it’s about all word’s

Stakeholder properti menanti lahirnya SMF

Posted on: February 20, 2008

Dihidupkannya kembali Kementerian Perumahan Rakyat oleh pemerintahan baru tentunya saja membuat senang para stakeholder di bidang tersebut. Paling tidak salah satu ‘perjuangan’ mereka bisa dikatakan berhasil.

Namun hal itu tidak berarti permasalahan selesai. Justru dengan dibentuknya kembali kementerian yang sebelumnya pernah ada pada masa pemerintahan Orde Baru, sudah ada sejumlah masalah yang masuk dalam daftar tunggu pemerintahan baru.

Salah satu permasalahan yang penyelesaiannya layak dikedepankan adalah segera mewujudkan pembentukan Secondary Mortgage Facilities (SMF).

SMF adalah lembaga keuangan yang mengelola dana yang biasanya berasal dari penjualan obligasi di pasar modal dan menyalurkan dana yang terhimpun untuk membiayai portofolio primary market lenders.

Selanjutnya SMF menjual kembali dana tersebut kepada masyarakat untuk membiayai pembangunan perumahan (kredit konstruksi dan kredit pemilikan rumah).

Sejak 15 tahun lalu

Perlu diketahui intrumen SMF ini telah diperjuangkan oleh Perbanas dan REI sejak 15 tahun yang lalu, untuk menghilangkan adanya kesenjangan antara sumber dana dan pengguna dana.

Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Yan Mogi pada seminar Menuju Kesinambungan KPR/KPA dalam Pembangunan Sejuta Rumah Bagi Masyarakat Indonesia belum lama ini mengatakan pemerintah harus merealisasikan SMF kalau benar ingin menjalankan program perumahan secara sungguh-sungguh.

“Tanpa adanya lembaga SMF, maka sulit untuk mewujudkan pengembangan perumahan rakyat. Masalahnya sekarang ini belum ada kepastian bahwa hal itu akan dilakukan pemerintah,” katanya saat itu.

Menurut dia, pembentukan SMF itu sangat berpeluang dicapai dengan menyatukan berbagai lembaga dana pensiunan karyawan atau pegawai yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Yan menjelaskan dana pensiun seperti dari TNI-Polri, Jamsostek, dan Bapertarum (Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan), dan BUMN lainnya memiliki kekuatan pendanaan untuk mendukung pengembangan perumahan, yang sebagian besar juga akan digunakan oleh anggota mereka sendiri.

“Kenapa mereka tidak bergabung saja untuk pendanaan jangka panjang bagi program perumahan? Selama ini mereka berjalan sendiri-sendiri dan itu kurang efektif.”

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perbanas Agus D.W. Martowardojo mengatakan sulit bagi perbankan untuk menopang program perumahan jika tidak dilandasi oleh iklim investasi yang menguntungkan.

Menurut dia, pemanfaatan kredit bagi perbankan mesti didasari kepentingan margin sebagai sebuah badan usaha berorientasi laba.

Anggaran tersedia

Sebenarnya pembentukan SMF ini sudah dipersiapkan oleh Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah pada Kabinet Gotong Royong, Soenarno yang menyatakan SMF sudah bisa dimulai pada awal tahun depan karena sudah tersedianya anggaran Rp1 triliun.

Perlu diketahui sebenarnya perjuangan REI untuk mewujudkan SMF tidaklah berjalan sendirian sebab seiring dengan itu pemerintah juga telah mengupayakan pendirian lembaga SMF di Indonesia dan kelak diharapkan mencapai Rp3 triliun.

Dalam rangka merealisasikan pendiriannya dilibatkan beberapa lembaga pemerintah a.l. Departemen Keuangan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah [kini Kementerian Menpera dan Depertemen Pekerjaan Umum], Badan Pertanahan Nasional, Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia [kini Departemen Hukum dan HAM] dan Bank Indonesia.

Hanya saja kita juga harus mengingat pesan dari Dirjen Lembaga Keuangan Depkeu, Darmin Nasution yang mengatakan pemerintah pembentukan SMF harus dilakukan dengan hati-hati. Alasannya, perlu dipikirkan bagaimana nantinya menjaga keberlanjutan SMF dalam jangka panjang.

“Hal ini didasarkan kepada pengalaman kurang baik atas pendirian lembaga SMF di Filipina. Yang akhirnya malah bermasalah,” kata Darmin.

Tentu saja jika pelaku properti terus menunggu kapan realisasi SMF itu, maka sama artinya juga program pembangunan sejuta rumah yang dicanangkan oleh (mantan) Presiden Megawati Soekarnoputri pada peringatan Hari Habitat Nasional di Denpasar, 9 Oktober 2003 akan terus molor.

Meski begitu untuk menopang program pembangunan sejuta rumah itu, pemerintah melalui APBN tahun ini sudah menyiapkan dana Rp628 miliar.

Nah, jika kemudian SMF itu sudah berdiri masih banyak hal yang menghambat, Agus Martowardojo mengatakan,”Akan tidak lucu jika nantinya pengembang sudah membangun rumah, tapi jaringan listrik, air atau akses jalannya belum beres. Ujung-ujungnya adalah rumah-rumah yang akhirnya terbengkalai.”

Menurut dia, hambatan yang dimaksud a.l. koordinasi yang belum optimal antardepartemen maupun dengan pihak terkait seperti PT Perusahaan Listrik Negara, Badan Pertanahan Nasional (BPN), bankir, bahkan dengan pemda khususnya menyangkut cara pandang terhadap otonomi daerah (otda).

Dengan hambatan-hambatan yang masih menghambat itu maka tidak heran jika pemerintah sebelumnya bersikap realistis dengan memperkirakan penyediaan perumahan layak huni bagi seluruh rakyat baru akan terwujud pada 2017.

Patokan tahun itu tidak berlebihan jika melihat data milik Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah yang mencatat bahwa sampai akhir tahun 2003, jumlah keluarga yang belum memiliki rumah sebanyak enam juta unit. Sementara pertumbuhan kebutuhan rumah bagi keluarga baru di Indonesia mencapai 800.000 unit per tahun.

Jumlah kebutuhan rumah tersebut adalah kebutuhan riil masyarakat yang masuk dalam kategori masyarakat berpendapatan rendah dengan pendapatan kurang dari Rp1,5 juta per bulan.

Melihat angka-angka yang sedemikian besar itu maka Muhammad Yusuf Asy’ari selaku Menteri Negara Perumahan Rakyat-yang turut terbebani janji manis program gebrakan 100 hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-untuk menyediakan rumah yang layak bagi rakyat cukup realistis dengan meneruskan program kerja menteri sebelumnya.

Namun mengutip ucapan Henry Ho Presiden Direktur BII soal rencana SMF itu, dia mengatakan secara umum perbankan yang bermain di sektor kredit propersti pasti akan sangat mendukung.

“Selain itu kita juga harus bersikap realistis memberikan waktu bagi SBY bersama timnya untuk bekerja. Sebab saya yakin dia [SBY] akan mampu untuk bekerja secara maksimal.”

*Terbit di Bisnis Indonesia Edisi: 09/11/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: