it’s about all word’s

Menakar sadar budaya lewat Jiffest

Posted on: February 20, 2008

Jakarta International Film Festival (Jiffest), kembali memutar film-film bagus bagi masyarakat. Tetapi apa yang khas dari perhelatan kali ini dibandingkan dengan tahun-tahun lalu?

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, gelaran kali ini tercatat sebagai ajang pemutaran film terbesar. Tercatat sebanyak 201 film terbaik dari luar dan dalam negeri akan diputar.

Wajar jika Orlow Seunke, direktur Jiffest, bertekad ajang kali ini bisa tampil beda. Paling tidak untuk menjaga mutu, film layar lebar dan dokumenter yang diputar telah mendapat nominasi atau memenangkan penghargaan dari berbagai festival film internasional papan atas.

Selain itu untuk pertama kalinya Jiffest menempatkan film dokumenter dalam satu seksi khusus. Untuk seleksinya panitia didukung IDFA, festival film dokumenter terbesar di dunia.

Film Jiffest 2005 diputar di Kompleks TIM yakni Graha Bakti Budaya, TIM 1,2 dan 3, Teater Kecil, Galeri Cipta 3, IKJ, Plaza Senayan 6, Erasmus Huis, dan Istituto Italiano di Cultura.

Di luar itu terdapat program lainnya sepertiwawancara Meet the Filmmaker/Actor untuk menyimak percakapan dengan para tokoh film seperti Archie Panjabi (aktris film Yasmin, Bend it Like Beckham) serta Aline Bonetto (art director film Amelie).

Selain itu sejumlah pembicara mancanegara sudah memastikan partisipasi mereka dalam Jiffest Script Development 2005 seperti penulis skenario kenamaan David Howard, Curtis Levy, dan Graeme Isaacs.

Dari segi mutu dan pengunjung, secara statistik Jiffest terus meningkat. Dari 1999 hingga 2004 film yang diputar selalu bertambah. Dari hanya 62 film, meningkat menjadi 133 film.

Itu belum termasuk film screening yang dari hanya 84 film meningkat hingga 290 film. Jumlah penonton juga meningkat. Tambah sesak. Dari 18.688 orang melonjak hingga 26.282 orang.

Peningkatan luar biasa terjadi pada 2000-2001, saat itu penonton mencapai lebih dari 43.000 orang. Setelah itu terjadi masa suram (2002- 2003) di mana penonton turun drastis, dari 18.823 orang menjadi hanya 7.360 orang saja. Tapi itu ditebus tahun berikutnya dengan menjaring 26.282 penonton.

Melihat Jiffest yang kerap terseok-seok itulah hati Pemda DKI luluh juga. Tahun ini Bang Yos (Gubernur DKI Sutiyoso) berbaik hati mengucurkan dana Rp1,2 miliar. Jauh dari memadai, tapi lumayan untuk menutup dana penyelenggaraan Jiffest yang kali ini melonjak luar biasa, yaitu Rp4,2 miliar!

Sayang, Kepala Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Aurora Tambunan tidak menjamin tahun depan dana serupa akan mengucur lagi.

Ketidakjelasan dana inilah yang akhirnya membuat dedengkot Jiffest dari Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia seperti Orlow dan Santy Harmayn angkat tangan. Menyerah.

“Bangsa ini memang tidak sadar budaya, bahkan cenderung sakit jiwa. Makanya tak aneh jika festival film sebesar Jiffest tak didukung pemerintah,” ujar aktris senior Jajang C. Noer.

Hal senada diungkapkan penulis Ayu Utami dan aktor senior Frans Tumbuan. Mereka menilai seharusnya Jiffest sudah dari dulu-dulu didukung penuh pemerintah.

Tak cuma komersil

Andaikan tidak secara langsung memberikan nilai komersial bagi Kota Jakarta, tapi toh dalam jangka panjang keuntungan itu bisa diperoleh melalui promosi Kota Jakarta di mata dunia.

“Tak usahlah kita mengukurnya dengan membandingkan Jiffest dengan gelaran yang sama di Korea atau di Eropa. Bandingkan saja dengan ajang di Bangkok, Filipina atau Singapura,” tutur sutradara Riri Riza.

Lantaran itu, lanjutnya, Indonesia pantas malu jika melihat kondisi festival sejenis di Asia Tenggara. Kenapa mereka bisa lebih besar dan bergairah? Tak lain berkat dukungan masyarakat dan pemerintah.

Tak urung sikap angkat tangan Orlow dan Santy Harmayn itu mengundang kritik dari seniman Noorca Marendra Massardi. Menurut dia, terlalu dini jika kedua pentolan Jiffest itu mundur sekarang.

Dia membandingkan International Singapura Film Festival yang didukung pemerintah, setelah 10 tahun berjalan secara mandiri. Jadi, jelasnya, terlalu kekanak-kanakan kalau Jiffest harus berhenti gara-gara dana.

Sejak awal seharusnya mereka sudah sadar jika perfilman Indonesia hanya bisa maju melalui orang-orang film. Dan untuk memajukan itu tentu bukan gampang.

Tahun ini tampaknya Jiffest sudah menorehkan catatan baru yakni keterlibatan dedengkot industri film Indonesia yakni Ram J. Punjabi yang mendirikan Yayasan Putra Jethmal.

Menurut Ram, yayasan itu didirikan dengan komitmen untuk mengembangkan perfilman Indonesia. Misalnya dengan mengirim pekerja film ke luar negeri untuk memperluas pengetahuan mereka tentang pembuatan film, pendanaan seminar dan lokakarya, termasuk penyediaan salinan film yang bersangkutan dengan teks bahasa Inggris.

Sebuah angin segar bagi Jiffest. Setidaknya sudah ada pihak-pihak yang mau mengucurkan bantuan bagi kemajuan film Indonesia.

*Bisnis Indonesia Edisi: 04/12/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: