it’s about all word’s

Seks dan uang harus jadi mitra dalam perkawinan

Posted on: February 20, 2008

Malang nian! Begitu rata-rata pendapat khalayak ramai usai mendengar perjalanan perkawinan artis Dewi Hughes. Menurut Hughes, selama masa pernikahan itu sang suami memperlakukan dirinya secara tidak manusiawi.

Sang suami secara sepihak menguasai seluruh uang hasil kerja keras artis bertubuh subur itu hingga ke soal ketidaknyamanan relasi seksual. Tak tahan terus menerima kondisi itu, perceraianlah yang ditempuh Hughes.

Memang ini baru sebatas pengakuan sepihak. Apalagi suami Hughes membantah semua keterangan itu.

Apa benang merah dari persoalan rumah tangga itu?

Semuanya berpangkal dari dua hal klasik yang kerap diabaikan banyak pasangan suami istri. Apalagi kalau bukan seks dan uang. Padahal, justru kedua masalah itulah yang paling sering timbul pada usia perkawinan dibawah lima tahun.

Pendapat ini mengemuka dalam Professional Break bertema The First Five Years of Marriage yang digelar di TimeBreak Caf‚-Plaza Semanggi, pekan ini.

Ada benarnya bila cintalah yang membawa Anda ke jenjang pernikahan dan menciptakan kemesraan selama beberapa tahun sesudahnya. Tapi ketahuilah, cinta saja tak cukup. Apalagi untuk melanggengkan pernikahan seumur hidup. Jangan terlalu percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.

Mengapa? Karena pada dasarnya pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Keduanya memiliki karakter unik yang terbentuk dari pengalaman hidup, latar belakang budaya, lingkungan pergaulan, dan lainnya.

Artinya, tak mudah mengubah karakter manusia, apalagi yang sudah terbentuk atau mengeras sedemikian rupa. Jika perubahan dilakukan secara paksa tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi salah satu pihak.

Idealnya, perkawinan, seks dan uang haruslah seirama. Ibarat perahu, perkawinan adalah biduk, sedangkan seks dan uang kayuhnya. Persoalannya, tidak semua pasangan yang mengayuh biduk perkawinan mengerti hal yang satu ini.

“Seharusnya, tidak pernah ada masalah seks dalam usia perkawinan di bawah lima tahun. Kalau sampai terjadi masalah, pasti ada yang salah diantara kedua pasangan tersebut,” papar konsultan seks RS. Persahabatan Ferial Loetan dalam dialog tersebut.

Sang moderator yang juga pembawa acara kondang, Muhammad Farhan-penyabet Panasonic Awards 2000 sebagai Presenter Musik Terfavorit lewat acara Pesta-bahkan mengakui bila tahun-tahun awal perkawinannya bak panggung Perang Teluk. Bayangkan, dia pernah sewot karena dianggap mencurigai pengeluaran sang istri.

Tapi pengalaman manis sejauh ini bisa dirasakan Nurul Arifin. Sejak awal pernikahannya, artis yang belakangan ini juga mulai berpolitik, mengaku jarang bertengkar. Dan untuk urusan seks, ada sebuah usaha dari kedua pasangan untuk bereksplorasi sambil diimbangi komunikasi.

“Bagi saya posisi seks itu ada delapan posisi. Dan setiap melakukan hubungan, sedikitnya 60 kali ‘tendangan’. Kurang dari itu nggak nendang ,” ujar Nurul yang disambut gelak tawa hadirin.

Tentu saja tak semua harus berlaku sama bagi setiap pasangan. Pasalnya, seks adalah wilayah privat. Pada akhirnya diserahkan kepada setiap individu yang melakoni hidup bersama itu.

Pasangan si A misalnya, merasa nyaman jika bercinta dalam ruang yang gelap. Sebaliknya pasangan si B lebih enjoy dalam kondisi terang benderang. Semua kondisi adalah sah, sejauh itu membawa berkah dan indah.

Uang pangkal masalah

Dulu, masing-masing pasangan seolah sudah terpola bahwa pria adalah pencari nafkah dan istri di rumah. Mengusung budaya hidup sederhana sesuai kemampuan. Itulah gambaran hidup bahagia. Alhasil, banyak pasangan yang akan menikah tidak mempersoalkan lagi bagaimana kehidupan keuangan nanti.

Kini era sudah berubah total. Hubungan pria dan wanita mengalami pergeseran drastis. Peran individu, tanpa disadari, terlihat kian dominan.

Contohlah Nurul. Saat awal menikah, pendapatannya jauh lebih besar ketimbang suami. Dia pun menganggap penghasilan itu milik ‘kita berdua’.

“Namun hal itu berubah seiring berjalannya waktu,” ujar istri Mayong Sulaksono itu.

Mantan caleg Partai Golkar itu me-wanti-wanti. Bila masalah di atas tidak dibicarakan dari awal, bisa berbuntut pertengkaran. Ujung-ujungnya hubungan intim bisa korslet.

Karena itu pakar perencana keuangan Roy Sembel mengingatkan agar calon pasangan tidak menganggap remeh masalah keuangan bila mereka jadi menikah. Artinya, bukan dengan tidak membicarakan masalah itu persoalan tak akan muncul.

Faktanya, kata Roy, banyak orang menghindari masalah keuangan. Diabaikan dengan harapan akan selesai dengan sendirinya. “Bahkan ada yang lebih memilih untuk diam karena takut bertengkar tentang uang,” tuturnya.

Sikap demikian jelas bukan solusi. Yang diperlukan adalah kedua pasangan harus segera membiasakan diri untuk mulai berbicara tentang masalah uang.

Terbukanya ruang untuk berkomunikasi tentu saja akan membuat eratnya perkawinan. Jadi, mulailah bicara blak-blakan dengan pasangan Anda soal seks dan uang. Jangan tunda lagi!

*Bisnis Indonesia Edisi: 16/04/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: