it’s about all word’s

Bola Salju Narkoba

Posted on: February 21, 2008

Masalah narkoba di Indonesia memang ibarat bola salju yang mengelinding dari puncak gunung, angkanya semakin lama semakin besar dan menimbulkan semakin bertambahnya persoalan.

Angka ini menunjukkan potensi bertambahnya jumlah kasus narkoba yang sangat signifikan jika dilihat dari perbandingan jumlah kasus dan tersangka yang diungkap sepanjang 2005 hingga 2006.

Dalam laporan tahunan yang telah disampaikan Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa waktu yang lalu, sebanyak 12.256 kasus berhasil diungkap dan menetapkan 16.702 tersangka.

Sementara untuk periode tiga bulan pertama 2006, jumlah kasus yang berhasil ditangani aparat kepolisian mencapai 4.140 kasus dengan penetapan tersangka sebanyak 8.005 orang.

Belum selesai dengan beberapa kasus perdagangan gelap narkoba yang buntu kala mencari jalan keluar untuk memutus rantai peredarannya, muncul persoalan lain yang mengancam kelangsungan hidup anak bangsa.

Berdasarkan survei nasional dua tahun yang lalu, jumlah pecandu narkoba semakin bertambah dengan penambahan golongan usia pemakainya hingga usia anak-anak.

Menurut Ketua Pelaksana Harian BNN Komjen Pol. I Made Mangku Pastika, golongan usia yang masuk dalam kualifikasi anak-anak pengguna narkoba adalah yang berusia 7-18 tahun.

Angka mengejutkan ini didapat berdasarkan penelitian BNN pada 2005 bersama dengan Lembaga Penelitian Pranata UI mengenai Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Rumah Tangga Indonesia.

Penelitian ini dilakukan di 23 lokasi yang terdiri dari 16 kota dan 7 pedesaan di 16 propinsi dengan melibatkan 4.355 rumah tangga dan 20.303 responden yang terdiri dari 47% laki-laki dan 53% perempuan.

Dari penelitian itu dihasilkan kesimpulan kasus penyalahgunaan narkoba rata-rata sudah dimulai di usia 10-19 tahun dan tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun dan lebih banyak terjadi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan berlokasi di rumah kos.

“Bahkan pada 2004, pengguna narkoba semakin dini. Dimulai pada kelompok usia 7-18 tahun yang telah mencapai angka yang mengkhawatirkan sebesar 30%,” ujar Pastika

Data tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap 500 responden remaja pengguna narkoba di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok tahun 2005.

Dari 500 pengguna itu termasuk diantaranya pelajar dan mahasiswa yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba mulai umur 9-15 tahun.

Karier mengakrabi dunia khayal itu dimulai dengan mengkonsumsi narkoba pada umur 9 tahun dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam atau valium. Sisanya memulai dengan konsumsi cimeng atau (ganja).

Belitan Dana dan dukungan keluarga

Selain alasan mendapati ‘dunia indah’, gaul atau neraka pelarian. Alasan narkoba tak bosan-bosannya menelikung Indonesia karena gemerincing uang yang berputar di dalamnya.

Padahal dampak ekonomi dan sosialnya pun tak sedikit Hasil penelitian lain BNN bekerjasama dengan Puslitkes-UI pada 2004 menyebutkan bahwa jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 3,26 juta jiwa atau sekitar 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia.

Diperkirakan besarnya biaya ekonomi khususnya untuk konsumsi narkoba di Indonesia sepanjang 2004 mencapai Rp23,6 triliun.

Angka ini didapat dari estimasi perkiraan rata-rata biaya satuan per orang di kalangan coba pakai dalam setahun terakhir sebesar Rp68.000, teratur pakai sebesar Rp1,5 juta, dan pecandu sebesar Rp7,8 juta.

Dengan demikian nilai uang yang beredar di bisnis narkoba mencapai Rp20 triliun dan biaya penyalahgunaan narkoba akibat kriminalitas diperkirakan mencapai Rp4,2 triliun.

“Itu penelitian pada 2004, kalau tahun ini mungkin bisa mencapai lebih dari Rp12 triliun, bahkan bisa mencapai Rp20 triliun lebih,” tutur Made Mangku Pastika.

Bandingkan dengan alokasi dana APBN untuk BNN yang jumlahnya mencapai Rp219,4 miliar yang diakui Pastika masih jauh dari ideal untuk menghadapi gempuran mafia narkoba.

“Mereka kini sudah merambah ke sekolah. Dalam kelompok sekolah. Kalau perlu untuk membuka pasar [pemakai] tidak perlu uang, dikasih gratis dulu. Baru setelah itu kalau perlu harus membantu berjualan,” kata Pastika.

Selain menghadapi gempuran mafia melalui operasi-operasi kepolisian. BNN bersama lembaga swadaya masyarakat bergerak melalui gerakan advokasi dan kampanye penjangkauan kepada generasi muda.

Salah satunya adalah memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang jatuh pada 26 Juni tahun ini mengambil tema Children and Drugs… Drugs are not Childs Play yang diperoleh dari UNODC (United Nation Office on Drug and Crime).

UNODC melihat adanya tren dunia peredaran narkoba yang mulai menyasar ke anak-anak. Beberapa faktor pemicu berkembangnya kasus ini a.l pribadi individu yang tidak mampu menolak hasrat mencoba narkoba karena faktor moral dari dalam diri yang rendah atau pendidikan rendah.

Kedua faktor lingkungan yang memberikan banyak pengaruh dan membujuk untuk mencoba narkoba lalu adanya ketersediaan narkoba di lingkungan pergaulan yang membuat akses untuk mendapatkan barang haram itu sangatlah mudah bagi para penggunanya.

Dalam laporan AHRN 2005, akses mendapatkan obat tidur yang seharusnya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter, ternyata sangat mudah diperoleh di warung-warung kecil.

Penelitian juga mendapatkan hasil bahwa informasi tentang narkoba justru didapat dari peer group atau teman sebaya seiring sifat keingintahuan yang sangat besar pada tingkat usia tersebut.

Dari para pengguna narkoba diketahui bahwa 88% menggunakan ganja secara rutin dan 36% di antaranya adalah pengguna narkoba suntikan yang rentan tertular HIV/AIDS.

Laporan Komite Penanggulangan AIDS (KPA) pada United Nations General Assembly Special Session (UNGASS) di New York, Mei lalu menunjukkan penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik mencapai 51% dari total penularan melalui cara-cara lain.

Sampai saat ini, masih menurut penelitian AHRN, keluarga dan sekolah atau kampus sama sekali tidak berperan dalam mensosialisasikan bahaya HIV/AIDS bahkan tempat-tempat itu justru menjadi tempat yang paling aman untuk mendapatkan serta mengkonsumsi narkoba.

Tak heran dalam upaya menumpas semakin luasnya ruang lingkup peredaran narkoba, Pastika mengajak banyak pihak untuk turut serta dalam usaha ini.

Bukan hanya para unsur penegak hukum semata, namun pihak lain seperti para orang tua, ruang lingkup pergaulan, artis, juga dianggap perlu turut bertanggungjawab dalam usaha menumpas jaringan narkoba.

Namun kekuatan utama untuk menghadapi narkoba adalah keluarga yang memberi pendidikan kepercayaan diri dan kekuatan mental bagi sang anak. Kalau bukan dimulai dari diri sendiri, siapa lagi.

11/6/2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: