it’s about all word’s

Black September: in da hand of Spielberg

Posted on: February 21, 2008

Bukan Steven Spielberg kalau tidak bikin kejutan. Sekitar 12 tahun silam, filmnya berjudul Schindler List, kisah pembantaian Nazi terhadap orang Yahudi dalam Perang Dunia II, mengundang kecaman dari warga Jerman.

Kini, seperti dikutip dari BBC.com, film baru Spielberg, Munich, menuai kecaman dari bangsa sedarahnya, Yahudi. Maklum film ini menyangkut masalah sensitif mengenai bentrokan Palestina-Israel. Film tersebut berlatar belakang tragedi pembantaian altet Israel di Olimpiade Munich, 1972

Menurut Hollywood.com, film yang diangkat dari buku Vengeance: The True Story of an Israeli Counter-Terrorist Team karya wartawan Kanada, George Jonas, ini mulai diputar 23 Desember.

Publik Israel di Amerika pun bereaksi keras. Tak kurang dari Ehud Danoch, Konjen Israel di Los Angeles, langsung memprotes film yang berisi cerminan genangan darah, dendam dan air mata.

Danoch menyebut tokoh eksekutor di tim pembunuh Mossad, Yuval Aviv, yang menjadi sumber penulisan Jonas itu bukan merupakan anggota Mossad.

Kritik keras tak membuat Spielberg surut. Penerima Jewish Film Archive dari Hebrew University, Yerusalem, berpendapat bahwa film ini merupakan cerminan realitas sejarah.

Tragedi Munich tak hanya sejarah kelam dalam sejarah penyelenggaraan Olimpiade. Saat itu, 4 September 1972, kelompok radikal Black September (BS) melancarkan aksi teror bersandi operasi Berim Ikrit.

Sasarannya perkampungan atlet tempat olahragawan negeri Zionis itu menginap.

Hanya berselang enam hari, BS membajak sebuah pesawat Boeing 707 Luthansa rute Ankara-Beirut. Tak lain untuk alat barter dengan pemerintah Jerman Barat agar membebaskan kawan-kawan mereka.

Israel pun geram. Wanita besi Israel, PM Golda Meir (yang dalam film tersebut diperankan oleh Lynn Cohen), memberikan perintah tegas pada Angkatan bersenjata Israel (Zahal), badan intelijen Israel (Mossad) dan badan intelejen angkatan bersenjata (A’man) untuk melibas BS dengan jalan apapun.

Dengan gerak cepat, agen Mossad Avner Kauffman (Eric Bana) menghidupkan sel-sel intel di Eropa. Tak butuh waktu lama. Lewat kerjasama intelejen lintas negara dia berhasil mengidentifikasi dan menyikat pentolan BS yang bertanggung jawab terhadap tragedi Munich.

Hasilnya antara Oktober 1972 hingga Maret 1973, lima pentolan BS yang tersebar di Eropa berhasil dibabat. Mereka antara lain Wadal Adel Zwaiter, Mahmoud Hamsari, Hussein Abdul el Chier, Basil el Kubaisi dan Zaid Muchasi.

Dengan hasil ini artinya tinggal enam pentolan BS yang masih harus diburu. Tapi itu tak mudah, sebab keenamnya bersembuyi dan dijaga ketat di markas BS di Beirut, Lebanon.

Operasi Musim Semi

Bulan berbilang, Zahal, Mossad dan A’man pun memerintahkan Kolonel Ehud Barak agar menyiapkan pasukan penyerbu dalam operasi yang bersandi Mivtza Aviv Ne’Urim atau Operasi Awal Musim Semi yang didukung penuh seluruh kekuatan angkatan bersenjata.

Operasi yang menusuk langsung ke jantung kota Beirut ini sangat berisiko tinggi. Tak heran petinggi Zahal, Brigjen Emmanuel Shaked, sampai turun tangan mengawasi

Delapan hari sebelum hari H, masuklah enam orang tim pendahulu dari tim Mossad ke Beirut.

Rencana hampir gagal karena tepat pada hari H, 9 April 1973, saat itu BS berupaya membajak pesawat Arkia milik Israel dan meledakkan rumah Dubes Israel di Nikosia, Siprus.

Tetapi pihak Israel tetap tenang. Lewat tengah hari, armada ‘burung semi’ itu dilepas Panglima Tentara Mayjen David ‘Dado’ Elazar dari pelabuhan Haifa. Tujuannya Dove Beach, Lebanon.

Hanya dalam hitungan jam. Tepat pada tengah malam tim Sayeret Mat’kal pimpinan Ehud Barak berhasil menghabisi Mohammed Yusuf el Najar, Kemal Nasser dan Kemal Adwan di kawasan mewah Ramlat el Bida.

Sementara itu tim pasukan intai tempur Sayeret Tzaha’nim pimpinan Amnon Shahak juga berhasil menghancurkan markas Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP) dan kompleks pelatihan Al Fatah di Sidon.

Kesuksesan yang sama juga diperoleh pasukan komando marinir pimpinan Shaul Ziv yang ditugasi meluluhlantakkan pabrik dan gudang senjata amunisi PLO di Al Qusay, Sabra.

Dari operasi ini, tiga Tzaha’nim tewas dan tiga lainnya luka parah. Sementara sedikitnya 200 gerilyawan PLO tewas, ratusan ton senjata hancur dan tentu saja berlembar-lembar dokumen penting organisasi perlawanan Palestina melayang.

Namun operasi ini tak sepenuhnya sukses. Tercatat dua pentolan BS, Mohammed Boudia dan Ali Hasan selamat karena berada di Suriah.

Meski kontroversial, studio DreamWorks dan Universal rela membiayai thriller ini. Maklum film kontroversial Spielberg, Schindler List, terdahulu secara mengejutkan berhasil mengumpulkan pendapatan US$321,2 juta.

Dan seperti yang sudah-sudah, harus diingat bahwa sutradara satu ini memang paling jago bikin sensasi di setiap filmnya. Hasilnya jelas penonton penasaran untuk menonton film ini yang artinya box office bagi film karya Spielberg.

*Bisnis Indonesia Edisi: 21/12/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: