it’s about all word’s

Bebas Byar Pet dengan PLTN

Posted on: February 21, 2008

Istilah byar-pet rasanya sudah akrab di telinga masyarakat. Alih-alih mendapat layanan listrik yang bagus sepanjang waktu, layanan yang diterima masyarakat seringkali mati mendadak di saat yang dibutuhkan.

Pangkal penyebab kondisi ini adalah mayoritas pasokan listrik di negeri ini bergantung PLTA yang tergantung volume air waduk pembangkit dan PLTD tergantung pasokan bahan bakar minyak.

Padahal seiring pertumbuhan ekonomi, konsumsi listrik dalam negeri semakin tinggi. Hal ini membuat beban berlebih pada waktu-waktu tertentu yang akibatnya sistem kelistrikan mengalami kegagalan fungsi.

Mau tak mau, meski Indonesia sudah merdeka, sewaktu-waktu masyarakat harus selalu bersiap dengan lilin, petromak dan obor tiap kali tersiar berita permukaan air di waduk PLTA menurun drastis atau harga BBM melonjak tinggi.

Sejak tahun 1970-an sebetulnya kondisi ini sudah menjadi perhatian pemerintah untuk segera memiliki dan mengembangkan sumber energi alternatif yang andal.

Namun untuk mengarah ke energi geothermal atau panas bumi dibutuhkan dana yang tidak sedikit, mengarah ke energi surya terbentur dana pembangunan dan perawatan yang selangit.

Tak heran lantas lantas muncul ide pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Alasannya? Sederhana saja, pembangkit berbahan baku uranium ini mampu menghasilkan energi hingga ribuan kali lipat.

Bahan menurut dosen Sekolah Fisika Fakultas MIPA ITB Zaki Suud kapasitas pembangkitan masih bisa ditingkatkan. “Dengan asumsi sama-sama menggunakan reaktor generasi ke tiga, energi yang dihasilkan PLTN bisa mencapai 1.000 MWE sampai 1.400 MWE. Bandingkan dengan pembangkit air 60 MW atau batubara 10.000 MW,” jelasnya.

1 Mega Watt Electronis (MWE) sendiri setara dengan 1.000 Mega Watt (MW) atau bila diumpamakan satu gram uranium yang sudah diolah akan mampu menghidupi seribu rumah selama satu hari dengan daya listrik setiap rumah mencapai 1 KW!

Kapasitas yang begitu menakjubkan ini tentunya membutuhkan persyaratan yang khusus. Terutama dalam hal kesiapan anggaran pembangunan, pengelolaan, serta penanganan limbah dari reaktor nuklir.

Doktor lulusan Tokyo Institute of Techonology ini mengungkapkan dibutuhkan dana sedikitnya Rp15-20 triliun dalam membangun reaktor nuklir dengan spesifikasi teknologi reaktor antara generasi 2,5 atau generasi ke-3.

Menurutnya, bagi negara dengan pendapatan yang pas-pasan, Indonesia membutuhkan skema penggandengan investor asing dengan menerapkan konsep build-operation-transfer (BOT) dalam membangun PLTN ini.

Konsep ini akan membuat pemerintah dalam periode sepuluh tahun pertama hanya membeli energi listrik dari investor, untuk selanjutnya bisa membeli reaktor itu mulai tahun ke-25.

Zaki mengungkapkan pengelolaan reaktor tersebut membutuhkan sumber daya nasional yang bukan hanya berkualitas tapi juga memiliki kepatuhan yang tinggi dalam menerapkan seluruh standar operasional.

“Ingat, kejadian meledaknya reaktor utamanya dipacu oleh standar kerja yang tidak dipatuhi. Karenanya, aktivitas pegawai itu wajib bisa dipantau kamera selamanya. Apa yang dia tulis, apa tombol yang ditekan wajib terlihat,” katanya.

Bukan hanya itu, pemilihan daerah yang akan dijadikan lokasi reaktor harus sudah memenuhi persyaratan yang ketat terutama mengenai kemungkinan terkena tsunami, angin topan, letusan gunung, gempa bumi, dan lainnya.

Maka sejak tahun 1975, pemerintah melalui Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) melakukan workshop Karangkates dan mendapatkan usulan di 14, lalu pada seleksi 2 (1979) dihasilkan lima daerah pilihan.

Kelima daerah itu masih diperas lagi pada seleksi 3 (1980-1983) yang dilakukan oleh BATAN-NIRA Site didapatkan dua daerah terpilih yaitu Semenanjung Muria-Ujungwatu dan Lasem-Sluke

Wilayah itu masih di seleksi lagi selama periode 1991-1996 oleh BATAN-NEWJEC dan mendapatkan lima tapak a.l Ujung Lemahabang, Ujung Grenggengan dan Ujung Watu. Msing-masing tapak mampu menampung PLTN dengan kapasita pembangkitan hingga 7000 MWe.

Selain itu lokasi tersebut harus terisolir dari kemungkinan sabotase, ancaman bom, atau bahkan kondisi lalu lintas yang bisa mengganggu operasional PLTN.

Spesifikasi produk yang digunakan pada PLTN juga tidak boleh sembarangan. Produk yang digunakan haruslah produk yang dihasilkan industri manufaktur dengan tingkat kegagalan 1:1.000.000. Alias, dari satu juta produksi yang gagal hanya satu.

Syarat yang ketat itu sendiri dikeluarkan oleh International Atom Energy Agency (IAEA) guna memastikan bahwa reaktor tidak meledak karena kecerobohan sistem dan personel sebagaimana terjadi di Chernobyl, Ukraina pada 28 April 1986.

Pria asal Wonosobo ini menilai teknologi reaktor generasi 2,5 sendiri sebenarnya sudah makin canggih, dimana teras (inti reaktor) tidak akan meledak apabila terjadi bencana alam atau sabotase karena tenaga utama reaktor mati sendiri.

Hal tersebut, ujar Zaki, terbukti pada reaktor nuklir di Kobe Jepang yang tetap aman saat diterjang gempa hebat beberapa tahun lalu. Akan tetapi, lokasi yang steril dan tidak banyak keluar masuk orang memang menjadi prioritas nomor satu dalam PLTN.

Lantas, bagaimana dengan pengolahan limbahnya? Inilah hebatnya nuklir karena sisa-sisa produksinya ternyata masih sangat komersial digunakan apabila sistem pengolahan sudah dipahami dengan benar.

Pernah mendengar pengobatan kanker menggunakan sisa ampas PLTN, sensor kebakaran berbahan baku uranium, atau tes kerapatan beton menggunakan partikel neutron? Itu semua adalah bukti sahih beberapa sampah nuklir yang bisa sangat bermanfaat.

Persoalannya kemudian, sambung dosen ITB itu, sosialisasi kegunaan nuklir masih belum optimal. Masyarakat masih mencitrakan nuklir sebagai zat mengerikan yang meluluhlantakkan Chernobyl dengan sekejap.

“Persepsi ini sudah kuat terbentuk. Padahal, korban mati Chernobyl itu hanya 31 orang. Lagipula, pemberitaan kasus ini terlalu dibesar-besarkan oleh media massa utama di dunia saat itu yakni Amerika yang sedang terlibat perang dingin dengan Soviet,” katanya.

Seluruh pejabat di negeri ini apabila serius ingin membangun PLTN, harus terus mengkampanyekan ke dunia internasional bahwa yang dibangun adalah reaktor daya. Bukan reaktor riset yang kerap disalahgunakan menjadi laboratorium senjata nuklir.

Zaki juga berharap kesadaran pemerintah Indonesia untuk beralih kepada energi altrenatif lewat serangkaian program akhir-akhir ini, harus segera ditindaklanjuti keberanian untuk mewujudkannya ke dalam tindakan nyata. Demi Indonesia yang terang benderang.

12/10/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: