it’s about all word’s

Titik Puspa: Senang membaca saat belia

Posted on: February 20, 2008

Soal baca buku, Titik Puspa mengaku punya pengalaman yang menyenangkan di masa mudanya. “Waktu masih kecil, saya masih sempat baca buku. Tugas sekolah tak terlalu menyita waktu, ndak ada banyak les kayak anak-anak zaman sekarang,” celotehnya di sela-sela acara Kelirumologi Award di Hotel Sahid Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, anak-anak zaman sekarang kekurangan waktu untuk membaca. Salah satu cucunya yang kuliah di Singapura malah ada yang hanya tidur tiga jam demi mengerjakan tugas kuliah.

“Ah, kalau saya dulu masih sempat baca buku. Waktu kecil baca cerita-cerita H.C. Andersen, Setelah dewasa banyak baca buku tentang sejarah, musik atau pendidikan. Nah anak-anak sekarang…,” katanya dengan nada tanya.

Karena kesibukan sehari-hari, Titik sekarang jarang membaca. “Wah sibuk banget. Bacaan saya ya apa yang saya lihat hari ini,” tukasnya.

Dalam pandangan nenek berusia hampir 70 tahun ini, sekolah masa kini terlalu berat bagi anak-anak. Selain tugas, mata pelajaran juga terlalu banyak. Akibatnya, anak-anak kurang fokus kepada pengembangan diri.

Dia menuturkan, untuk jangka waktu yang panjang, anak-anak yang kurang membaca dan berkesenian akan tumbuh menjadi manusia yang pasif dan tidak peka pada lingkungan.

Sebagai seniman yang memulai karier di bidang seni suara sejak 1954, Titik sudah menciptakan lebih dari 400 lagu. Selain bernyanyi, dia menciptakan operet dan telah memainkan 19 film layar lebar.

Yang unik saat kecil, selain hobi baca buku cerita anak-anak Titik yang sering sakit-sakitan itu setelah sembuh dari sakitnya setiap pulang sekolah selalu menyanyi di atas pohon.

Nama Titik Puspa pun cukup unik. Karena sering sakit, tradisi Jawa mengharuskan kedua orang tuanya untuk mengganti namanya. Dari Sudarwati menjadi Kadarwati, lalu Sumarti dan menjadi Titik Puspa dari kawan-kawannya.

Juara Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jateng 1954 ini tetap hebat berkarya, contohnya musik latar film GIE yang berjudul Terombang di Penantian adalah ciptaannya.

Beberapa lagu ciptaannya juga dinyanyikan oleh penyanyi lain, dan sekaligus melambungkan nama penyanyi tersebut. Ambil contoh, Lilies Suryani (Gang Kelinci), Eddy Silitonga (Romo Ono Maling, Rindu Setengah Mati), Acil Bimbo (Adinda), serta Euis Darliah (Apanya Dong).

*Bisnis Indonesia Edisi: 21/08/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: