it’s about all word’s

Muramnya Serambi Mekkah

Posted on: February 20, 2008

Kondisi Aceh pascagempa dan tsunami sulit dilukiskan dengan kata-kata. Korban tewas tak tanggung-tanggung, hampir 80.000 jiwa, termasuk di kepulauan Nias, Sumut. Wartawan Bisnis Algooth Putranto yang berada di Banda Aceh-Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam-dari 29 Desember 2004 sampai 2 Januari 2005 menuliskan pengalamannya dalam seri tulisan yang dimulai hari ini.

Sedih, sebal dan lelah adalah gambaran suasana selama perjalanan menuju Banda Aceh. Sejak saya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Rabu pukul 05.00 WIB pekan lalu, muramnya Aceh sudah meruap di bandara internasional tersebut.

Baru sedetik pantat ini menyentuh kursi di ruang tunggu bandara, isak tangis Nurullah yang gontai dipelukan adiknya membuat suasana Soekarno-Hatta makin muram.

Ternyata ibu dua anak balita ini hingga 28 Desember belum juga mendapat kabar tentang suaminya yang bertugas di Pelabuhan Krueng Raya yang bersih disapu ganasnya gelombang tsunami, Minggu, 26 Desember.

“Terakhir dia [Mahmud Ishak] baru memberi kabar sebelum Sabtu [25/12]. Dia masih sempat berkata kalau malam itu suasana di tempat dia bertugas sangat indah karena sedang terang bulan,” ujarnya sambil terus terisak.

Sejak saat itu hingga kini Mahmud Ishak sudah tidak memberikan kabar apapun kepada keluarga di Jakarta atau rekan sejawat di Aceh.

Lain lagi dengan Samrizal asal kota pantai Meulaboh, Aceh Barat, yang mengaku belum menemukan cara untuk dapat menuju tempat asalnya yang hingga hari ketiga pascabencana belum dapat dicapai melalui jalur darat.

“Saya sempat berpikir untuk mencoba lewat Medan tapi kabar terakhir mengatakan jembatan menuju Meulaboh roboh di tiga tempat,” seraya menunjuk lokasi rumah keluarganya yang berada tepat di tepi pantai Meulaboh.

Kalau sedih, lanjutnya, tentu saja dirinya sangat sedih namun yang lebih penting bagaimana bisa segera mencapai Banda Aceh dan bertemu sanak saudara yang mungkin masih tersisa
Sam menuturkan keluarga besarnya selain tinggal di Meulaboh, ibu dan adik-adiknya, tinggal di Banda Aceh dan Lhokseumawe. Sam sendiri adalah satu-satunya anggota keluarga yang tinggal di luar Aceh. Di Jakarta dirinya bekerja sebagai supir sebuah jasa pengantaran barang.

Sementara itu menjelang keberangkatan saya, kebijakan maskapai Garuda Indonesia memberikan diskon sebesar 50% kepada calon penumpang yang memiliki saudara di Banda Aceh ternyata membuat suasana counter pelayanan boarding pass menjadi cukup amburadul. Ditambah dengan adanya kasus tempat duduk ganda (double seat), maka keributan antarpenumpang makin menjadi-jadi.

Tapi masalah belum selesai. Ternyata penumpang harus kesal karena semua penerbangan pagi itu harus ditunda untuk waktu yang belum ditentukan. Alasannya tidak lain karena Bandara Polonia Medan diprioritaskan bagi pesawat pengangkut bantuan logistik.

Patut dipuji Garuda kemudian berinisiatif memindahkan jalur Jakarta-Medan-Banda Aceh menjadi Jakarta-Batam-Banda Aceh. Hanya saja setelah transit di Batam, lagi-lagi keberangkatan pesawat harus tertunda karena Bandara Iskandar Muda penuh.

Hampir sembilan jam waktu yang harus ditempuh untuk mencapai Banda Aceh. Padahal dalam kondisi normal seharusnya hanya ditempuh dalam waktu dua jam.

Seperti sudah diduga saat turun dari pesawat yang menyambut bukanlah wajah sumringah petugas penyambut namun wajah-wajah kusut dan kuyu calon penumpang yang ingin secepatnya meninggalkan Banda Aceh.

Sudut lain adalah pemandangan wajah lelah pasukan Brigadir Mobil dan Paskhas TNI AU yang di-BKO (bawah kendali operasi) untuk menjaga bandara. “Sudah tiga hari ini kami kurang tidur, jumlah kami sangat terbatas untuk menjaga bandara yang penuh manusia ini.”

Di pintu keluar seorang Brimob asal Polda Metro Jaya menyapa ramah saya. Dia mengaku kompinya baru kehilangan sekitar tujuh orang yang menjadi korban tsunami lalu.

“Pasukan organik sudah tidak ada yang di tempat, mereka rata-rata sedang sibuk mencari anggota keluarganya yang hilang,” paparnya. Akibatnya, menurut dia, sejak bencana terjadi, banyak kantor Polsek lumpuh total atau ditempati pengungsi.

Tak salah penuturannya, di muka bandara, sebuah kantor Polsek juga dipenuhi pengungsi. Tak tega mengusir, polisi memilih untuk menyewa warung makan di belakang Polsek itu dengan harga Rp2 juta per hari dari harga yang diminta oleh pemilik Rp6 juta per hari.

Hal yang sama juga terjadi pada harga sewa kendaraan. Untuk motor roda dua harga sewanya sekitar Rp1,2 juta sehari, mobil jelas lebih mahal. Selain itu mobil jelas sangat terbatas untuk menyusuri jalan-jalan yang masih dipenuhi sampah.

Dengan alasan kepraktisan, saya memilih menyewa motor roda dua, setelah itu bersama fotografer langsung menuju ke Banda Aceh.

Sepanjang perjalanan di kiri dan kanan jalan banyak ditemui masjid, sekolah, rumah penduduk hingga warung menjadi tempat penampungan pengungsi.

Saat saya berkunjung, para pengungsi dengan raut senyum menyambut. Meski begitu tetap saja di antaranya menampakkan raut muka trauma pascabencana.

Muhammad Hamid, petugas penampungan di SD I Blang Bintang, Aceh Besar, mengatakan kesulitan utama di posko sepanjang wilayah ini adalah minimnya logistik dan obat-obatan.

Menurut dia, sejak hari pertama, iring-iringan kendaraan pengangkut logistik selalu langsung ke Banda Aceh, padahal sekitar 80% penduduk kota sudah mengungsi ke daerah luar kota yang lebih tinggi.

Kuburan massal

Melewati Cot Monraya-Bolera, Banda Aceh, bau anyir makin kencang merajalela di udara. Rupa-rupanya di desa ujung mulut Desa Bada-Ingin Jaya dipilih menjadi tempat penguburan massal korban tsunami.

“Masalah terberat dan sangat mendesak adalah tenaga evakuasi korban tsunami. Banyak di antara mayat yang sudah meletus sehingga baunya sangat busuk,” papar Bripka Suhardi dari Satuan Brimob Polda Kalbar.

Suhardi memaparkan di Kecamatan Ingin Maju ini menurut rencana akan dimakamkan sekurangnya 4.000 mayat. Tempat lain yaitu di Lhoknga, Darussalam dan Darul Imarah juga disiapkan kuburan massal berkapasitas sama.

Di sela-sela penjelasan itu sengatan bau busuk makin kental bercampur dengan parfum yang diteteskan di masker yang Bisnis kenakan seiring datangnya dua truk Marinir pengangkut mayat.

Lebih kurang sepuluh mayat dalam kondisi membusuk tampak tergolek begitu saja, sebagian lagi terbujur kaku dalam body pack berwarna kuning. Soal bau, jangan tanyakan lagi.

Jangan harapkan perlakuan sepantasnya kepada mayat-mayat itu, mayat-mayat itu dilempar begitu saja dari atas truk ke lubang besar kemudian didorong oleh traktor. Kadang malah tidak langsung ditimbun tanah untuk menunggu mayat lain datang.

Cukup mengejutkan saat mendengar bisik-bisik di antara mereka tentang adanya penembakan terhadap anggota Marinir yang sedang melakukan evakuasi di Penayung, Banda Aceh.

Bahkan sehari sebelumnya sekitar 10 tentara terjebak di Lhoknga saat mengevakuasi mayat di sekitar wilayah perbukitan Gle Cilee, Desa Lamcrud dan Kaupe Bieng.

Entah kebetulan atau tidak, sekitar 10 menit perjalanan ke arah Banda Aceh ternyata beberapa anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) baru saja menarik pajak dari masyarakat di tempat itu.

“Seperti biasanya mereka selalu mengambil kesempatan saat aparat lengah, tapi masak dalam keadaan seperti ini [bencana] kok ya masih mengambil kesempatan,” ujar seorang Marinir.

Karena kondisi sudah menjelang senja, Bisnis memilih untuk terlebih dahulu melaporkan posisi dan kondisi di lapangan ke Jakarta, beruntung hari ini listrik baru saja berfungsi, itu pun hanya di daerah Blang Bintang.

Hanya saja seluruh jaringan telepon genggam masih tidak berfungsi, sedangkan warung telekomunikasi yang buka menurut penduduk setempat baru di bandara saja. Alhasil akhirnya saya harus berpisah dengan fotografer Endang Muchtar yang bertugas mencari tempat untuk menginap malam itu.

Sepanjang perjalanan yang gelap gulita itu ditambah lampu motor yang remang-remang berbagai cara dilakukan untuk menyibukkan pikiran. Sebab untuk mencapai bandara sama artinya harus melintasi kembali kuburan massal yang berbau menyengat itu.

Makin dekat lokasi itu makin ngawur saja hal yang melintasi pikiran. Doa yang sudah lama tidak dipercayai, oleh saya dengan terbata-bata sebisa mungkin disebut, sambil mata diusahakan melotot ke depan agar ekor mata tidak tergoda melirik ke tumpukan mayat di pinggir jalan. Sayangnya bau busuk itu tetap serasa membekap nafas dan mengantar aroma kematian ke paru-paru.*Bisnis Indonesia Edisi: 03/01/2005

Muramnya Serambi Mekkah (2)

Kamis pagi, empat hari setelah bencana tsunami, usai menyantap menu mie instan, saya bersama fotografer langsung tancap gas ke Ibukota Banda Aceh. Rupa-rupanya pasar tradisional di Bolera yang berada di pinggiran kota Banda Aceh sudah mulai buka.

Padahal, belum sampai sehari, di ujung jalan pasar itu merupakan pusat pengumpulan mayat yang meski sudah disingkirkan masih saja berbau busuk.

Rata-rata harga barang yang dipatok di pasar itu relatif tinggi. Beras 15 kg misalnya, dijual Rp80.000-Rp100.000. Telur ayam kampung per butir Rp1.000-Rp1.500, seikat bayam seukuran kelingking Rp20.000-Rp25.000, segenggam bawang putih Rp30.000-Rp50.000.

Menurut beberapa pedagang, harga-harga itu tinggi karena biaya pengangkutan yang mahal akibat tingginya harga BBM yang langka. Benar juga, sebelum lokasi Pem-bangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Lueng Bata, sudah tampak antrian pembeli.

Beberapa orang-orang yang sedang antri itu menuturkan untuk mendapatkan satu liter bensin mereka harus antri sejak pukul 05.00 dengan harga per liternya Rp3.000-di tingkat pengecer mencapai Rp10.000. Itu pun dibatasi pengambilannya untuk motor maksimal empat liter dan mobil hanya tujuh hingga 10 liter.

Mencapai Simpang Surabaya, belasan mayat yang tak utuh lagi dan membusuk terbujur di sisi kanan jembatan. Menurut Amin Lunde, relawan dari Politeknik Lhokseumawe cabang Banda Aceh, selain sulit mengevakuasi mayat yang terjepit tumpukan kayu di bawah jembatan, yang menjadi masalah terbesar adalah minimnya kendaraan pengangkut mayat.

Sering memang truk-truk milik tentara atau dengan personelnya kadang berada di atap melintas cepat meninggalkan debu sambil membunyikan klakson, tetapi truk-truk itu pun sudah dijejali mayat membusuk yang diangkut dari tengah kota.

Amin sendiri sejak dua hari lalu bersama 18 kawan kampusnya dan enam orang dari STIMI bekerja keras mengevakuasi mayat dengan hanya bermodalkan semangat dan alat-alat seadanya. Yang menyedihkan kadang tidak tersedia peralatan yang penting sebagai pelindung kesehatan pribadi semacam sarung tangan plastik atau mas-ker penutup hidung.

Sepatu dan kaus kaki pun sejak hari pertama mengevakuasi korban tidak pernah mereka ganti, padahal setiap kali mereka turun ke bawah jembatan setiap kali pula sepatu mereka basah oleh air yang bercampur daging mayat membusuk.

Saya dan Endang sempat turun ke bawah jembatan tersebut dan melihat tumpukan kayu sepelukan orang dewasa, meja kursi, pecahan-pecahan kapal bercampur baur dengan bangkai manusia. Agaknya perlu mental yang lebih keras dari baja untuk tetap waras usai berjibaku dengan serpihan daging-daging mayat busuk.

Memasuki pusat tengah kota Banda Aceh, bertumpuk mayat wanita, pria hingga anak-anak yang sebagian terbujur tanpa penutup tampak bergeletak di tengah atau pinggir jalan. Rata-rata kondisi mayat itu sudah membengkak atau malah sudah meledak menyebabkan ceceran darah kental membekas di jalanan.

Banyak pula mayat yang belum bisa dikeluarkan dari reruntuhan bangunan, banyak pula tubuh-tubuh busuk di dalam toko-toko yang tertutup membuat nafas makin sesak saja mencari udara bersih.

Di ujung persimpangan sejuntai kabel listrik masih menghalangi jalanan. Di sudut jalan berpuluh tentara berkumpul di markas Kodim yang masih utuh dan pusat koordinasi.

Tetap kokoh

Meski begitu, ‘pusaka’ Banda Aceh-Masjid Raya Baiturrahman-masih berdiri kukuh, kerusakan sedang hanya terjadi pada menara masjid, padahal mal Geunta Plaza yang berada di sebelahnya sebagian malah sudah roboh.

Tak seberapa jauh, keajaiban juga terjadi pada Gereja Katolik Hati Kudus yang terletak di ujung Jembatan Pirak yang hanya kehilangan puncak menara loncengnya, padahal selain persis berada di pinggir sungai Krung Aceh, di seberangnya ada Plaza Pasti Pirak yang dua pertiganya sudah rata.

Tercatat sekitar sembilan kecamatan di Kotamadia Banda Aceh atau 160 desa praktis hancur, sedangkan enam belas desa di kawasan Ulee Lhee menjadi laut.

Melaju ke arah Kodam Iskandar Muda yang dipenuhi lumpur kering, Bisnis menjumpai kapal Jasa Ikan Terbang yang ‘parkir’ di Hotel Medan.

Di mukanya bertumpuk lumpur kering, sibuk hilir mudik beberapa orang mencari sisa-sisa barang-barang milik hotel itu untuk diselamatkan. Sepasang suami istri nampak sedang mencuci kendaraan miliknya yang berlumuran lumpur kering.
Mayjen Adam Damiri, Komandan Satuan Tugas Bantuan Penanggulangan Bencana Alam NAD, mengaku masih bertanya-tanya jalur yang dilalui kapal ini.

“Coba lihat di sekitar kita, semua kabel listrik tidak ada yang putus. Logikanya seharusnya putus dilabrak kapal ini. Atau malah air laut lebih tinggi dari tiang listrik,” tanyanya.

Maju lagi menuju Jembatan Penayung yang disumbat bangkai kapal dan mayat manusia. Secara kasat mata bisa dilihat seluruh bangunan seperti Lembaga Pemasyarakatan Kedah dan Pasar Serba Guna Na Sabe di tempat itu rusak parah atau benar-benar roboh. Dua kapal tradisional masih menyangkut di dinding bangunan yang pada saat bencana ramai disesaki penjual dan pembeli.

Tidak beberapa lama seorang ibu dan anak yang mengaku berasal dari Medan sambil terbata-bata mencoba mengenali delapan mayat yang terbujur di atas aspal. Namun sia-sia saja usaha mereka sebab mayat itu sudah terlalu rusak untuk dikenali.

Karena jalan menuju Darrusalam dan Ulee Lhee masih tertutup, Bisnis mencoba jalur kawasan elit Nyak Arif untuk menembus ke Krueng Raya. Namun baru mencapai muka Gedung Gubernur NAD lagi-lagi barisan mayat yang belum terangkut seakan memohon untuk segera dikebumikan dengan layak.

Beruntung saat gelombang datang, sekolah dan kantor masih dalam kondisi libur. Andai bencana datang pada hari normal, bisa dibayangkan besarnya korban sebab di wilayah itu perkantoran pemerintah, pusat ekonomi hingga sekolah terkonsentrasi.

Baru saja melalui markas Brimob Yeulingkei, lagi-lagi kami harus berbalik arah karena setiap lima meter kendaraan harus dituntun atau diangkat untuk menghindari tumpukan kayu dan mayat yang berserak.

Ada perasaan geram saat mendengar penjelasan dari polisi maupun tentara yang berjaga hari itu bahwa penjarahan masih marak terjadi. Sasarannya tak lain adalah toko-toko dan rumah yang ditinggal penghuninya, baik untuk mengungsi maupun karena ‘diungsikan’ oleh gelombang air.

Rasa marah makin menjadi saja saat mendengar ke-luhan beberapa warga pengungsi yang mengaku ada oknum yang menjual beras sumbangan.

RS dan pengungsi

Memutar ke arah Nyak Makam, kami menuju satu-satunya rumah sakit Kesehatan Komando Daerah Militer (Kesdam) Iskandar Muda yang masih berfungsi. Di RS Kesdam, 30 dokter RSCM Jakarta pimpinan dokter Aryono Pusponegoro bermarkas.

Selain relatif jauh dari titik terakhir gelombang tsunami digunakannya RS Kesdam tak lain karena RSU NAD dr. Zainal Abidin tidak berfungsi sebab tertutup lumpur tebal.

Baru setapak memasuki koridor rumah sakit, bau anyir dan erangan sudah membuat hati terasa tidak menentu. Sepanjang gang-gang pasien bergelimpangan begitu saja di lantai dengan beralaskan tikar atau di atas kasur lapangan.

Beberapa di antara pasien dengan tubuh penuh luka sedang menyuapkan mie instan ke mulutnya. Mereka mengaku hampir empat hari ini menu yang disantap tidak pernah jauh dari air putih, mie instan, ikan asin dan nasi.

“Di sini dokter banyak, tapi perawat, obat dan makanan tidak ada. Yang terutama itu makanan dan air minum yang bersih. Bagaimana orang bisa sehat kalau tidak ada makanan yang bergizi,” ujar dr. Hardiono Pusponegoro dari Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Di tengah perjalanan ke arah masjid Ulee Kareng yang menampung sekitar 1.000 pengungsi, saya bertemu Tim Kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang yang sudah tiga hari berkeliling seputar kota.

“Koordinasi tidak ada. Karena itu lebih baik kami terus berkeliling untuk langsung menyentuh korban, terutama anak-anak yang daya tahan tubuhnya paling lemah,” ujar kepala tim Abdul Hayat.

Senada dengan pernyataan itu, dr. Budhi Sardjana, ketua tim gabungan RS Pelni, RS MMC dan RS Pondok Kopi Jakarta, mengatakan jika mayat terus dibiarkan tidak terangkut, maka kedepannya akan menyebabkan bencana lanjutan akibat munculnya penyakit-penyakit susulan yang berbahaya seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kolera, malaria hingga pneumonia.

Namun mau bagaimana, kenyataannya di lapangan sangat terbatas personil tentara, polisi, masyarakat dan relawan. Selain itu, mereka hanya memiliki sepasang tangan, tenaga yang terbatas, perut yang harus diisi, kaki yang kadang tidak bisa melangkah lagi dan yang terberat adalah beban mental menyaksikan kondisi sesama mereka begitu menyedihkan.

Bukan melebih-lebihkan saat saya menyaksikan Batalion Kujang sedang mengevakuasi mayat secara paksa dari bawah reruntuhan, tubuh itu bagai roti terkena air. Bagian tubuh yang mereka tarik itu langsung terpisah dari tubuh. Yang mengerikan ada korban wanita yang mengandung bayi begitu diangkat bayi di dalam perut itu langsung jatuh ke tanah.

“Wah kalau cuma kopi yang digunakan untuk mengurangi bau anyir tidak mempan,” papar prajurit itu.

Selain itu, cukup banyak juga orang yang hilir mudik sambil ngoceh tidak karuan, banyak di antaranya kadang tertawa sendirian. Kadang menyebutkan nama-nama anggota keluarganya.

Ibrahim, warga Ulee Kareng yang menjadi petugas penampungan pengungsi dari Lamno dan Perada, mengungkapkan sering di antara pengungsi itu menangis lalu tertawa-tawa. *Bisnis Indonesia Edisi: 04/01/2005

Muramnya Serambi Mekkah (3)

Dua hari menjelang tahun baru 2005, bau kematian rasanya makin akrab saja saat saya menyusuri jalur Lhoknga.

Hamparan mayat manusia dan binatang, rongsokan kendaraan dari berbagai jenis berserakan di pinggir jalan. Di tempat ini beberapa mayat bahkan sudah menjadi tengkorak karena dijarah belatung.

Sebenarnya jalur Lhoknga ini merupakan pintu untuk menuju Desa Peukan Bada, Leupung, Lhoong, Lamno hingga kota Meulaboh. Sayangnya banyak jembatan yang putus total.

Sepanjang jalan yang sunyi itu kadang nampak binatang peliharaan seperti anjing dan kucing masih setia menemani mayat tuannya.

Di Simpang Pekan Bada, meringkuk di antara sela-sela kayu-kayu besar dan tiang listrik yang tumbang, seorang bapak tua sambil terisak dan mengatakan kata-kata tidak jelas sedang mengais tumpukan tanaman padi miliknya sambil terus meratap.

Sejatinya daerah lumbung beras ini seharusnya lima belas hari lagi sudah merayakan panen raya.

Di beberapa hamparan padi menguning sebagian sudah menjadi kolam besar. Beberapa mayat manusia, sapi dan kepingan-kepingan nampak terapung perlahan tertiup angin dari wilayah perbukitan yang di bagian lerengnya longsor.

Korban longsor yang cukup parah menimpa pemukiman elit Villa Buana Gardenia. Akibatnya tentara kesulitan untuk melakukan evakuasi dengan bermodalkan sepasang tangan saja.

Tak beberapa jauh sekumpulan orang sedang menimba bensin dan solar dari stasiun pengisian bensin Desa Bradeun, Leupung.

“Kalau tidak begini, lalu macam mana kendaraan pengangkut mayat bisa berjalan,” ujar Sukri yang berasal dari Kampung Sebun, Desa Nusa.

Benar juga alasannya, jarak dua meter dari kami diatas tumpukan rumah di samping kami berbincang, sesosok mayat lelaki membusuk yang sudah berhasil diangkut warga sejak hari kedua pascabencana masih terbaring menunggu untuk dipindah ke kuburan masal.

Keajaiban Tuhan

Entah keajaiban ataukah memang keinginan Yang Kuasa, seperti halnya di Banda Aceh, rumah-rumah ibadah semacam meunasah (mushola) atau masjid masih gagah berdiri. Seperti contoh masjid Lampuuk masih kokoh menancap di tanah padahal seluruh rumah di kampung itu sudah habis disapu gelombang.

Begitu juga di Lamcrud hanya Masjid Al-Ikhlas saja yang tetap tegar bertahan padahal rumah penduduk, markas Batalion Yonif 112 Kompi A dan markas Den Zipur Iskandar Muda sudah rata dengan pantai.

Bagi saya yang sudah seringkali dituntut untuk terlalu rasional dalam menghadapi segala sesuatu kejadian seperti ini, rasa-rasanya keberadaaan Tuhan menjadi begitu Esa dan nasib manusia hanyalah sejumput rumput kering yang sewaktu-waktu bisa dengan mudah hilang lenyap oleh kemurkaannya.

Hanya sekitar lima meter dari bekas reruntuhan markas Batalion Yonif 112 Kompi A, sebuah jembatan besi teronggok ke arah hilir sungai lima meter meninggalkan penyangga betonnya. Lagi-lagi mayat menjadi pelengkap di tempat itu.

Tidak jauh dari bekas pemukiman, di seberang sungai nampak onggokan kapal tangker Sinar Andalas milik PT Samudera Shipping Services yang disewa oleh PT Semen Andalas untuk mengangkut semen ke Belawan. Sebuah kapal tanker yang tidak terlihat namanya juga masih teronggok dimuka pabrik semen itu.

Menurut Butari warga desa Leupung yang sudah sempat menyeberang ke desa asalnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak di desa Pulut, Layeun, Mamplam dan Meunasah Bakue tidak selamat.

Sementara itu penduduk yang masih hidup saat ini menetap di perbukitan di wilayah itu dengan kondisi hanya baju yang melekat di badan. Mereka tanpa makanan.

Saya sebenarnya hendak ikut menyeberang ke Leupung, namun kapal tambang milik penduduk setempat ternyata mengalami kebocoran. Sedangkan jika memaksakan diri untuk menyeberangi sungai, sekitar sepuluh meter dari arah hilir tumpukan mayat masih memenuhi sungai.

Di tempat pengungsian Lempaya yang juga menampung penduduk Monikeun, Weuraya, Lamkeureut, saya berjumpa dengan sekitar 1.500 pengungsi. Seperti umumnya anak-anak dalam kondisi seperti itu masih juga berlarian ke sana kemari seakan tidak terjadi apapun. Kepala Desa Lempaya Burhanudin Abdullah mengeluhkan lambatnya bantuan BBM.

“Kalau tidak pakai minyak [solar] bagaimana peralatan berat milik PT Semen Andalas yang berguna untuk membersihkan jalan, evakuasi hingga penguburan mayat bisa berjalan,” tanyanya.

Meski begitu dirinya mengaku beruntung, sebab logistik berupa makanan dan obat sudah mencukupi selain itu air bersih cukup tersedia. Hanya saja diare dan sesak napas mulai menjangkiti anak-anak. Selain itu karena keterbatasan minyak tanah memaksa mereka mereka seringkali memakan begitu saja mie instan mentah-mentah tanpa dimasak.

Saat saya kembali ke arah Banda Aceh, iring-iringan truk berisi logistik bantuan dari PT Coca Cola. Di kiri kanan, nampak segerombolan tentara dan polisi sedang mengevakuasi mayat-mayat dari sudut-sudut reruntuhan.

Kali ini perlengkapan mereka lebih baik sebab plastik yang ada jauh lebih mencukupi untuk membungkus mayat-mayat itu. Hanya saja mereka nampak kesulitan untuk mengevakuasi sebuah kendaraan angkutan setempat yang dipenuhi mayat-mayat menggembung hingga dua kali lipat.

Dalam hal koordinasi, bukan memuji atau karena saya terlalu army minded, namun kenyataan di lapangan lah yang membuktikan bahwa tentara lah yang paling terkoordinasi dan terdepan dalam evakuasi jenasah.

Di setiap sudut reruntuhan jarang sekali mereka hanya berlenggang kangkung menenteng-nenteng senjata. Rata-rata mereka sigap saat menemukan mayat yang terjepit. Rata-rata setiap 20 hingga 30 menit, truk-truk tentara sibuk mondar-mandir membawa jenazah.

Selain itu dalam hal sistem dan peralatan, tentara paling siap dengan dukungan SDM paling memadai di banding polisi. Di Banda Aceh pun jumlah mereka relatif besar seiring dengan diterapkannya darurat sipil.

Mungkin memang benar selama ini oknum-oknum tentara banyak yang melakukan pelanggaran hak azasi manusia (HAM) atau contoh yang sederhana mengutip pajak jalan bagi kendaraan-kendaraan yang lewat.

Namun harus diingat dibandingkan polisi yang kocar-kacir, tentara secara struktural memiliki batalion pendukung seperti zeni tempur, batalion kesehatan tempur, SAR (Search and Rescue), Batalion Komunikasi Tempur yang di lapangan sudah teruji dan terbukti kemampuannya.

Tak tanggung-tanggung Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal, Ryamizard Ryacudu, malah sudah berada di Lhokseumawe, Aceh, usai bencana terjadi seraya memerintahkan agar jajarannya berperan aktif membantu para korban bencana alam di Nanggroe Aceh Darussalam.

Dia juga menyatakan tak perlu saling menyalahkan soal penanganan bencana di Aceh.

“Tolong saling mengasihi. Jangan mencaci maki dan saling menyalahkan,” ujarnya di televisi tepat sehari sebelum keberangkatan saya ke Aceh.

Program prioritas yang diperintahkan pun sangat terperinci dan jelas diberikan kepada Mayjen Adam Damiri selaku Komandan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam di NAD, a.l. secepatnya membuka jalur komunikasi, evakuasi jenasah, pencarian jenasah, distribusi logistik, gelar kesehatan hingga relokasi pengungsi.

Maka tak heran jika kemudian dalam setiap liputan yang dilakukan oleh media televisi, pasukan berseragam hijau loreng itu yang selalu terekam.

Kunjungan Kapolri

Bandingkan dengan Kapolri Da’i Bachtiar yang baru berkunjung lima hari setelah kejadian. Lucunya kecemburuan ini ternyata menjangkiti jajaran elite polisi di Jakarta yang melihat rekaman media terhadap kesigapan tentara.

Empat hari setelah bencana, Kababinkam Polri Komjen Pol I. Lebang datang ke Aceh. Sangat tertutup dan tidak ramah kepada saya sebagai satu-satunya wartawan yang berada di sana. Itu pun lalu diusir oleh ajudannya.

Saya kemudian memilih untuk tetap duduk pada jarak sekitar dua meter sehingga seluruh taklimat di muka Bandara Iskandar Muda yang menekankan polisi ke depannya harus menimbulkan kesan bahwa mereka juga berperan membantu warga Aceh jelas terdengar.

Saat saya mengklarifikasi tersebut dengan menanyakan apakah akan ada satu koordinasi bersama antara tentara dan polisi kepada Kasatgaspol Brigjen Itto Sumardi, dia dengan jelas mengatakan tugas polisi dan tentara berbeda.

Padahal Kapolda NAD, Irjen Pol Bahrumsyah, mengatakan dengan terus terang bahwa komposisi kekuatan dan kesegaran mental personilnya di Banda Aceh sudah pada kondisi terlemah.

Aura tidak kompak antara institusi itu pun sejak hari pertama saya di Aceh sudah sangat terasa di tingkat bawah.

Saat penjagaan oleh kedua personel dari kesatuan tersebut yang terlihat oleh mata adalah ketidakakraban dan saling memisah. Sungguh sayang.

Alhasil hingga hari kelima usai diberikannya taklimat itu, pola evakuasi korban dan distribusi logistik antara tentara dan polisi masih berjalan sendiri-sendiri. *Bisnis Indonesia Edisi: 05/01/2005

Muramnya Serambi Mekkah (4-terakhir)

Sehari menjelang tahun baru, selain listrik sudah mulai mengaliri Banda Aceh. Jalur telekomunikasi juga mulai berfungsi. Seluruh operator telepon genggam yang sebelumnya kalah sakti dibanding Telkom Flexi, hari itu akhirnya mampu menunjukkan taringnya. Hanya saja kondisi traffic pada jaringan masih terjadi sehingga telepon genggam tetap saja tidak berfungsi secara maksimal.

Jaringan telekomunikasi yang masih sakti dipergunakan tetap saja radio komunkasi sebelas meter yang dalam versi portable militernya banyak digotong tentara yaitu personal radio combat (PRC).

Konyolnya, teknologi asli dalam negeri yang dulunya dianggap anak bawang oleh banyak pihak yaitu sistem BYRU produksi PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN)-yang diadopsi pada produksi BYRU R190-kali ini benar-benar menjadi tumpuan utama hubungan antara Banda Aceh dan daerah lain.

Mungkin itulah alasan kenapa pemerintah pada 2003 lalu mempercayakan tender proyek universal services obligation (USO) kepada PSN dengan menyingkirkan PT Patrakom dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti).

A.B.D. Rachman Abbas, Operation Division PT Samudera Shipping Services, yang berangkat ke Aceh untuk mencari kabar anak buah kapal Sinar Andalas yang tersapu gelombang usai memuat semen milik PT Semen Andalas Indonesia jelas-jelas mengandalkan alat komunikasi itu.

Hal yang sama juga terlihat pada masyarakat dari luar Aceh yang khusus berangkat ke pelosok di Banda Aceh untuk mencari saudaranya secara swadaya.

“Kami bisa menemukan saudara kami karena terus bisa melakukan kontak dengan Jakarta. Sebab sampai saat ini pusat informasi orang hilang tidak juga ada,” papar Agus yang mengaku bersyukur dapat menemukan saudaranya karena adanya jalinan komunikasi itu.

Sementara itu hidupnya aliran listrik di pusat kota Banda Aceh sejak sehari lalu (Jumat, pekan lalu) belum dinikmati oleh warga masyarakat di daerah Lhoknga karena seluruh tiang di sepanjang jalur itu sudah roboh atau tidak berfungsi lagi.

Sebagian di antara posko-posko itu memiliki generator listrik ukuran kecil dengan tenaga bensin atau solar tapi itupun tidak banyak. Sebagian besar lagi mengandalkan lampu minyak, masyarakat pun mengaku kesulitan karena persediaan minyak tanah sangat minim.

Tak jarang pula akhirnya mereka membakar pecahan-pecahan kayu-kayu sisa bangunan yang berserak. Selain untuk menerangi juga untuk mengusir nyamuk yang mulai muncul.

Sebaliknya di Banda Aceh yang telah dialiri listrik sehingga jalan-jalan kota mulai terang benderang, masyarakat tetap saja belum berani untuk keluar rumah. Alasannya jelas nuansa seram akibat belum diangkutnya mayat dari tengah jalan. Jikalau ada kendaraan yang melintas umumnya kendaraan milik tentara, wartawan atau ambulans

Alhasil Banda Aceh menggeliat saat matahari mulai terbit dan kembali mati menjelang senja. Namun itupun sebenarnya sudah cukup membuat kota yang mati itu kembali berdenyut.

Di pasar-pasar tradisional masyarakat sudah mulai bisa tersenyum, saling bertukar cerita, bergurau. Sejenak sudah cukup untuk melupakan beban kesedihan yang melingkupi.

Bandara penuh sesak

Seperti halnya keberangkatan yang penuh perjuangan, untuk keluar dari Banda Aceh saya harus berdesak-desakan dengan ratusan orang yang mengantri. Banyak diantara mereka yang antri hingga 24 jam untuk mendapatkan tiket dari dua maskapai yang beroperasi yaitu Jatayu dan Garuda Indonesia.

Maskapai Jatayu seharinya menyediakan tiga penerbangan menggunakan Boeing 707 seri 200 yang dapat mengangkut 168 orang sedang Garuda menyediakan sekitar enam hingga tujuh penerbangan dengan Boeing 747 dan Airbus.

Bandara tak ubahnya pasar, sudah tidak ada lagi pintu boarding pass. Orang bisa masuk seenaknya masuk ke dalam ruang boarding. Sebab selain kedua maskapai tersebut menjual tiket di dalam ruang boarding sekitar seratus orang memadati ruang depan bandara itu. Sumpek, panas, resah.

Tak jarang dalam ruangan itu terdengar jerit ibu atau anak yang masih trauma dengan kejadian bencana atau stress menghadapai ketidakpastian kapan mereka bisa keluar dari Banda Aceh.

Selain itu sudah sejak kemarin saya terpisah dengan dengan Endang yang hilang entah kemana bersama pengantarnya. Entah bagaimana kami akhirnya bertemu di Landasan Udara TNI AU Iskandar Muda.

Lanud seperti halnya bandara, penuh sesak dengan keluarga tentara yang akan mengungsi. Mereka berserakan begitu saja di pinggir landasan, petugas pengamanan landasan dari Paskhas dan Polisi Militer mengaku kesulitan untuk meminta mereka mundur menjahui landasan.

“Bagaimana ya mas, soalnya mereka kan juga keluarga tentara, mau di usir sesuai prosedur juga sungkan. Apalagi kayak yang itu,” paparnya seraya menunjuk seorang Kolonel yang petantang-petenteng di sepanjang landasan.

Tak jauh dari situ sebuah pesawat dari maskapai Pelita Air sedang menunggu Wapres Jusuf Kalla yang saat itu rupanya sedang meninjau ke Meulaboh melalui udara. Di belakangnya sebuah pesawat Sriwijaya Air baru saja menurunkan rombongan Pemerintah Daerah Sumatera Selatan yang membawa bantuan dan tim kesehatan.

Namun, seperti halnya kunjungan Kapolri, rombongan itu banyak ‘penggembira’ selain secara efektifitas tidak jauh bermanfaat bagi pengungsi dan menambah penuh bandara saja. Selain itu, cukup konyol juga melihat rombongan penggembira itu nampak mengernyit jijik saat menyaksikan tubuh-tubuh membusuk di pinggir jalan.

Sekedar catatan dalam sehari setiap sepuluh atau dua puluh menit sekali pesawat dari berbagai jenis mendarat atau lepas landas dari Bandara dan Lanud Iskandar Muda. Akibatnya kadang pesawat pembawa bantuan harus menunggu kesempatan mendarat atau dicarikan tempat parkir.

Hercules

Tiba-tiba para pengungsi itu berdiri dengan penuh harap saat mendengar deru Hercules mendekat membelah angkasa. Berebutan mereka berlomba mendekat ke landasan, padahal pesawat pengangkut tersebut belum mengeluarkan bertong-tong bahan bakar operasional.

Rangsekan itu makin menjadi-jadi saat mereka melihat pasien-pasien yang harus dievakuasi ke Medan sudah masuk kedalam pesawat. Saling dorong, sikut dan tarik berhasil direkam oleh Endang.

Seorang Kopral sambil membawa adiknya masuk begitu saja ke dalam pesawat. Alhasil perwira penerbang yang bertugas langsung mendampratnya. “Hei kopral, keluar kamu jangan karena anggota [tentara], main masuk. Masih banyak yang sakit tahu!”

Ketidaksabaran pengungsi itu cukup dimengerti sebab ada yang sudah dua hari menunggu di Lanud, contoh lain seperti Cut Indra beserta ketujuh putrinya mengaku sudah sejak pagi menunggu untuk bisa segera keluar dari Banda Aceh dengan mengangkut Hercules.

Menurut guru SD 71 Kotamadya Banda Aceh ini alasan untuk memaksakan diri keluar Aceh karena kekhawatiran adanya gempa susulan dan penyakit yang timbul akibat banyaknya mayat yang masih berserak di jalan.

Akhirnya karena tidak dapat mendapat tumpangan pesawat harus menikmati pergantian tahun 2004-2005 yang penuh duka ini dengan tertidur di emperan landasan. Hanya saja celakanya hujan turun pagi hari sehingga pengungsi bubar menyelamatkan diri.

Menjelang sore hari datang dua Hercules milik AU Singapura dan satu Boeing 707-Combi milik AU Australia membawa tim kesehatan, logistik dan wartawan.

Dengan modal nekad akhirnya Endang diperbolehkan untuk ikut pesawat Hercules milik AU Singapura bersama ratusan pengungsi.

Sedang saya, mula-mula mendekati prajurit Jacob Guelen Oates yang berjaga di sekitar pesawat itu. Setelah berbincang ke sana kemari akhirnya kami diperbolehkan untuk menumpang pesawat milik Royal Australian Air Force yang dipimpin oleh Mayor Penerbang Steve Webb itu.

Konyolnya karena tidak satupun personel mereka tak mampu berbahasa Indonesia. Akhirnya saya saat itu harus menjadi ‘pramugari’ dadakan yang membacakan aturan keamanan pesawat atau mengajari 50 penumpang menggunakan sabuk pengaman. Maklum banyak di antara mereka yang baru pertama kali naik pesawat.

Dengan mengangkut masyarakat Aceh ini sama artinya tentara dari Australia seperti Amanda Vince dan Theo Gianotis harus rela duduk di lantai demi rakyat negara tetangganya yang sedang kesusahan.

“Tidak apa-apa kami sudah pernah mengalami saat harus mengungsikan masyarakat Indonesia saat konflik Timor-Timur,” ujar Theo yang terpaksa harus meninggalkan keluarganya di Sydney untuk waktu yang belum diketahui.

Penerbangan menuju Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta meski cukup terguncang-guncang berjalan cukup nyaman. Bahagia rasanya melihat Jakarta indah malam itu dengan kerlip lampu-lampu tahun barunya.

Begitu mencapai landasan, tubuh serasa luluh lantak, sepertinya rasa lelah yang tidak terasa selama di Aceh baru muncul saat ini. Makin lelah saat mendengar kenyataan bahwa sumbangan logistik ternyata masih menumpuk di Jakarta karena tidak tersedia cukup pesawat pengangkut. Bisnis Indonesia Edisi: 06/01/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: