…bahwa mereka ini benar-benar Pemerintah Republik Beling yang habitatnya selalu menaikkan harga BBM.”

Energi total

Meski terkesan main-main, namun Harry tidak pernah main-main dalam melandaskan pemikirannya. Seringkali dalam tulisan ‘main-mainnya’ Harry mengutip karya filsuf kelas berat yang orang umum pun malas membacanya.

Tentu saja, kedalaman resensi tulisannya digabung dengan kondisi yang memang ada di kanan-kiri kehidupannya. Saat dia pasang badan pada kaum marjinal, itu karena dia memang dalam kehidupan sehari-hari selalu pasang badan. Semua orang tahu, Harry bahkan menjadi bapak bagi ratusan anak jalanan di Bandung

Pasang badan itu bukan sekadar pemerah bibir kaum politik saat kampanye yang kemudian dengan mudah melupakan jargon-jargon pembelaan kepada kaum kelas pinggiran atau rakyat jelata.

Tentu saja dari tulisan ini, kita bisa membaca kegelisahan seorang Harry terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Dan jaman memang membuktikan bahwa hanya intelektual yang gelisah lah yang mampu menjadi pemikir terdepan.

Bisa dikatakan, untuk membuat tulisannya begitu hidup Harry tidak hanya menuangkan kegelisahannya dalam rentetan kalimat, namun lebih dari itu dengan seluruh energi total miliknya. Hasilnya sebuah tulisan yang hidup, jenaka namun tetap bernas.

Dari kolom Asal-Usul terlihat jelas Harry selalu gelisah melihat seluruh kelakuan para elite yang lumrah mereka pertontonkan, mengaku taat beragama namun memanfaatkan agama untuk mengaduk massa. Mengaku peduli rakyat namun sibuk memperjuangkan mesin cuci. Didaulat massa menjadi penguasa tetapi malah sibuk menjadi pengusaha.

Tak heran, bukan hanya kelakuan DPR yang rajin tidur saat sidang yang dia sundut dengan kata-kata, tetapi nama-nama seperti Kwik Kian Gie, Mega, Gus Dur, Amien Rais, Akbar Tanjung bahkan Suharto menjadi sasaran kalimat-kalimat sarkasmenya.

Tidak hanya elite politik, kaum fanatik pun menjadi sasaran tembaknya. Lihat saja torehannya dalam Digoyang Mbak Inul adalah wujud nyata pijar pembelaan Harry kepada sosok Inul yang menjadi korban kekonyolan kaum mayoritas dengan mengharamkan gerakan pantat seorang Inul. Padahal secara langsung Harry adalah bagian dari kaum mayoritas tersebut.

Dia menulis,”Kalau saja satu kompi tentara komando yang berbaris dengan goyang pinggul Mbak Inul ini dikirim ke daerah GAM, bisa dipastikan…GAM akan lari kocar kacir! Kenapa? Lho, kan katanya goyangan Inul itu haram buat dilihat? Apalagi buat kaum fanatik semacam anggota GAM, iya kan?”

Secara langsung, tulisan ini adalah tamparan bagi kaum fanatik yang saat itu mengharamkan goyangan seorang Inul. Singkat kata, saat Anda membaca buku ini, jeli-jeli lah menangkap makna tersirat dalam tulisan itu agar tidak menjadi tumpul akhlak dan mental seperti elite politik dan kaum fanatik yang ‘dianiaya’ tulisan Harry.

*Bisnis Indonesia Edisi: 27/03/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: