it’s about all word’s

Mengenang Kobe agar tak lengah

Posted on: February 20, 2008

Setiap tanggal 1 September, masyarakat Jepang memperingati Hari Kewaspadaan Bencana Alam. Hari itu diambil untuk mengenang gempa yang merenggut 143.000 jiwa penduduk Tokyo dan Yokohama pada 1923.

Pada hari itu semua orang, sekolah, hingga perkantoran menyelenggarakan simulasi kewaspadaan dan tindakan yang harus dilakukan jika terjadi bencana gempa bumi. Dalam kegiatan ini seluruh personel keamanan dilibatkan secara aktif.

Tak heran sebab Jepang adalah negara kepulauan yang sering diguncang gempa permukaan hingga gelombang raksasa. Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang.

Dengan pelatihan yang rutin dan serius, anak-anak hingga orang tua di Negeri Sakura itu selalu siap menghadapi kejadian gempa. Didukung pula oleh teknologi yang mumpuni sehingga Jepang begitu ‘terlatih’ menghadapi amarah alam.

Tapi tetap saja menusia memiliki keterbatasan. Buktinya, sepuluh tahun silam, tepatnya 17 Januari, negara itu harus mengalami pil pahit dengan kehilangan 6.500 warganya di Kobe saat kota itu diguncang gempa berskala 7,2 Richter hanya dalam 20 detik. Tak hanya Kobe, enam kota lainnya juga ikut digoyang.

Akibatnya sungguh luar biasa, Tercatat 46.440 rumah dan gedung rata dengan tanah, jalan dan jembatan hancur, jaringan listrik, gas dan komunikasi lumpuh total. Sekitar 25.000 korban luka-luka, 310.000 lainnya kehilangan tempat tinggal.

Ibu kota prefektur Hyogo itu lumpuh dihajar gempa yang dijuluki Great Hansin itu.

Teknologi antigempa Jepang seolah porak poranda, padahal struktur bangunan sudah dirancang sedemikian rupa, dilengkapi kaki-kaki pilar gedung agar mampu mengantisipasi gempa sekuat 3-7 skala Richter.

Belum lagi dengan sistem peringatan dini 24 jam terhadap gempa bumi dan tsunami di tepi pantai Pulau Kobe.

Bergerak cepat

Jepang memang berduka, tapi semua lini langsung bergerak cepat sehingga dalam waktu seminggu keadaan di lapangan sudah dapat diatasi oleh pasukan bela diri, dibantu polisi, pasukan pemadam kebakaran, hingga relawan.

Ibaratnya, sistem operasi prosedur (SOP) penanganan bencana sudah begitu mereka kuasai.

Indonesia memang bukan Jepang. Gempa yang diikuti tsunami di Aceh dan Sumut berada dalam cakupan wilayah yang lebih luas.

Jangan pulalah menganggap bangunan di wilayah korban gempa itu semuanya sudah ‘tahan banting’. Apalagi menyoal sistem peringatan dini, kecuali bagi masyarakat yang sudah bisa mengenal tanda-tanda alam sebelumnya secara tradisional.

Ketidaksiapan bangsa ini dalam menghadapi bencana alam-terutama gempa dahsyat dan tsunami-cukup hanya di Serambi Mekkah saja. Jangan terulang lagi.

Benahi lagi SOP penanganan pascabencana. Tak perlu saling tuding. Kalau memang manajemen penanganannya masih payah dan lamban, cari terobosan baru. Hindari tumpang tindih koordinasi di lapangan.

Gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut harus menjadi momentum bagi pemerintah sebagai refleksi diri. Program dan langkah memang sudah diambil, namun terbukti belum cukup untuk mengobati dan menyembuhkan wilayah korban bencana.

Pascabencana tsunami, orang baru sadar bahwa cukup banyak masukan kepada pemerintah-khususnya dari kalangan universitas dan lembaga penelitian-untuk mengantisipasi bencana alam, termasuk penerapan teknologi sistem peringatan dini.

Ironisnya lagi, meringankan penderitaan sesama di negeri ini ternyata bukan persoalan mudah. Arus bantuan yang terus mengalir sempat menggunung begitu saja di bandara atau pelabuhan.

Buruknya koordinasi itu masih juga dimanfaatkan orang usil dengan menghembuskan isu miring yang sangat tidak produktif dalam penanganan pasca bencana. Aceh seolah menjadi wilayah yang harus dijauhi.

Indonesia memang harus banyak belajar dan belajar. Tak terkecuali pers.

Tengoklah kembali media massa Jepang yang juga memikirkan pentingya kearifan dalam hal pemberitaannya.

Mereka paham, dari sisi bisnis, bencana adalah sebuah obyek yang menarik untuk ‘dijual’. Namun disisi lain mereka dituntut untuk menghindari bangkitnya trauma mereka yang ditimpa bencana dan menumpulkan perasaan penonton atau pembacanya.

Media Jepang sadar pentingnya mengendalikan informasi yang seharusnya tidak pantas disampaikan kepada masyarakat yang tidak mengalami bencana.

Tidak heran, jika kemudian seluruh masyarakat Negeri Matahari Terbit itu selalu serius untuk mengingat dan memetik pelajaran berharga terhadap apa yang sudah terjadi sepuluh tahun silam di Kobe.

Kita pun kehilangan banyak handai taulan akibat bencana di Aceh serta Sumut. Sekali lagi, seharusnya ini menjadi pelajaran dan bukan untuk dilupakan.

*Bisnis Indonesia Edisi: 17/01/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: