it’s about all word’s

Wakatobi: Real heaven

Posted on: February 20, 2008

Kepulauan Wakatobi surga yang terlupakan

Wakatobi memang teramat indah. Gugusan pulau di Laut Banda ini tak hanya kaya flora dan fauna laut, tapi juga menyimpan peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Tak salah jika Wakatobi disebut surga dunia.

Untuk menemukan surga Wakatobi, saya rela meringkuk di kabin pesawat, mobil hingga kapal laut selama dua hari perjalanan. Pengorbanan itu pun tak mampu menandingi keindahan alam di sepanjang perjalanan. Gugusan kepulauan terbentang menghijau dengan pantai yang putih dan lautan yang membiru bersih.

Pulau Bau-Bau merupakan gerbang menuju Pulau Wangi-Wangi atau Pulau Hoga. Di tempat ini terdapat Pantai Lakeba. Tempat ini sedang dikembangkan oleh pengusaha asal Makassar.

Selain Lakeba, 15 menit ke ke arah timur, situs benteng dan istana kesultanan Buton yang dibangun pada abad ke-16 sudah menanti. Di benteng ini terdapat beberapa peninggalan sejarah, antara lain masjid, tiang bendera dan Istana Wolo.

Di sampingnya menjulang setinggi kurang lebih 50 meter tiang bendera kayu. Tiang itu juga berfungsi sebagai pijakan bagi para pengamat. Dari tempat ini seluruh pantai terlihat jelas.

Ke arah atas, saya menemukan Istana Wolo yang sekarang dimanfaatkan sebagai museum. Di tempat ini juga terdapat 52 buah meriam buatan abad 17.

Tidak lama beristirahat, saya dan rombongan menuju Pasar Wajo, Lasalimu ke arah tenggara selama tiga jam. Jalanan menyisir hutan lindung di pulau itu bolong di sana sini.

Menjelang senja di ujung jalan Desa Dongkala bersandar kapal kayu Putera Tomia yang sedianya akan mengangkut kami ke Wangi-Wangi. Tapi rencana berubah. Kami harus bermalam di tempat itu menanti kapal Uki Raya menuju Hoga.

Paginya, hari ketiga di awal September, alam tampak begitu cantik. Semburat langit jingga menyambut, sekaligus sebagai tanda saluran komunikasi telepon genggam akan terputus dalam hitungan dua jam ke depan.

Surga di Hoga

Enam jam kami diayun gelombang. Tetapi rasa capek di sekujur badan langsung terbayar dengan tuntas saat Hoga yang sejak 1996 menjadi pusat penelitian terumbu karang Yayasan Pengembangan Wallacea WWF-TNC terlihat.

Pasir pantainya putih dan lembut dengan laut di gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores sedang tenang. Sejatinya, Juli-September adalah periode laut ini bergolak.

Bersama pendiri Yayasan Bajau Matilla, Chris Majoers, saya dan dua rekan lainnya menyusuri kampung suku laut Bajo di Sampela yang berdiri di atas susunan tumpukan karang.

Selain Chris, bule asal Australia di Sampela ada tiga peneliti lain, yaitu Joanna Swiecicka, Catherine Day dan Natasha Phillips asal Inggris yang meneliti suku unik itu.

Malam itu saya sekamar dengan rekan Hasrul dari TransTV yang akrab disapa Yos. Karena air tawar sulit didapat, maka mandi cukup sekali. Listrik hanya menyala hingga pk.23.00. Selebihnya gelap gulita, hanya ada orkes jangkrik dan dengung nyamuk.

Karena gelap, beberapa kawan harus berteriak karena tersasar saat mencari kamarnya. Jika ingin main terabas pun tak berani sebab banyak lubang menganga bekas karang yang terlarut oleh air hujan.

Paginya tanpa mandi kami langsung membalaskan dendam bermain air. Rasanya tak rugi karena dengan snorkling saja, ikan berwarna warni menghampiri.

Berdasarkan pengamatan WWF dan TNC wilayah Wakatobi (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko) sama alaminya dengan Pulau Komodo di Nusa Tenggara Barat, Kepulauan Raja Ampat di Papua dan Teluk Milne di Papua Nugini.

Karang di tempat ini juga lebih unik dibanding di Cebu, Filipina, Kepulauan Spermonde di Sulawesi dan Bali. Bahkan ada spesies endemik di tempat ini.

Sayangnya di Gugusan Karang Kaledupa kami tak sempat bermain air. Beruntung di Tomia kesempatan itu datang. Tak terasa senja telah menelan mentari.

Kapal cepat Kambala (ikan terbang) membawa kami ke KM Waduri. Di sana nasi hangat dan ikan asin sudah menunggu untuk disantap.

Perut kenyang, badan letih apalagi kalau tidak tidur. Alhasil selama perjalanan Tomia-Wanci tak seorang pun yang terlelap. Hingga tiba-tiba dibangunkan untuk pindah ke kapal riset WWF-TNC, Menami (ikan napoleon).

Di tempat ini, kami bertemu fish clown yang tidak ditemukan di Hoga atau Tomia. Beberapa bintang laut yang unik juga nampak tersebar di dasar laut yang bersih itu.

Hari itu sebagian berangkat ke Kendari sedangkan rombongan Jakarta menanti kapal Riko Saputra ke Bau-Bau. Hanya Lastri yang memilih kembali ke Hoga, berburu foto masyarakat Bajo Sampela.

Sembari kami berkunjung ke kampung Bajo Mola yang sudah sangat menyatu dengan masyarakat darat. Tetapi tetap saja budaya melaut menjadi kehidupan mereka.

Ah, senja mulai merayap. Cepat kami kembali. Di lantai dua kantor jadi tempat favorit untuk membidik senja yang elok itu. Dan tak terasa waktu makin sempit dan kami harus meninggalkan Wakatobi yang indah itu.

Pusat penelitian bawah laut

Sebagai tujuan wisata utama di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi, Pulau Hoga ternyata hanya buka sekali setahun sejak menjadi pusat penelitian terumbu karang Yayasan Pengembangan Wallacea lewat Operasi Wallace.

Menurut John Coop, tempat ini hanya dibuka selama satu periode, yaitu Juni hingga September, yang merupakan saat libur semesteran mahasiswa luar negeri asal Eropa dan Amerika.

“Selain periode itu. Tempat ini tutup. Tetapi mulai tahun ini, tempat ini akan dibuka sebanyak dua kali, yaitu Oktober hingga Maret. Harapannya, peneliti asal Indonesia akan makin banyak mendatangi tempat ini.”

Selain kondisi laut yang kurang bersahabat bagi penelitian dan kondisi politik Indonesia yang tidak stabil, sebetulnya alasan utama tempat ini tidak dibuka secara maksimal adalah kenyamanan penelitian.

Bayangkan saja, seandainya di bawah permukaan laut saat peneliti sedang sibuk memantau karang dan ikan, di atasnya melintas banana boat dengan wisatawan yang bersorak sorai. Belum lagi ancaman sampah yang tidak pernah bisa diatasi secara tuntas karena terkait langsung dengan kebiasaan buruk wisatawan lokal.

Sukarelawan WWF

Sebagian besar kunjungan peneliti memang masih dari Eropa, khususnya Inggris. Selain melakukan penelitian, mereka juga menjadi tenaga sukarela bagi WWF.

Jumlah peneliti yang datang bervariasi setiap tahunnya, berkisar antara 150 hingga 300 orang. “Biasanya karena promosi dari mulut ke mulut oleh mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah ke tempat ini.”

Untuk itu mereka wajib menyetorkan uang yang tidak sedikit. Sekitar 2.000 poundsterling harus disetorkan untuk kunjungan dua minggu, sedangkan untuk masa kunjungan sebulan tarifnya sekitar 1.700 hingga 1.800 poundsterling.

Untuk peneliti asal Indonesia, Jhon memasang tarif sekitar Rp4 juta hingga Rp6 juta untuk masa kunjungan dua minggu dan satu bulan. Biaya sebesar itu sudah termasuk akomodasi lokal perjalanan bolak-balik dari Makkasar ke Pulau Hoga.

Dari kunjungan peneliti itu didapatkan pemasukan yang besarnya antara Rp1 miliar hingga Rp1,7 miliar. Sebagian besar untuk operasional tempat yang dijalankan dengan pola sewa pakai.

Untuk tanah, WWF harus menyetor sekurangnya Rp45 juta pada pemilik tanah. Sedangkan untuk bangunan, WWF cukup beruntung sebab seluruh bangunan tempat itu dibangun oleh pemda setempat. Tetapi sebagai pemakai, mereka wajib memelihara tempat itu dengan dana sebesar Rp10 juta-Rp15 juta.

Biaya itu membengkak jika operasional listrik, jaringan telekomunikasi hingga peralatan selam, kapal hingga jalannya program konservasi dan penelitian di tempat ini dihitung.

*Bisnis Indonesia Edisi: 18/09/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: