it’s about all word’s

Ragam cerita sinema kita di awal Ramadhan

Posted on: February 20, 2008

Sudah lima tahun sinema Indonesia bangkit dari kubur usai di era 1980-1990 dikuasai tema sekwilda (seputar wilayah dada) dan bupati (buka paha tinggi-tinggi). Jikalau ada film bermutu, rata-rata hadir tidak membumi. Ketika itu dunia film kita megap-megap, karena penonton lebih suka film Hollywood atau Bollywood.

Beruntung di pertengahan 1998 hadir empat sineas muda yang mendobrak kelesuan itu dengan film Kuldesak. Mereka adalah Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Manthovani dan Nan T. Achnas.

Kuldesak dalam bahasa Prancis berarti jalan buntu mengisahkan empat kisah tentang tingkah polah anak muda di kota besar dengan segala permasalahannya.

Sekilas secara film ini sangat terinspirasi trilogi The New York Stories yang disutradarai trio pemberontak Hollywood yaitu Martin Scorsese, Francis Ford Coppola, dan Woody Allen.

Setelah Kuldesak, film nasional tinggal menunggu waktu. Dan terbukti masyarakat menyambut film nasional a.l Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta (AADC), hingga Eiffel I’m in Love yang mengangkat tema keluarga dan cinta anak muda.

Diantara tema tersebut tahun lalu terselip film bertema agama yang diluncurkan menjelang bulan Ramadhan yaitu Rindu Kami PadaMu dan Kiamat Sudah Dekat yang secara hasil akhir cukup mengecewakan.

Dan Ramadhan tahun ini justru terasa berbeda sebab film bertema Islami malah tak muncul sama sekali. Sejauh ini baru ada tiga film yang diluncurkan a.l Detik Terakhir, Bad Wolves dan Untuk Rena.

Film yang pertama diangkat dari novel Jangan Beri Aku Narkoba karya wartawati Alberthiene Endah ini cukup berani mengangkat tema yang berbeda. Dia mengangkat kisah pergulatan gadis bernama Regi untuk bertahan hidup dalam jeratan narkoba.

Sutradaranya pun tak main-main yaitu Nanang Istiabudi, peraih Gold Medal and Specials Award Film Festival Ceko melalui film independen Revolution of Hope.

Meski berkisah tentang sisi gelap masyarakat namun gaya bertutur film ini sangat halus. Selain itu, pemainnya pun total bermain.

Lihat saja saat Cornelia Agatha yang berperan sebagai Regi harus melakukan percintaan sesama jenis dengan Vela (Sauzan). Keduanya secara total menampilkan adegan sepasang lesbian dimabuk asmara seperti berciuman, masturbasi hingga mandi bersama.

Namun pesan kemanusiaan dalam film ini sangatlah kuat. Bahwa cinta, kasih sayang dan kebahagiaan tak akan bisa dibeli dengan uang. Bahwa kehidupan metropolitan makin meminggirkan empati dalam sebuah keluarga.

Sempat dicekal

Masih berkutat dengan tema narkoba, film rumah produksi Broadcast Design Indonesia, Bad Wolves justru agak kurang beruntung sebab sampai harus kena tegur Mabes Polri karena bahasa visual yang ditawarkan.

Dalam surat bernomor B/ 412/IX/2005/Sahli yang ditandatangani Koodinator Staf Ahli Kapolri Irjen Pol Darwan Siregar kepada LSF disebutkan Bad Wolves tidak mungkin ditayangkan di depan masyarakat.

Alasannya, pertama, tanda salib yang dipakai pimpinan geng narkoba dinilai rawan menimbulkan isyu SARA. Kedua, adegan mengisap sabu-sabu yang terkesan memberi pelajaran bagiamana menggunakan narkoba.

Ketiga, adegan pornografi saat salah seorang artis memberikan isyarat senggama dengan menggoyang-goyangkan pinggangnya dengan kata-kata tak senonoh. Keempat, adegan penyiksaan diantaranya tawuran, pembunuhan dan mengacungkan senjata yang diarahkan ke kening.

Sedangkan film terakhir, Untuk Rena seperti titik balik bagi Miles Film yang digawangi Mira Lesmana dan Riri Riza setelah habis-habisan menggarap tema politik dalam Gie.

Diceritakan tentang seorang anak berusia 11 tahun, Rena (Maudy Ayunda) yang sejak kecil tinggal di ‘Rumah Matahari’, sebuah panti asuhan yang damai dan penuh tawa.

Panti itu menaungi kurang lebih 30 anak itu, di tempat itu Rena memiliki ‘adik-adik’ yang sangat dia lindungi untuk itu dia sering membuat ulah setiap datang kunjungan calon orang tua yang ingin mengadopsi mereka.

Cerita film ini menurut Riri Riza ketika terjadi tragedi tsunami yang menimpa Aceh pada bulan Desember 2004 yang mengakibatkan banyaknya keluarga yang terpecah dan tercerai berai karena musibah itu.

Dan seperti biasanya seluruh pemain anak-anak dalam Untuk Rena ini adalah pendatang baru yang belum pernah tampil dalam film maupun sinetron. Dalam film ini, mereka harus berhadapan dengan pemain senior yang sering muncul baik dalam film layar lebar maupun layar kaca.

Lepas dari beragam tema dan gaya penyajian yang ditawarkan termasuk kontroversi yang menyelimuti. Sebagai karya seni juri tertinggi bagi ketiga film tersebut adalah penonton kebanyakan.

*Bisnis Indonesia Edisi: 07/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: