it’s about all word’s

Tidak sekadar menang kompetisi

Posted on: February 20, 2008

Judul : “7 in 1” Business Competition Strategy
Penulis : Handito Hadi Joewono
Penerbit : Bisnis Indonesia dan Arrbey Indonesia
Penerbitan : Januari 2005
Halaman : xi + 363 halaman

Dalam buku terbitan kerja sama antara Bisnis Indonesia dan Arrbey Indonesia ini, Handito menulis dengan gayanya yang khas yang memadukan keseriusan memainkan data dan fakta, juga kelakar rakyat ala ludruk.

Di halaman awal buku, konsultan strategi kompetisi dan pemasaran ini langsung berbicara bahwa hidup ini merupakan ajang kompetisi. Berkompetisi dengan orang atau perusahaan lain bahkan dengan bayang-bayang diri sendiri.

Namun takut gagal, takut kalah atau takut tidak mendapatkan kesempurnaan merupakan hal-hal negatif yang bisa menjadi sesuatu yang positif kalau dikelola dengan bijaksana.

Bahkan justru dari sanalah timbul keinginan bahkan ambisi untuk menggapai hal yang lebih baik. Lebih baik dari masa lalu, lebih baik dari target atau lebih baik dari kompetitor.

Berkaitan dengan pengelolaan bisnis, Handito berpendapat kemauan dan gairah berkompetisi seharusnya menjadi penggerak utama roda perusahaan. Tentu saja gairah berkompetisi dalam rangka mendapatkan hasil yang lebih baik.

Untuk itu diperlukan kinerja kompetisi yang tidak akan bisa diraih dengan sistem kebut semalam. Diperlukan upaya terus menerus untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Untuk itu ditempuh empat langkah a.l Competition Enthusiastic yang berarti sikap pandang terhadap kompetisi. Berikutnya Entrepreneurship yang artinya jiwa bisnis harus menjadi bagian dari seluruh komponen perusahaan.

Tidak dapat dilupakan adalah Strategic Planning dalam rangka meraih competitiveness harus dilakukan dengan proses Business Outlook and analysis, Formulating Strategic Vision and Businnes Mission, Developing Strategic Corporate Objective dan Crafting The Strategy

Terakhir adalah Competition Strategy yang yang ditekankan dalam buku ini, dengan menggunakan konsep 7 in 1 Businness Competition Strategy maka perumusan strategi kompetisi diawali dengan melakukan pemetaan kompetisi dan analisis pasar. Selanjutnya menetapkan kompetitor sasaran utama.

Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan pemilihan strategi kompetisi generik yang bisa merupakan strategi menyerang (offensive strategy), strategi bertahan (defensive strategy), flanking strategy maupun strategi gerilya (guerilla strategy).

Pemetaan kompetisi disajikan dalam bentuk perbandingan kinerja kompetisi dari masing-masing pemain dengan menggunakan parameter kompetensi “7 in 1” Competition Objective yaitu Sales, Market Share, Customer Awareness, Customer Images, Costumer Satisfaction, Costumer Loyalty, Stakeholder Value dan Growth.

Sedangkan analisis pasar meliputi perhitungan ukuran pasar dan pertumbuhan pasar, dilanjutkan memotret pasar dengan melakukan segmentasi pasar dan terakhir menetapkan prioritas target pasar. Pada langkah yang paling puncak adalah mempersiapkan strategi kompetisi.

Strateginya yang bisa dipilih oleh perusahaan bermacam-macam a.l. Great Perception, Quality Product, Innovative Product, Customer Engagement, Massive Distribution, Competitive Price, Stive Sales Person dan Customer Insight.

Studi kasus

Jika pada buku-buku pemasaran asing di mana pasarnya adalah pasar di negara orang lain maka pada buku ini Anda dipastikan akan cepat merasa akrab dengan berbagai studi kasus pemasaran yang ada di negara ini.

Dengan membaca studi kasus dan strategi yang telah mereka kembangkan di Indonesia, Anda seakan sedang menyaksikan petinju-petinju ekonomi dan bisnis beradu strategi di ring secara langsung.

Contoh yang dengan manis disajikan Handito adalah merk sabun Attack. Menurut dia, Attack tidak memilih menjadi pelanduk yang mati ditengah pertarungan gajah. Gajah yang dimaksud tak lain adalah Rinso, Daia dan So Klin.

Pada kasus pemasaranya, Attack memilih untuk menggunakan strategi untuk tidak terpengaruh dan tidak menanggapi strategi para kompetitornya secara frontal. Selain itu digunakannya strategi kompetisi generik yang hasilnya mampu menyelinap di antara raksasa Unilever dan Wings.

Hal itu dibuktikan dengan peraihan ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award) pada periode 1999 hingga 2003.

Dengan contoh di atas, Handito pun seakan ingin menekankan prinsip bahwa seharusnya kompetisi bisnis bukan untuk saling menjegal, saling menghancurkan apalagi saling membunuh.

Menurut dia seharusnya berkompetisi menjadi kegemaran bagi pelaku bisnis tulen. Sebab prinsip mematikan kompetitor harus dibuang jauh-jauh. Alasannya semangat berkompetisi dalam rangka mencapai hasil yang lebih baik. Akan sangat menguntungkan banyak pihak.

Pihak-pihak tersebut di antaranya konsumen, perusahaan penjual barang atau jasa dan masyarakat umum demikian juga karyawan, manajemen dan pemegang saham, termasuk pula kompetittor sebab mereka akan terpacu untuk lebih baik.

Tentu saja untuk memenangkan persaingan itu diperlukan strategi dan keseriusan a.l. membangun persepsi yang baik sesuai dengan posisi merek yaitu dilakukan dengan melakukan komunikasi pemasaran secara intensif.

Selain itu, meningkatkan kualitas produk sehingga sebuah perusahaan harus senantiasa meningkatkan kualitas produk, baik itu jasa, barang maupun gagasan. Dari sudut pandang pemasaran, hal ini sering dipengaruhi oleh persepsi. Semakin tinggi persepsi kualitas produk, semakin tinggi pula dibutuhkannya kualitas riil dari produk tersebut.

Selalu menyajikan produk-produk baru. Ini tidak berarti menghasilkan produk yang sama sekali baru, akan tetapi bisa pula berarti menghasilkan produk-produk hasil inovasi atau modifikasi dari produk yang sudah ada.

Melakukan pendekatan dengan konsumen hal ini diistilahkan dengan customer relationship management, yaitu serangkaian proses dan teknik untuk mengontrol hubungan konsumen.

Melakukan distribusi secara terintegrasi pendekatan distribusi ini memadukan sistem distribusi direct, dependent dan independent.

Harga yang kompetitif namun tidak berarti menjual dengan harga yang murah. Sebab pihak perusahaan dapat memadukan kesiapan bersaing dengan keragaman produk yang dimiliki dengan portfolio produk yang lengkap, perusahaan bisa menjual produk dengan harga beragam sesuai permintaan konsumennya.

Ternyata itu saja tidak cukup masih ada yang harus diketahui oleh market driven company yaitu sikap dasar mau memahami konsumen, kemampuan menangkap ekspetasi konsumen dan memenuhinya, desain organisasi yang bercermin pada konsumen, strategi bersaing yang adaptif dan program terencana untuk berinteraksi dengan konsumen.

Alasannya jelas sebab pada kenyataannya, pada kompetisi bisnis bertindak sebagai juri yang sesungguhnya adalah konsumen. Konsumen yang berhasil diyakinkan dan dipuaskan pasti akan membeli kembali di kemudian hari.

Hal yang memungkinkan perusahaan mendapat keuntungan untuk dibagikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan besaran makin besar dari waktu ke waktu. Nah jika Anda ingin memenangkan persaingan bisnis tersebut, maka kuncinya sederhana jujurlah dan puaskan konsumen Anda.

*Diterbitkan di Bisnis Indonesia Edisi: 26/12/2004

1 Response to "Tidak sekadar menang kompetisi"

saya tertarik dengan buku ini, kira-kira buku ni ada di jual dimana ya?
Trus covernya seperti apa?
harganya biasanya berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: