it’s about all word’s

Stanley Timotius Kurnia: Smart kid

Posted on: February 20, 2008

Belia pengarang novel berbahasa Inggris

Usia bukanlah penghalang untuk menorehkan prestasi termasuk untuk membuat sebuah novel. Selama ada imajinasi dan ketekunan, ratusan halaman cerita fiksi pun bisa diselesaikan oleh siapa pun, termasuk seorang remaja.

Stanley Timotius Kurnia, demikian nama lengkap anak baru gede kelahiran 19 Agustus 1988 ini. Dua tahun lalu saat berusia 15 tahun, dia sudah menggengam khayalan untuk menulis enam judul buku. Sesuatu yang pasti jarang terbersit dalam benak kelompok anak remaja seusianya. Andai pun ada, barangkali hanya berupa asa yang tak pernah terejawantah.

Stanley dua tahun lalu punya cita-cita dan kini dia layak berbangga diri dengan memperkenalkan novel perdananya setebal 341 halaman. The Corruption, demikian dia menjuduli ribuan kalimat yang dia rangkai di sela-sela kesibukannya sebagai murid kelas 2 SMU Pelita Harapan, Karawaci. Sesuai dengan judulnya, novel ini 100% menggunakan bahasa Inggris.

“The Corruption saya tulis sendiri. Jika ada editing, itu dilakukan hanya dari segi grammar,” katanya pekan lalu di hadapan keluarga, guru, teman sekolah, dan puluhan wartawan yang kerjanya setiap hari menulis.

Luar biasa. Itulah kata yang beberapa kali terlontar dari sejumlah kuli tinta yang hadir saat peluncuran buku ini. Masih ABG, bisa nulis novel 341 halaman, pakai bahasa Inggris lagi. Bagaimana dia bisa menjadi seperti ini?

Faktor lingkungan

“Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya,” kata Wanny Bhakti, PR Indomobil Group yang memandu acara saat itu mulai membuka background Stanley. Remaja berbadan gemuk ini ternyata putra Wiwie Kurnia, salah satu eksekutif penting di Indomobil Group.

Wanny seakan ingin menyatakan jika anak orang “besar”, pasti akan cerdas, ngetop, dan jadi orang. Padahal harus diakui tak sedikit juga orang “besar” yang gagal mendorong anaknya ke tangga kesuksesan.

Stanley kecil hidup di Barat dan menempuh pendidikan dasarnya di Northern Hills Elementary, Oklahoma, Amerika serikat. Ketika di taman kanak-kanak, buku yang disukainya antara lain dongeng The Little Pig and The Big Bad Wolf serta cerita anak-anak lainnya seperti Willie Wonka atau Little Engine That Cloud.

Menginjak kelas tiga SD, dia sudah mulai membaca buku-buku fantasi yang lebih serius seperti The Chronicles of Narina karangan C.S Lewis (terdiri dari tujuh buku yang masing-masing tebalnya sekitar 200 halaman) dan The Lord of The Rings karangan J.R.R Tolkiens (tiga buku, masing-masing setebal 300-400 halaman).

Tak ketinggalan, buku-buku klasik seperti karya Shakespeare dan Charles Dickens juga dibacanya. Sama seperti remaja pada umumnya Harry Potter pun menjadi bacaan wajibnya.

“Kelas satu sekolah dasar, dia mendapatkan penghargaan karena membaca buku paling banyak yaitu 100 buku selama setahun,” ungkap sang ayah yang sempat tak percaya kemampuan anaknya melahap buku cerita berbahasa Inggris setebal lebih 1.000 halaman hanya satu setengah hari. “Akhirnya saya percaya setelah suatu saat saya tes dia dengan buku yang dibacanya.”

Setiba di Tanah Air, Stanley sekolah di SMU Pelita Harapan, Karawaci. Di sinilah sebenarnya anak muda ini mulai mengasah penanya.

Saat duduk di kelas 10 (umur 15 tahun), sekolahnya memberikan tugas kepada seluruh siswa untuk membuat sebuah “personal project” yang harus dikerjakan dalam waktu satu tahun. Bentuknya beragam, tergantung minat masing-masing siswa. Nah, dari tugas inilah lahir novel The Corruption.

Lingkungan “serba buku” dan sistem pendidikan yang mampu memicu kreativitas inilah sebenarnya yang membentuk sosok pengarang remaja ini. Peran orang tua memang ada, setidaknya saat ayah ibunya menghantarkan Stanley pada milieu pergaulan yang tepat.

Wiwie memang seorang pelaku usaha yang mungkin dilihat orang memiliki kecukupan yang melimpah. Namun pada kenyataannya, toh tak semua orang berada, mampu mengawal anaknya dalam lingkungan pergaulan yang tepat.

Stanley memang bukan satu-satunya anak muda yang mampu merajut kalimat dalam bentuk novel. Sebelumnya, negeri ini memiliki Natasha Alessandra, pengarak cilik 8 tahun penulis cerpen The Adventure of Molly, setebal 60 halaman. Museum Rekor Indonesia pun mendaulatnya sebagai penulis cerita anak termuda pertama dalam kategori penulis cerita berbahasa Inggris.

Penghargaan bagi pengarang memang penting, termasuk untuk Stanley atau Natasha. Tapi menyebarkan budaya tulis-baca di masa anak-anak nampaknya jauh lebih penting untuk menyiapkan generasi yang memiliki imajinasi untuk maju.

Di penghujung acara, Stanley berujar, “The Corruption dalam novel saya bukanlah korupsi dalam pengertian politik tapi korupsi kekuatan.”

Mau tahu korupsi di alam imajinasi Stanley? Bacalah novelnya.

*Bisnis Indonesia Edisi: 27/09/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: