it’s about all word’s

Bonsai, tanaman mini penuh gengsi

Posted on: February 21, 2008

Bagi pecinta tanaman istilah bonsai tentu tak asing lagi. Tanaman yang di alam sejatinya raksasa direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa hadir dalam bentuk yang mungil tanpa kehilangan kesan tua.

Seni mengerdilkan pohon ini mulai dikenal di Cina, sejak ribuan tahun yang lalu, diserap Jepang dan dikembangkan hingga kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

Untuk bisa menghasilkan detail sebuah bonsai yang menampilkan lekuk akar, kekokohan dengan rimbunnya dedaunan bahkan bunga atau buah, dibutuhkan waktu dan ketelatenan yang tidak sedikit.

Untuk bonsai kelas jawara, seniman bonsai malah membutuhkan waktu hingga belasan tahun hingga puluhan tahun agar bisa tampil prima dan menampilkan pesonanya yang membuat penikmatnya tak pernah bosan memandangi.

Pekan lalu Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) DKI dan Perkumpulan Penggemar Suiseki Indonesia (PPSI) menggelar pameran nasional bonsai dan di Mangga Dua Square selama delapan hari.

Berderet-deret tanaman dengan berbagai gaya merujuk pada bentuk mahkota pohonnya a.l Formal Upright, Informal Upright, Slanting Style, Cascade, dan Semi-Cascade yang alami.

Ada pula tampilan dengan gaya landscape (pemandangan), clam (berbatang banyak), bunjin atau literate (meliuk-liuk seperti huruf China), wind swept (tiupan angin), informal, slanting, moyogi dan banyak lagi.

Dalam arena bonsai internasional nama Indonesia sudah menempati kasta tersendiri sejak sukses menyelenggarakan pameran bonsai Asia Pasific Bonsai Convention and Exhibition (ASPAC) di Nusa Indah Convention Center Hotel, 15 tahun silam.

Perkembangan Indonesia yang pesat membuat, seluruh anggota ASPAC mempercayai Indonesia menjadi tuan rumah pameran bonsai dan suiseki akbar ke 9 tahun depan di Bali.

Meski indah, harus diakui pemasukan dari bisnis pohon bonsai lebih mirip ular alias sesekali namun langsung dalam nilai nominal yang besar sedangkan tanaman hias justru lebih rutin atau rutin diburu penggemarnya.

“Kita ini mirip ular. Sekali mencaplok bisa besar sekali. Setelah itu tidur untuk waktu yang cukup lama. Untuk itu harus pintar-pintar manajemen,” ujar seniman sekaligus pedagang bonsai Syamsul Hadi asal Banyuwangi.

Seniman bonsai tidak menomorsatukan uang. Tetapi lebih kepada kesabaran, jiwa seni, dan jiwa petualang. Kesabaran diperlukan untuk memelihara sementara jiwa seni berperan saat membentuk tajuk tanaman dan jiwa petualangan diperlukan saat memburu bakalan bonsai dari alam.

“Paling baik memang membuat bonsai dari biji atau stek. Tapi itu butuh waktu lama. Jalan tengahnya ya memburu bakalan bonsai dari alam dan itu tidak gampang. Kadang harus masuk hutan atau berlayar ke pulau-pulau terpencil,” ujar Hatra Oskahar atau Han Ceng.

Jika ogah menantang angin atau diggit nyamuk hutan, bisa juga membeli ‘bahan baku’ dari petani atau pemburu yang biasanya ditampung oleh pengepul dengan rentang harga bervariasi antara Rp5000 hingga setengah juta.

Bahan baku itu lantas mulai dibentuk dengan kawat aluminium atau tembaga ukuran 1 hingga 6 mm untuk memberikan kesan patah, berkibar atau merunduk tertiup angin kencang.

Jika tahap pembentukan sudah berhasil maka bonsai berukuran kecil saja harganya bisa mencapai ratusan ribu. Harga akan terus bertambah jika bonsainya disebut sudah jadi dan mendapat kategori A atau juara harganya bisa ratusan juta.

“Namun untuk menghasilkan bonsai seperti itu perlu kesabaran, karena membutuhkan waktu hingga belasan sampai puluhan tahun,” ujar Denny Najoan yang menggeluti bonsai sejak umur 17 tahun.

Sementara pembeli perempuan tidak melihat gaya namun lebih suka bonsai yang berbunga atau berbuah karena sedap dipandang.

Tak sekedar hobi

Perkembangan bonsai di Indonesia berbeda dengan di China dan Jepang. Pasalnya di kedua negara mayoritas Budha atau Kong Hu Chu itu, Bonsai merupakan bagian dari ibadah.

Sementara di Indonesia, bonsai tak lebih merupakan hobi semata. Meski begitu bonsai sanggup menyatukan orang dari kasta berbeda-beda dalam sebuah kegiatan yang sama.

“Tiap hari di safe house [sekaligus tempat berdagang] saya di Pluit, sudah biasa jadi tempat ngumpul bapak-bapak stres yang pulang dari kantor tapi malas pulang ke rumah. Tapi bagusnya mereka kumpul untuk membicarakan bonsai,” tutur Han Ceng.

Anda sudah maklum kalau yang disebut ‘bapak-bapak stres’ oleh Han Ceng tentu saja pekerja kantoran dari kelas menengah ke atas yang sudah tidak punya masalah dengan finansial.

Bahkan demi pameran dan kumpul-kumpul sesama penggila bonsai, seorang penghobi asal Yogyakarta tanpa pikir panjang meninggalkan rumahnya sudah tidak bisa dihuni lagi karena dilanda gempa.

“Rumah di Mangkubumi sudah tidak bisa dihuni kembali. Tapi untung bonsai-bonsai saya tidak apa-apa,” ujar Sukris Dwi Ruwanto yang mengusung dua koleksinya ke Jakarta.

Sayangnya hobi ini masih sulit membetot minat generasi muda yang sering kurang sabar memelihara bonsai. Hasilnya regenerasi di hobi ini berjalan lambat jika dibandingkan hobi yang lain.

Hal itu diakui dua juri pameran kali ini, M Umar HS dari Surabaya dan W Sawala dari Sidoarjo yang kesulitan mencari generasi baru dari anak-anak muda penggemar bonsai.

Padahal dengan bonsai orang bisa hidup berkecukupan tanpa harus frustasi bekerja di kantor. Syaratnya telaten, sabar, tekun sekaligus rajin mengembangkan perkenalan dengan sesama penghobi bonsai.

Sawala juga mengingatkan bonsai produk Indonesia punya pesona bagi kolektor dari negara lain. Mulai dari penghobi di Asia Tenggara, Eropa, Amerika hingga Timur Tengah rajin menyambangi pasar dalam negeri.

Pasalnya dari seluruh anggota ASPAC baru Indonesia yang memiliki sistem sertifikasi dan standarisasi bagi bonsai yang dipamerkan. Kriterianya dari madya atau belum pernah pameran dan utama yang menampilkan bonsai unggul.

“Indonesia adalah satu-satunya bahkan negara pertama yang memiliki sertifikasi dan standarisasi di bidang bonsai. Sebentar lagi kita melangkah pada gaya Indonesia,” tutur Denny Najoan.

Adanya sistem sertifikasi dan standarisasi membuat mutu di bidang bonsai bisa terjaga dan diharapkan bisa meningkatkan apresiasi masyarakat awam terhadap seni mengerdilkan pohon ini.

Alasannya sudah menjadi rahasia umum kalau masyarakat Indonesia lebih menghormati bonsai luar negeri yang belum tentu memiliki kualitas baik atau menghargai waktu yang dihabiskan oleh seniman bonsai.

Satu-satunya negara yang memberikan apresiasi penuh terhadap bonsai adalah Jepang. Hasilnya, hobi bonsai adalah hobi prestisius dengan nilai nominal selangit bahkan kadang tak bisa dihargai dengan uang.

Bahkan banyak orang kaya bilang, lebih baik beli bonsai daripada beli mobil mewah. Bagaimana dengan Anda?

12/6/2006

1 Response to "Bonsai, tanaman mini penuh gengsi"

terimakasi atas artikelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: