it’s about all word’s

Mengurai benang kusut bisnis properti

Posted on: February 20, 2008

Judul: Bisnis Properti Menuju Crash Lagi?
Penulis: Panangian Simanungkalit
Penerbit: Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI)
Halaman: xiiv + 390 halaman
Cetakan: September 2004

Industri properti Indonesia pascakrisis ekonomi mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) mencatat, selama periode 2000-2007 nilai kapitalisasinya mencapai Rp320 triliun, hampir tiga kali lebih besar dibandingkan dengan sebelum diterjang krisis moneter.

Perkembangan itu di antaranya ditandai dengan pembangunan 40.000 unit apartemen baru, 250.000 unit kios, ruko dan 7,3 juta meter persegi ruang pusat perbelanjaan baru yang kebanyakan dibangun di kawasan-kawasan strategis.

Di tengah-tengah pertumbuhan tersebut kemudian muncul kekhawatiran terpuruknya kembali bisnis properti akibat euforia pembangunan yang tidak dilandasi kemandirian.

Kekhawatiran itulah yang mendorong penulisan buku ini. Panangian, yang banyak mengamati properti nasional ini, menguraikan perjalanan bisnis properti di Indonesia dari tahun 1988 sampai saat mengalami keterpurukan pada 1998, dan perkembangannya kemudian.

Mengawali pembahasannya, diuraikan tentang kebangkitan bisnis properti nasional dan peranannya dalam pemulihan ekonomi Indonesia.

Panangian melihat gejala menarik dalam perkembangan bisnis properti pascakrisis yaitu terjadi gejala anomali yakni ketika suku bunga perbankan masih tinggi para pemain bisnis properti sudah sibuk berekspansi dan proyek tersebut sepertinya selalu diserbu pembeli.

Kemudian terjadi gejala decoupling (pemisahan) antara laju pertumbuhan bisnis properti dengan perkembangan politik. Hiruk pikuk di pentas politik yang dulu selalu merupakan faktor pengganggu bisnis properti kini tidak lagi dihiraukan para pengembang. Terbukti di sela-sela pelaksanaan pemilu mereka tetap meluncurkan proyek barunya.

Selanjutnya dibahas mengenai kemungkinan yang bisa mendorong terjadinya crash kembali dalam bisnis properti nasional.

Bukan pemicu krisis

Dalam skala yang lebih luas, penulis yakin bisnis properti akan terhindar dari crash dan tidak akan menjadi salah satu faktor pemicu kembalinya krisis ekonomi.

Bahkan sebaliknya, bisnis properti sudah menunjukkan sebagai penggerak pemulihan ekonomi nasional.

Jadi, meski pertumbuhan bisnis properti sangat fenomenal, yang akan terjadi adalah soft landing. Bukan crash yang akan mengguncangkan seluruh sendi perekonomian nasional.

Bab tiga menggambarkan kilas balik industri properti Indonesia. Seperti ramainya pemilik bank bermain ke sektor properti hingga disebut konglomerasi di bisnis properti. Hingga disebutkan masa dimana bank dan pengembang melakukan kawin terselubung untuk melahirkan proyek properti.

Untuk mendapatkan modal hal tersebut didukung pengawasan operasional Bank Indonesia saat itu masih di bawah pengaruh kekuasaan pemerintah. Sedangkan untuk membayar utang, pengembang mencatatkan sahamnya di pasar modal.

Imbasnya para pengembang pun sampai harus mendirikan bank untuk mempermudah mendapatkan modal bagi proyek-proyeknya. Semua itu karena begitu mudahnya segala perizinan baik di sektor properti, perbankan, pasar modal.

Sedangkan pada bab terakhir diuraikan sejumlah gagasan dan rekomendasi terhadap pemerintah di sektor properti untuk menjaga stabilitas bisnis properti nasional.

Di antaranya adalah perlunya pembangunan perumahan rakyat dan wacana pendirian Secondary Mortgage Facilities (SMF), sebuah lembaga keuangan pengelolaan sumber dana jangka panjang untuk pembiayaan kepemilikan rumah. Keberadaan lembaga ini terbukti berhasil di Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Sebenarnya, menurut dia, lewat APBN subsidi untuk membantu para konsumen RSS telah tersedia tahun 2003 untuk 150.000 unit RSS Rp 450 miliar dan 2004 untuk 200.000 unit RSS menjadi Rp 650 miliar.

Akan tetapi kebijakan pemerintah tersebut seolah-olah ‘mandul’ untuk merangsang tumbuhnya para pengembang kecil yang biasa menggarap pembangunan RSS. Hal ini disebabkan tidak adanya deregulasi pemerintah yang benar-benar berpihak ke golongan menengah ke bawah, tandas dia.

*Bisnis Indonesia Edisi: 23/01/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: