it’s about all word’s

Puspito Rogo: Sam Poo Kong temple guard

Posted on: February 20, 2008

Kesibukan Semarang menyelenggarakan hajatan 600 tahun pelayaran Laksamana Cheng Ho dari Nanjing, China hingga Pantai Swahili, di Afrika, berakhir sudah.

Sebagai hajatan yang pertama kali digelar, peringatan 600 tahun itu cukup menyedot animo dari masyarakat di tingkat lokal hingga internasional.

Kini Klenteng Sam Poo Kong, tempat etnis Tionghoa menziarahi Cheng Ho kembali seperti biasa, jauh dari hingar bingar. Mungkin orang mulai lupa lagi dengan tempat ibadah dan sang Laksamana.

Namun, bagi Puspito Rogo, atau lebih dikenal sebagai Mursid sudah mengawal klenteng ini sejak 46 tahun yang lalu, riuh atau senyapnya klenteng tak banyak berbeda. Di tengah keriuhan peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho, Puspito seakan terlupakan.

Hidupnya seperti sudah menyatu dengan tempat ibadah itu.

Pengalamannya boleh dibilang sejalan dengan klenteng, baik suka maupun duka. Tercatat tiga kali kleteng ini nyaris menjadi aksi pembakaran oleh massa.

Bisa dibilang keberhasilan Uy Cin Sin yang membeli tanah klenteng itu dari tuan tanah Belanda ratusan tahun lalu tak akan berbekas tanpa kiprah Mursid. Sekaligus tak akan pernah terselenggara acara 600 tahun pelayaran Laksamana Cheng Ho jika klenteng itu benar-benar musnah terbakar.

“Sejak 1959 saya menjadi penjaga klenteng ini. Dan mulai menjadi juru kunci Kyai Jangkar sejak 1973,” tutur lelaki berumur 78 tahun asal Ponorogo, Jawa Timur itu.

Cukup setahun saja pendiri perguruan ilmu tenaga dalam Tirta Wening itu bernapas dengan lega memasuki masa 1960-an di mana simpatisan komunis begitu dominan di Jawa Tengah.

Tidak hanya bentrok dengan massa umat beragama, simpatisan komunis pun main hantam kepada masyarakat Tionghoa. Tak hanya kekerasan fisik namun hingga merembet pada pembakaran bangunan.

Bersama tiga rekan yang lain tanpa dibantu polisi atau tentara, Mursid harus menjinakkan massa yang beringas tersebut. “Beruntung massa dapat diajak berdialog, hasilnya klenteng ini aman-aman saja.”

Dia menuturkan kemampuan berdialog tersebut merupakan hasil pengalamannya sebagai agen penyuluhan polisi di Kecamatan Semarang Barat. Mursid menjadi agen polisi dengan status honorer sejak 1952 hingga 1958.

Tugasnya melayani masyarakat, dari penyuluhan, pengusutan pencurian kayu jati hingga administrasi penduduk. Sayang seperti halnya calon pegawai negeri masa kini, surat pengangkatan tak kunjung datang, Mursid pun keluar dari pekerjaan itu.

Tenaga penjaga

Tak lama mengangur, ketua yayasan klenteng Sam Poo Kong saat itu-ayah dari ketua yayasan saat ini, Siong Do yang juga pemilik rokok Rimbu di Citarum-memintanya menjadi tenaga penjaga.

Penghasilannya pun cukup, saat itu dirinya dibayar Rp12.000.

Jika dihitung biaya makan sekeluarga saat itu dengan uang senilai Rp1.500 satu keluarga dengan dua anak sudah kenyang.

Pengalaman mengendalikan massa itu kembali berhasil diterapkannya saat menghadapi aksi anti Tionghoa di pertengahan 1978 dan awal 1984. Padahal saat itu hanya dua penjaga klenteng yang bertugas menenangkan massa dari luar Semarang yang menyemut di ujung gang.

Mursid juga punya pengalaman berhadapan dengan para preman. Tapi biasanya gali (preman setempat) di Semarang rata-rata sangat segan dengan pelatih ilmu tenaga dalam kesatuan Brigadir Mobil (Brimob) Polisi itu.

Lelaki beristri tiga dengan delapan anak itu selain laris menjadi tempat pejabat menyampaikan permohonan mereka meraih kekuasaan juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit.

“Tapi kalau saya menyarankan pergi ke dokter ya harus dilaksanakan. Kalo ngeyel (ngotot) tidak mau ya terserah. Dokter kan juga orang berilmu,” tuturnya enteng.

Cara Mursid sebagai juru junci pun cukup unik. Sebagai orang Islam, dia akan melakukan cara sesuai dengan aturan Islam jika didatangi pengunjung Islam. Sebaliknya kalau yang datang orang Tionghoa, dia pun menggunakan cara Tionghoa dengan bahasa Indonesia.

Dengan nada merendah, dia menuturkan sebetulnya yang membuat pengunjung itu sembuh atau terwujud keinginannya itu adalah karena keyakinan sang pengunjung. Dirinya hanya berperan sebagai orang yang menyampaikan.

Tak hanya pejabat atau pengusaha asal Jawa Tengah yang meminta doanya. Soeharto dan Ibu Tien pun pernah ketempat itu secara in cognito. “Ke sini hanya dengan dua pengawal. Tahu-tahu saja muncul.”

Yang jelas, tutur Mursid, dia tidak pernah meminta imbalan dari orang yang meminta pertolongan padanya. Prinsip itu dibuktikannya saat dia kembali menjadi kaum papa karena seluruh harta bendanya habis disapu banjir bandang tahun 1990.

Dia tak pernah meminta bantuan kepada pejabat, pengusaha bahkan pada pengurus yayasan untuk membantu dirinya. “Pemerintah hanya memberi bantuan dua nasi bungkus setiap hari. Itu sudah cukup.”

*Bisnis Indonesia Edisi: 16/08/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: