it’s about all word’s

Pertemuan FATF di Paris

Posted on: February 20, 2008

Pertemuan FATF di Paris
Peluang RI untuk keluar dari daftar hitam

Menjelang kunjungan tim Satuan Tugas Aksi Keuangan (Financial Action Task Force/FATF on Money Laundering), optimisme Indonesia untuk lepas dari daftar negara-negara tidak kooperatif terhadap praktik pencucian (NCCT) kembali menjadi sorotan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah menugaskan pejabat setingkat menteri untuk langsung menemui tim FATF yang datang ke Indonesia pekan lalu untuk melihat perkembangan kebijakan dan penanganan masalah pencucian uang.

Tak kalah penting pula, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menkeu Jusuf Anwar, Mensesneg Yusril Ihza Mahendra dan Mendag Marie E. Pangestu diutus Presiden untuk melobi negara-negara seperti AS, Brasil, Australia, Selandia Baru, Malaysia, Jepang, Prancis dan Inggris.

Berarti, terkabul sudah keinginan Ketua Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein terhadap dukungan lobi tingkat tinggi dari Presiden Yudhoyono yang sebelumnya turut terlibat secara aktif dalam pembentukan PPATK.

Seperti diketahui, Indonesia termasuk enam negara yang masuk dalam daftar NCCT bersama Cook Island, Myanmar, Nauru, Nigeria, dan Filipina. Sedangkan Mesir, Ukraina, dan Guatemala adalah tiga negara yang keluar dari daftar hitam dalam satu tahun terakhir. Guatemala dicoret dari daftar hitam NCCT.

Dengan masuknya sebuah negara dalam daftar NCCT maka hal itu merupakan peringatan bagi seluruh investor asing bahwa potensi risiko transaksi dan investasi di Indonesia termasuk tinggi.

Bisnis sempat mencatat optimisme Yunus sebelum berangkat ke forum FATF di Brunei awal Oktober tahun lalu, bahwa Indonesia akan keluar dari daftar hitam noncooperative countries and territories (NCCT).

Ada beberapa hal yang mendasari optimisme tersebut meski belumlah suatu jaminan. Sebelum pertemuan di Brunei itu, PPATK sudah masuk dalam komunitas Edmond Group, sebuah forum antar negara anti pencucian uang. Modal lainnya, Indonesia juga sudah memiliki perangkat hukum antipraktik bisnis busuk tersebut serta jumlah pelaporan transaksi mencurigakan terakhir dan dipenuhinya kesepakatan dengan Kejaksaan.

Namun apa mau dikata? Fakta berbicara lain. Negeri ini masih berkubang dalam daftar hitam NCCT.

Lobi-lobi selama ini tampaknya belum diikuti upaya dan penanganan serius di lapangan. Merujuk pada Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LKTM) yang diterima PPATK per 18 Januari 2005 misalnya, baru ada 70 bank serta 11 perusahaan nonbank-termasuk tiga diantaranya dari perusahaan efek-yang sudah menyampaikan laporan.

Seolah tidak mau kecolongan, akhir pekan lalu PPATK benar-benar secara terbuka mengumumkan daftar penyedia jasa keuangan (PJK) yang terdiri dari 62 bank yang tidak pernah melaporkan LKTM-nya.

Belum siap juga

Jika melihat nama-nama bank yang muncul, aneh jika kemudian ada alasan belum dipahaminya ketentuan, belum mampu melakukan deteksi adanya transaksi keuangan mencurigakan serta belum diterapkannya prinsip mengenal nasabah secara benar.

Padahal mereka adalah para pemain kakap macam Korea Exchange, Bank Danamon, Bank UOB Indonesia, Bank of China, Rabobank International Ind, Bangkok Bank, dan Bank Commenwealth.

Kenapa mereka belum siap dalam mencegah dan memberantas pencucian uang? Sekadar khawatir akan kehilangan nasabah atau ada masalah yang lebih serius? Misalnya terkait dengan proses hukum.

Itulah, klaim keberhasilan Yunus seolah menguap begitu saja. Memang sudah ada 20 pelaku kejahatan terkait pencucian uang yang divonis. Tapi di sisi lain ‘jualan utama’ PPATK kepada FATF yaitu kasus L/C bodong Rp1,3 triliun dari kasus BNI masih gelap.

Artinya, ‘perjuangan’ PPATK di forum FATF di Brunei belumlah membuahkan hasil. Adrian Woworuntu, tersangka kasus BNI, memang telah dibekuk. Begitu pula dengan penyidik Polri yang menangani kasus tersebut, Samuel Ismoko. Dijatuhi vonis pula.

Tapi bagi FATF berbagai tindakan hukum itu belum cukup. Institusi tersebut tidak mungkin dibekap untuk tidak mencium bau busuk dari berbelit-belitnya kasus L/C bodong Rp1,3 triliun tersebut.

Andaikata muncul keajaiban meloloskan Indonesia dari sidang review FATF di Paris Februari mendatang, maka pertanyaan selanjutnya adalah apa tindakah konkrit terhadap PJK yang masih membandel? Jangan dianggap enteng pula pengusutan kasus-kasus pencucian uang yang di negeri ini begitu lengket dengan perkara korupsi kakap.

Apakah Presiden Yudhoyono masih tetap mengandalkan institusi penegakkan hukum, yang bagi banyak kalangan justru dianggap sebagai penghambat utamanya. Kinerja Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman masih memprihatinkan.

Pengalaman menunjukkan banyak pemimpin dunia yang semula begitu diharapkan mampu membawa perubahan, justru dikecam bahkan jatuh karena gagal memerangi praktik korupsi .

Namun apabila publik mengharapkan Presiden SBY bertindak lebih tegas dan berani terhadap para PJK bandel, hal itu tampaknya juga agak berlebihan. Artinya Undang-Undang Anti Pencucian Uang harus diamendemen dulu.

Tapi publik juga harus paham bahwa kondisi internal PPATK membuat institusi ini belum bisa bertempur di segala lini. PPATK masih kekurangan sumber daya manusia yang andal. Bayangkan, untuk urusan mengangkat pegawai pun masih kesulitan.

Pada saat yang sama mereka harus mengusung kampanye pengenalan nasabah (Know Your Customer) dan anti pencucian uang. Lobi-lobi pun tak bisa sambil lalu, apalagi terhadap Singapura yang menjadi transit dana sekaligus tempat penjahat kerah putih Indonesia bermukim.

Loloskan Indonesia dari daftar hitam FATF? Kita tunggu saja.

*Bisnis Indonesia edisi: 31/01/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: