it’s about all word’s

Kumpulan esai GM bagi negeri

Posted on: February 20, 2008

Judul: Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Edisi Revisi)
Penulis: Goenawan Mohamad
Penerbit: Pustaka Alvabet, September 2005

Menyebut nama Goenawan Susatyo Mohamad atau biasa disingkat GM dalam khasanah pers Indonesia berarti akan menimbulkan kesulitan tersendiri. Tak cukup dua sisi untuk menggambarkan dengan tepat sosok GM.

Satu sisi GM biasa disebut sebagai penyair, sisi lain menempatkannya sebagai motor gerakan politik Islam moderat bebas melalui Partai Amanat Nasional. Dia juga seorang aktivis pers penentang tiran kekuasaan dan tentu saja sebagai seniman esai yang jenial.

Sebagai penyair, kita tentu ingat dengan syair satirnya seperti Asmaradana, Zagreb atau Pertemuan yang romatis.

Penjelajahan lelaki kelahiran Batang sebagai aktivis pers pun tak perlu diragukan lagi. Mulai dari Harian KAMI, Majalah Horison, Majalah Ekspres dan tentu saja Majalah Tempo yang pernah dibredel pemerintah.

Sedangkan sebagai seniman esai pasti tak perlu diragukan lagi oleh insan pembaca. Tidak hanya dalam Catatan Pinggir-nya yang melegenda. Namun dalam tulisannya pembaca dipaksa untuk mengenal nama-nama pemikir Barat.

Sebut saja Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe, hingga Camus yang diajaknya berdialog dalam suasana yang hangat dan akrab laiknya teman dekat.

Dan entah kebetulan atau tidak, usai kumpulan esai sahabat GM, si ‘kunang-kunang’ Umar Kayam diluncurkan, tak seberapa lama GM pun meluncurkan kumpulan esainya.

Dalam buku ini, GM selain membicarakan pemikir Barat itu, dia juga membicarakan penulis, budayawan dan tokoh dalam negeri kita yang mungkin saja mulai terlupakan.

Pada buku ini, nama-nama seperti Pramoedya, Kayam, Cak Nur, Soedjatmoko, Ketib Anom, Putu Wijaya, Saini K.M., Sapardi Djoko Damono, S.T Alisjahbana, Subagio Sastrowardojo, Amir Hamzah, Trisno Sumardjo dan Sjahrir disorotnya dengan perangkat kritik sastra.

Sentuhan jenaka

Namun, kumpulan esai kali ini berbeda dengan buku sejenis sebelumnya a.l. Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), atau Catatan Pinggir (1982).

Esai yang berserak selama 33 tahun itu dikumpulkan dalam rentang waktu yang lebih panjang dan dengan topik maupun gaya bahasa yang beragam. Hasilnya tentu saja buku ini merupakan sebuah napak tilas perjalanan seorang GM di dunia intelektual. Tak hanya cerdas menangkap sebuah fenomena namun kritis menelaah kondisi kekinian.

Lihat saja saat dia dalam Dari Kisah Ketib Anom yang terasa sangat pas untuk kondisi sosial saat ini. Saat keyakinan seseorang yang berbeda menjadi sebuah belenggu atas kebebasan yang dia dambakan.

Begitu pula saat dia mengajak pembaca-tanpa dendam-mengenang seorang Pramoedya Ananta Toer yang sebetulnya pernah menjungkalkannya saat bersama Trisno Sumardjo, Wiratmo Soekito, Taufiq Ismail, Arief Budiman, dan H.B. Jassin mencetuskan Manifes Kebudayaan.

Namun, gaya itu berubah makin serius saat dia menulis tentang intelektualitas seorang Camus. Bukan saja membuat pembaca terpaksa mengernyitkan dahi, tapi juga harus mulai cerdas mengumpulkan referensi.

Hanya saja tidak selamanya tulisan GM serius berupa tulisan yang melulu berisi perenungan. GM juga bisa melaporkan atau mengajak pembaca ngobrol dengan santai dan jenaka atau witty. Coba tengok dalam tulisannya yang santai saat mengupas dunia komik Indonesia.

*Bisnis Indonesia Edisi: 09/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: