it’s about all word’s

Sukses karena jujur dan menepati janji

Posted on: February 20, 2008

Judul : Fotobiografi Djoenaedi Joesoef
senyum, sederhana, sukses
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 215 halaman

Untuk menjadi pengusaha sukses tidak perlu menipu, mencari kesempatan, dan melanggar aturan. Ternyata berbisnis dengan prinsip lurus dan sederhana bisa membawa suatu perusahaan berkembang pesat.

Jujur, sederhana dan sesuai etika. Itulah prinsip mendasar yang dijalani oleh pendiri PT Konimex Pharmaceutical Laboratoriues, Djoenaedi Joesoef, dalam merintis usahanya.

Penulis buku Arswendo Atmowiloto bahkan menilai Djoenaedi sebagai pribadi unik yang selalu menggunakan bahasa sederhana dalam menjawab persoalan berat. Ketika penganugerahan The World’s Best Entrepreneurs di Monaco, Monte Carlo, misalnya, Djoenadi mampu menjawab dengan sederhana pertanyaan pengajar senior dari Harvard University. Pakar itu ingin tahu upaya Konimex melebarkan bisnis di daerah yang prasarananya minim. “Saya menggunakan kendaraan yang ada. Saya memakai orang-orang di daerah tersebut,” tandas Djoenaedi.

Begitulah kira-kira pesan moral yang ingin disampaikan dalam Fotobiografi Djoenaedi Joesoef senyum, sederhana, sukses yang diterbitkan Maret 2005. Buku ini diluncurkan awal April 2005 di Hotel Darmawangsa dan dihadiri banyak tokoh dan pejabat penting.

Jika melihat jalan hidup tokoh yang dipilih oleh Ernst & Young sebagai tokoh World’s Enterpreneur of The Year ini maka yang tergurat secara jelas adalah perjuangan terus menerus.

Terlahir dengan nama Joe Djia Lian tanggal 6 Juni 1933 di Solo. Dia dibesarkan oleh sang ayah, Joe Hong Sian, yang membuka toko obat Eng Thay Hoo sekaligus berpraktik sebagai tabib Tionghoa (sinshe) di Kota Batik itu.

Ilmu bisnis Djoenaedi diasah dan diturunkan dari sang ayah secara otodidak. Bagai besi, Djoenaedi ditempa berulang-ulang oleh pengalaman secara langsung. Menurut pengamat ekonomi Kwik Kian Gie, Djoenaedi memperoleh kemampuan teliti terhadap bidang yang digeluti karena pengalaman di masa muda.

Jika boleh diistilahkan, kata Kwik, Djoenaedi adalah tokoh ‘street smart’ yang berpikir praktis, tetapi juga menghormati ilmu bisnis yang diperoleh di bangku perkuliahan.

“Ketika menjaga toko, Djoenaedi muda dipaksa belajar mengenali produk obat dan khasiatnya secara rinci. Setelah menguasai obat-obatan, kemudian diberikan tugas untuk berbelanja,” papar Kwik dalam buku ini.

Sadar kemampuan

Prinsip berinvestasi dengan tepat juga didapat dari sang ayah. Ceritanya pada suatu hari, Djoenadi salah berbelanja sehingga dipaksa oleh ayahnya untuk menjual barang itu ke toko lain. Ayahnya memberikan ilmu, bahwa untuk produk yang keuntungannya rendah, tidak boleh terlalu lama mengendap sebagai stok.

Semua apa yang diajarkan ayahnya dan diwarisi oleh Djoenaedi, sebenarnya adalah teori bisnis yang diperlajari di bangku kuliah. Oleh karena itu, kesuksesan Djoenaedi menimbulkan tanda tanya apakah pengusaha itu diajarkan di bangku sekolah atau dilahirkan.Meski begitu Djoenaedi sangat menghargai sumber daya manusia jebolan bangku sekolah. Faktanya dia memanfaatkan tenaga sarjana untuk bidang yang tak dikuasai.

Menurut Djoenaedi, untuk mencapai sukses harus ada kesinambungan antara manajemen bisnis, manajemen sumber daya manusia dan manajemen sistem. Selain itu, dia tidak memaksakan diri untuk menguasai seluruh kendali bisnisnya.

Dia secara sadar lebih memilih mengendalikan manajemen sumber daya manusia dan sistem. Maklum, hal ini memerlukan karisma pribadinya selaku pemimpin.

Tak mengherankan bila perjalanan gerbong bisnis Konimex banyak melibatkan konsultan dari Jakarta yang dibawa Djoenaedi ke Solo. Beberapa di antaranya langsung diajak terlibat aktif dalam perusahaan ini.

Dalam buku ini, bankir Robby Johan yang bersama Abdul Gani berperan mengangkat nama Garuda Food juga memuji kemampuan Djoenaedi bertahan di tengah krisis moneter pada 1997. Dia meyakini pentingnya kerja keras dan menjaga komunikasi serta kepercayaan.

Buku ini menarik, bukan karena Arswendo lincah bermain dengan jalinan kata-kata yang mudah dicerna. Namun, foto-foto yang menghias buku ini memaksa kita untuk larut dalam romantisme perjuangan Djoenaedi di masa lalu.

Dalam artikel dan foto itu bisa disimak kiprah Djoenaedi di lingkungannya. Dia selalu menyisihkan sebagian keuntungan untuk membangun sekolah atau rumah sakit. Bagi dia, pengusaha besar bukan karena meraup untung besar, tetapi karena bermanfaat bagi lingkungannya.

Seperti kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang Begitu juga Djoenaedi meninggalkan banyak karya nyata bagi sesama selama hidupnya. Lihat saja di Sukoharjo berdiri Rumah Sakit Dr. Eon Solo Baru.

Meski begitu, saat ditemui Bisnis pada peluncuran bukunya, Djoenaedi tetap saja dengan nada canda berujar, “Ah, buku ini ndak ada isinya apa-apa. Cuma omongan ngawur thok.”

Maka begitulah yang akan Anda dapatkan usai menyimak buku setebal 215 halaman ini: Nilai-nilai kesederhanaan, kerja keras, kecintaan pada keluarga dan sikap rendah hati dari seorang pengusaha sukses.

*Bisnis Indonesia Edisi: 24/04/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: