it’s about all word’s

Musik nasyid makin berwarna dan mewah

Posted on: February 20, 2008

Musik dalam sejarah Islam sebetulnya menempati posisi yang cukup fenomenal. Sayang perjalanan waktu menyebabkan hal itu menjadi tenggelam.

Kita mengenal nama Abu Nasr Muhammad Ibn al-Farakh al-Farabi, seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai pakar musik.

Melalui Kitab al-Musiq al-Kabir (Buku Besar tentang Musik), Al-Farabi mengembangkan teori musik dengan penemuan not musik dan menemukan sejumlah alat musik sekaligus memainkannya.

Seperti halnya Al-Jabar, ulama besar yang terkenal dengan teori matematikanya, Al-Farabi pun dilupakan. Dan musik Islami pun berkembang terbatas pada musik gambus yang biasa disebut musik padang pasir.

Ironisnya, justru Barat lah yang mengembangkan musik hingga bisa seperti saat ini. Simak saja grup legendaris macam Queen, Beatles, Deep Purple hingga grup punk Offspring yang tanpa malu-malu pernah menyerap pengaruh irama padang pasir yang eksotik tersebut.

Begitu juga dengan nasyid yang biasa dikenal sebagai musik mulut. Kini jenis musik itu justru lebih identik sebagai accapela yang besar di teras-teras kapel atau gereja. Sebut saja Black Satin, Take 6, Boyz 2 Men, All 4 One, sampai musisi congor asal negeri pizza Neri Per Caso.

Tanah air kita pun sebetulnya menghasilkan musisi Islam yang cukup mumpuni a.l Bimbo, Hadad Alwi hingga Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan Kiai Kanjengnya.

Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini, nasyid justru kembali bersemi sejak kemunculan lima pemuda asal Malaysia yang tergabung dalam Raihan.

Melalui nada-nada lembut yang diperdengarkan secara perlahan, keberadaan musik nasyid-yang melantunkan syair-syair bernafaskan Islam-itu kini telah diakui dan mendapat tempat di tengah masyarakat luas.

Entah sekadar latah, bak cendawan di musim hujan, atau memang menjadi pilihan, bermunculan grup-grup musik nasyid dalam negeri seperti Snada dan Qatrunada. Snada bahkan mendapatkan penghargaan Platinum Award lewat album Neo Shalawat yang diproduksi studio Musica.

Sayang Ramadhan kali ini nasyid justru melempem ditelan tayangan-tayangan lain yang berating lebih tinggi macam sinetron, goyang dangdut atau sekadar pelengkap talk show Islami.

Memang ada satu album musik Islam yang menyeruak di tengah blantika musik yaitu milik penyanyi Opick dengan hit-nya Tombo Ati (Obat Hati)

Harus profesional

Menurut personel Raihan, Abu Bakar, kunci sukses nasyid sebetulnya sama dengan industri hiburan lain yaitu profesional dalam setiap kerja dan senantiasa belajar.

Untuk itu perlu dilibatkan orang-orang profesional dalam setiap kerja dan ciptakan terus perkembangan. Seperti dalam album terbaru harus ada aransemen yang baru dan berbeda.

Sebab sebagai sebuah industri, musik perlu melakukan langkah untuk mengubah persepsi sebagian umat Islam terhadap musik nasyid yang terlalu monoton.

“Kalau buat syiar Islam sepertinya kita buat yang murah-murah dan musik jalanan. Sebenarnya tidak begitu,” ujarnya disela-sela buka puasa bersama anak piatu yatim piatu di hotel Alila, pekan lalu.

Kalau untuk syiar Islam, lanjut Abu, memang butuh duit banyak. Perlu sound system yang dan studio yang bagus. “Semua itu perlu dibayar dengan uang. Kalau ingin orang lain melihat Islam cantik, maka harus kita buat Islam itu juga cantik dan hebat.”

Dia mencontohkan posisi Raihan yang menyuarakan nasyid berkopiah di hotel yang mewah. Hal itu bukan berarti merupakan kapitalisme. “Kalau kami tidak buat begini, atau kami main di lesehan, pasti mereka [orang kelas atas] tidak datang. Kita perlukan Islam yang menampakkan modern,”

Senada dengan Abu, personel Raihan yang lain, Nazrey Johani menuturkan peluang pasar musik nasyid di Indonesia begitu bagus dan meluas. Dia memberikan contoh pendengar di Indonesia umumnya menunggu keluarnya album mereka.

Kali ini mereka berempat-satu meninggal pada 2001 lalu-melepas album terbaru, Ameen dengan lagu andalan Puasa Dulu Baru Raya! Untuk siapa saja termasuk anak-anak yang belum hafal doa puasa.

Uniknya, selain lagu yang nuansanya memberi ketenangan untuk nurani mereka memasukkan unsur rap dalam Do You Know Him? berduet dengan musisi Black Muslim London.

Menurut Johani, perkembangan musikalitas Raihan tentu saja diharapkan bisa menjadi masukan bagi group nasyid yang lahir di Indonesia.

Sebab tujuan akhir dari seluruh grup nasyid adalah agar musik yang berisi syiar agama ini digemari oleh anak-anak muda, supaya Islam dapat diterima oleh semua pihak dan tidak sekadar menjadi alat jualan industri yang kapitalis.

Album Raihan sampai saat ini ada tujuh di Malaysia sedangkan di Indonesia sudah ada delapan. Hebatnya mereka sempat manggung di hadapan Ratu Inggris, Elizabeth. Itu menggambarkan nasyid pun bisa mendunia dan bukan musik kacangan

*Bisnis Indonesia Edisi: 18/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: