it’s about all word’s

Paul Robert A. Salapantan

Posted on: February 20, 2008

Buku untuk refleksi diri

Maklum meski sibuk mengendalikan bisnis di Indonesia, PCO & CT Space Manager PT Castrol Indonesia, Paul Robert A. Salapantan, tetap saja kutu buku. Di mana pun berada, pria Filipina ini mengaku selalu menyempatkan diri membaca.

“Yang menarik dari Indonesia adalah banyaknya buku-buku terjemahan. Meskipun buku tersebut adalah buku sukses dalam bahasa Inggris, pasti ada terjemahannya,” katanya di sela buka puasa bersama wartawan, pekan lalu.

Menurut dia, kondisi itu berarti pasar Indonesia secara ekonomi dinilai besar. Terbukti penerbit di sini berani untuk mengalokasikan dana untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Paul menilai Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang efisien, mendidik, sangat berwarna, sekaligus adaptif. “Bagi kami di Filipina, buku-buku best seller tetap dalam bahasa Inggris. Kami tidak merasa penting dan perlu untuk menerjemahkannya ke bahasa Tagalog. Hasilnya kami menjadi sedikit kehilangan perasaan pentingnya bahasa Tagalog,” ujar suami dari Ana Marie Ruelos ini.

Ayah tiga anak ini dalam sebulan mengaku bisa menyelesaikan tiga buku tebal. Buku-buku itu selesai dibaca dengan beragam cara, seperti di mobil, perjalanan ke luar kota atau luar negeri, rumah, atau di kantor.

Namun tidak seperti orang Filipina yang cenderung membaca buku-buku romantis, Paul memilih bacaan yang bisa merefleksikan diri sekaligus menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di sekitar lingkungan.

Penulis favoritnya a.l. Jared Diamond dan Malcolm Gladwell.

Diamond dikenal sebagai sejarahwan yang menulis The Rise and Fall of the Third Chimpanze hingga Guns, Germs and Steel, sedangkan Gladwell terkenal sebagai penulis di majalah New Yorker. Dia menulis buku The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference.

Menurut dia, kedua penulis itu mampu menjawab persoalan dan fenomena sosial yang rumit dengan cara sederhana. Hasilnya, pertanyaan tentang mengapa dan apa yang terjadi saat ini bisa terjawab dengan melihat kondisi masa lalu atau dari tips ringan yang diberikan.

Seleranya itu karena latar belakang pendidikannya yang beragam. Paul lulus dari tiga universitas berbeda a.l University of the Philippines, New York University, dan Ateneo de Manila University.

Harga buku mahal

Sayangnya harga buku di Indonesia dibandingkan Filipina relatif mahal. Satu buku saja harganya Rp100.000 hingga Rp200.000. Tidak heran untuk belanja buku dalam sebulannya Paul harus merogoh kocek hingga Rp1,5 juta.

Tetapi, lanjut Paul, kebiasaaan baca buku tidak bisa dianggap mewakili semua orang Filipina. Dia pun tidak memaksa anak-anaknya untuk membaca. “Saya ingin mereka membaca karena suka. Selama topiknya bagus dan sesuai untuk perkembangan anak, saya akan menyetujui.”

Selain itu anak-anaknya memiliki akses informasi yang lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Hanya saja, untuk menghindari penyalahgunaan informasi itu diperlukan pengawasan dari orang tua, katanya.

Dia merasa beruntung karena di Jakarta banyak toko buku menyediakan beragam buku berbahasa Inggris.

*Bisnis Indonesia Edisi: 06/11/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: