it’s about all word’s

Menghindari kematian pabrik gula dengan inovasi

Posted on: February 20, 2008

Judul: Dari Pabrik Gula menuju Industri Berbasis Tebu
Penulis: Rama Prihandana
Penerbit: Proklamasi Publishing House
Cover: Hard Copy
Halaman: ix, 194 halaman
Cetakan: 2005

Jika biasanya orang mengatakan untuk tidak menilai buku hanya dari kulitnya, maka hal sebaliknya harus terjadi pada buku ini. Alasannya hanya satu, sebab Rama Prihandana adalah pemain langsung dari industri yang dijadikannnya bahan ulasan buku ini.

Hanya saja, sejak awal Rama sudah memilih untuk merendahkan diri dengan mengatakan waktu dan pengetahuannya relatif terbatas untuk membahas dunia yang dia geluti secara aktif dua tahun tersebut.

Namun justru inilah yang menjadikan buku ini menarik untuk dicermati. Sebab dia mampu menuangkan sebuah persoalan rumit menjadi susunan kata-kata yang relatif mudah untuk dicerna dan membuat pembaca awam lebih paham terhadap persoalan gula.

Dan, hal yang tidak dapat dibantah adalah muatan gambar-gambar yang lebih ‘berbicara’ lebih banyak dibandingkan deretan kata-kata yang memusingkan pembacanya.

Kita tahu persoalan gula adalah salah satu pokok perhatian di dunia, dan hanya Indonesia saja yang memilih untuk memarginalkan persoalan gula. Seringkali langkah yang diambil adalah langkah-langkah jangka pendek seperti impor yang sangat menghantam industri gula dalam negeri.

Pendek kata pemerintah lebih cenderung untuk memanjakan konsumen yang selalu berharap mendapatkan gula bermutu baik sekaligus murah. Di sisi lain ada jerit nasib petani dan produsen.

Akhirnya petani dan produsen pun bekerja setengah hati dan terjebak dengan rutinitas tanpa ada keinginan untuk memikirkan cara untuk menciptakan gula bermutu tinggi dengan harga yang murah.

Rama pun secara jujur mampu menelisik kondisi umum produsen gula yang tidak kuasa menekan harga produksi gula seredah mungkin. Alasannya tak lain adalah masih digunakannya mesin yang rata-rata berumur tua.

Dalam hal ini Rama memiliki pendapat pribadi “Selain merawat alat-alat produksi, pabrik juga mesti melakukan banyak inovasi…tidak hanya berupaya menghasilkan gula yang lebih banyak serta lebih bermutu, tetapi juga produk-produk di luar gula.”

Meski begitu, dia menegaskan perlunya dukungan pemerintah pusat dan daerah terhadap industri ini. Dia mencontohkan Thailand dan Uni Eropa yang sukses menjadi produsen terkemuka gula karena didukung penuh pemerintahnya.

Alasannya jelas, kehadiran sebuah pabrik gula di sebuah daerah bukan hanya memberikan kontribusi berupa pajak dan restribusi. Lebih dari itu, pabrik gula mampu menyerap ribuan tenaga kerja dan menghidupkan perekonomian di daerah yang bersangkutan.

Subsidi dan inovasi

Salah satu jalan keluar yang ditawarkan Rama untuk mengetaskan keterpurukkan industri gula di tingkat hulu, yaitu kredit bersubsidi yang merupakan modal usaha bagi petani seperti untuk membeli alat kerja, pupuk hingga varietas tebu.

Sedangkan alasan tentang alat-alat tua yang menjadi momok pabrik gula untuk efisiensi ternyata di tingkat lapangan secara swadaya sudah diatasi oleh beberapa pabrik yang berujung berkurangnya biaya pokok yang mesti dibayar.

Namun persoalan yang paling mendasar adalah rendahnya harga tebu di tingkat petani, akibatnya petani enggan untuk menanam tebu. Di sejumlah pabrik gula yang masih beroperasi bahkan menjadi persoalan yang sangat mengganggu.

Sebab dengan minimnya pasokan tersebut maka biaya produksi yang harus dikeluarkan menjadi sangat tidak efisien. Alasannya adalah dengan jumlah tebu yang terbatas maka akan ada kapasitas produksi yang terbuang.

Selain itu, Rama memberi alasan lain seperti berkurangnya bagas (ampas tebu) yang merupakan bahan bakar dalam proses produksi di pabrik-pabrik gula. Belum lagi produksi ekonomi lain seperti daduk (daun kering) dan pucuk tebu.

Yang tidak bisa dilupakan dan merupakan hasil produksi yang bernilai ekonomis sangat tinggi yaitu tetes tebu. Tanpa bahan baku yang cukup maka tetes tebu yang dihasilkan belum mencapai nilai ekonomis.

Untuk mengatasi hal tersebut penulis memberikan pilihan yang sangat mendesak yaitu inovasi atau mati, begitu kutip Rama dari buku Gede Prama sebagai satu-satunya pilihan industri gula nasional.

Alasannya cukup jelas sebab untuk bertahan dengan guyuran gula impor dan ilegal, industri gula harus profesional, efisien dan pintar-pintar mencari celah. Celah tersebut berupa memproduksi barang-barang yang bisa dijual selain yang sudah disebutkan di atas.

Dalam buku ini Rama memberikan contoh, seperti pemanfaatan lahan yang tidak bisa ditanami tebu dengan tanaman lain, hewan ternak dari petani binaan, kolam ikan hingga memproduksi pakan ternak dari sisa tanaman tebu untuk diekspor.

Kekurangan dari buku ini adalah, tidak cukup mewakili dan menggambarkan kondisi pabrik gula lain secara detail. Sehingga akan ada kesan buku ini adalah semacam buku yang menyuarakan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) semata.

*Bisnis Indonesia Edisi: 13/03/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: