it’s about all word’s

Erna Witoelar:

Posted on: February 21, 2008

Andi Erna Walinono Witoelar

Perhatiannya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat dan lingkungan terlihat sejak di kampus. Dia kemudian terjun di dunia nongoverment organization hingga dipercaya menjadi salah satu menteri pada kabinet Gus Dur. Tak penuh bertugas selama lima tahun. PBB kemudian menunjukknay sebagai Duta Besar Khusus Millennium Development Goals (MDGs) Kawasan Asia-Pasifik selama tiga periode sejak 2003.

Perempuan itu terjebak macet di ruas jalan Tol Prof. Ir. Sedyatmo, ruas tol dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Hampir tiga jam dia duduk di mobil Toyota Camry hitam yang menjemputnya. Bila tak ada kemacetan di jalan, wajarnya waktu tempuh dari bandara internasional itu menuju Kompleks Perumahan Pejabat Negara Widya Chandra tak kurang dari 60 menit.

Kemacetan lalu-lintas memang kejadian yang biasa di Jakarta. Hanya saja genangan air di jalanan akibat guyuran hujan menambah “sempurna” kemacetan jalanan Ibukota. Derasnya pun tak kalah dengan hujan yang datang dua hari sebelumnya, yang mengakibatkan sejumlah pepohonan tumbang dan menimbulkan korban jiwa dengan total kerugian mencapai Rp600 juta.

Perempuan yang menumpang di atas mobil luks itu, adalah Andi Erna Walinono Witoelar, duta besar khusus Millennium Development Goals (MDGs) untuk Kawasan Asia-Pasifik. Biasa dipanggil Erna Witoelar.

Dia baru tiba di Jakarta setelah sehari sebelumnya berada di Ternate, Maluku Utara, mendampingi sang suami Rachmat Witoelar, menteri Negara Lingkungan Hidup guna menyukseskan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)putaran kelima tahun ini.

Mendampingi sang suami dalam kunjungan ke daerah-daerah adalah sebagian waktu yang diluangkan Ibu dari tiga putra, Aria Sulhan Witoelar, Surya Cipta Witoelar, dan Wirya Takwa Witoelar ini untuk keluarga di tengah tugas-tugas pentingnya sebagai duta besar khusus MDGs. Karena dalam sebulan, waktunya dihabiskan untuk memenuhi berbagai undangan seminar dan ceramah di forum Internasional.

Sebagai perempuan Indonesia pertama yang mengemban jabatan itu, tugasnya memang tak enteng. Tanggung jawab di pundaknya adalah mendorong keseriusan pemerintah, lembaga donor, maupun perusahaan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan milenium di Kawasan Asia-Pasifik pada 2015.

Tujuan pembangunan milenium adalah kesepakatan bersama antara negara-negara berkembang dan maju guna mencapai kesetaraan. Diikrarkan enam tahun lalu, persisinya pada pertemuan The Millennium Summit yang berlangsung September 2000 di New York, Amerika Serikat. Negara yang hadir dalam forum tersebut ketika itu tidak kurang dari 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa, di mana 147 negara di antaranya diwakili oleh utusan kepala negara.

Isu global yang disepakati diarahkan pada delapan tujuan a.l. mengurangi kemiskinan dan kelaparan, mendorong pendidikan pada anak usia dini, kesetaraan jender, memerangi epidemi menular (HIV/AIDS), mengurangi tingkat kematian pada anak kecil dan ibu,dan kesetaran pembangunan yang berkelanjutan.

Kedelapan isu tersebut murni lahir dari negara-negara berkembang yang hadir dalam The Millennium Summit waktu itu. PBB kemudian berperan besar dalam mengkampanyekan tujuan MDGs ke seluruh dunia.

Sekitar pukul 20 lebih sedikit, mantan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah di era Gus Dur itu tiba Jalan Widya Chandra IV No.19. Sekitar pukul 21 dia keluar menuju ruang tamu. Menyapa saya yang sudah menunggu 20 menit sebelumnya.

Di ruang tamu kediamannya itu terdapat 12 lukisan dari berbagai aliran yang terpampang di dinding. Karya lukis tersebut asalnya dari Moskow, Rusia. Pemiliknya pernah menetap di sana sekitar 1993-1997. Berbusana biru gelap dengan motif perak dia duduk di atas sofa kuning emas, di situ kami bercakap.

Raut Erna tampak agak lelah setelah perjalanan jauh tadi siang. Namun dia berusaha tetap tampil segar dan bersemangat. Ritme kerja yang tinggi sudah biasa dijalaninya sejak masih dibangku kuliah. Hampir saban hari aktivis lingkungan hidup ini tidur sekitar pukul 24 dan bangun pagi sekitar pukul 05.

“Problem di negara ini adalah kesenjangan yang sangat besar antarpropinsi,” katanya dengan kesan suara yang pasti. Dia kemudian melipat kedua lengannya di dada seperti hendak menyampaikan semua unek-uneknya soal persoalan yang dihadapi negara-negara berkembang, termasuk di Tanah Air.

Akses masyarakat terhadap air bersih, sanitasi, pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan antara provinsi maju dan miskin tahun lalu mencapai 72 juta. Bahkan 22 juta rumah tangga yang dikategorikan sangat miskin yaitu para petani yang tidak punya lahan, pedagang kaki lima, buruh kontrak yang tinggal di pemukiman kumuh di daerah tertinggal.

Dia tidak menampik bahwa kantong-kantong kemiskinan juga masih terdapat di provinsi maju macam Jakarta dan provinsi kaya macam Riau dan Papua. “kesenjangan terlihat seperti di Pekan Baru dan Kabupaten Indragiri Hilir di Provinsi Riau,” ujarnya menyebut contoh sembari sesekali membenarkan duduknya.

Mantan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu tak hanya asal bercuap-cuap. Berdasarakan catatan dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, diperkirakan terdapat 199 kabupaten dan kotamadya di seluruh Tanah Air yang masih tertinggal dalam pembangunan.

Di seluruh kabupaten dan kotamadya itu ditenggarai 2/3 masyarakatnya hidup dalam garis kemiskinan. Letaknya di sekitar kawasan perbatasan dengan negara tetangga dan kawasan dekat pegunungan.

Namun, soal kesempatan pendidikan untuk anak usia dini dan kesetaraan jender, perempuan kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan itu bilang problem tersebut akan bisa ditasi pada 2015. “Kesempatan sekolah untuk anak usia dini akan bisa dicapai sesuai target.”

Undang Undang NO.20/2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional menetapkan dana APBD dialokasikan khusus untuk sarana perkembangan, di luar gaji guru dan biaya kedinasan. Tahun ini anggaran pendidikan masih mencapai 12,01%. Pemerintah pusat menargetkan anggaran 20% itu akan dicapai sepenuhnya pada 2009.

Soal peranan kaum perempuan, keyakinan Erna disandarkan pada kenyataan bahwa kaum hawa di Tanah Air kini sudah ada yang dilibatkan pada sejumlah jabatan kunci di birokrat. Walau dia juga menyadari dari kenyataan tersebut bahwa masih segelintir kaum perempuan yang duduk diperlemen atau jabatan politis semacam walikota dan bupati.

Percakapan sejenak terhenti. Perempuan penyuka masakan Taipa Racak itu menyodorkan koran Mimbar Kieraha terbitan Maluku Utara, yang diserahkan seorang asistennya. Dia menyebut nama Gembese, desa yang sehari sebelumnya dikunjungi dalam rangkaian PIN putaran kelima. Taipa Racak asli resep masakan Bugis, diracik dari mangga muda yang dicincang dan dicampur udang rebus.

Delapan tujuan pembangunan milenium yang akan dicapai pada 2015 nanti, sesungguhnya saling berkaitan. Bila angka kemiskinan masih tinggi, maka persoalan rendahnya tingkat pendidikan anak usia dini, diskriminasi, penularan penyakit, angka kematian anak dan ibu hamil akan terus menyusul.

Temuan kasus gizi buruk yang terjadi belakangan ini di sejumlah daerah adalah indikator bahwa akses kesehatan masih luput dari perhatian pemerintah daerah. “Pemerintah daerah harusnya jangan tersingung dengan pemberitaan koran. Kasus yang menimpa satu anak, bisa jadi indikator bahwa seluruh daerah itu bermasalah.”

Terjadinya kasus kematian anak masih tinggi, katanya, hal itu disebabkan fasilitas infrastruktur belum terlalu baik. Kematian terjadi saat korban sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan kasus kematian ibu hamil terjadi saat melahirkan anak keenam atau ketujuh. Beragam faktor yang menyebabkan angka kematian masih tinggi.

Bagaimana mengentaskan problem ini? “Kalau pemerintah, lembaga donor dan perusahaan tidak bahu membahu membantu, kawasan tertinggal itu tak akan keluar dari permasalahan kemiskinan.”

Dia bilang daerah-daerah tertinggal itu harus dibantu oleh pemerintah pusat dalam mendanai pemnbangunan karena minimnya akses informasi dan kerja sama dengan lembaga donor di luar negeri. “Pemerintah pusat harus didorong mengalokasikan APBN ke daerah-daerah tertinggal,” jelasnya.

Sebagai duta besar khusus MDGs untuk Kawasan Asia Pasifik tak henti-hentinya dia mendorong tujuan pembangunan milenium diberbagai kesempatan. Perusahaan internasioanal pun dimintanya untuk menunjukkan tanggung jawab sosial “Coorporate social responsibility sudah membaik, tapi perlu didorong supaya lebih konferhensip.”

Biodata
Nama: Andi Erna Walinono Witoelar
Tempat/ Tanggal Lahir: Sengkang, Sulawesi Selatan, 6 Februari 1947

Pendidikan
1974/Jurusan Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung.
Master Ilmu Lingkungan, Jurusan Ekologi Manusia, Universitas Indonesia.

Riwayat Jabatan
Duta Besar Khusus PBB untuk Tujuan-tujuan Pembangunan Milenium di Asia dan Pasifik, 2003-2006.
Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah pada tahun, 1999-2001
Anggota MPR
Ketua pengurus Yayasan KEHATI
Ketua Bersama Partnership for Governance Reform di Indonesia
Komisi Earth Charter berkedudukan di Costa Rica, 2002.
Wakil Presiden dari International Council Aichi Expo, 2005.
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI),
Pendiri Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
Pendiri Dana Mitra Lingkungan (DML).
President of Consumers International, 1991-1997
Anggota dari Commission on Developing Countries and Global Changes, 1990-1992.
Anggota dari Advisory Committee on Industry and sustainable Development of the Brundlandt Commission, 1985-1986.
Pendiri dan ketua pembina Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah.
Penasehat dari Asosiasi Kabupaten dan Kota.
Pendiri Community Recovery Program (CRP) atau Pemulihan Keberdayaan Maysarakat, konsorsium terdiri dari 100 LSM yang aktif membantu masyarakat pada saat terkena krisis ekonomi.
Direktur Eksekutif untuk Asia-Pasific Philantrhopy Consortium (APPC), 1999.
Penasihat Senior Regional dari The Urban Governance Initiative (TUGI) UNDP Asia Pacific yang berada di Kuala Lumpur, 2002-2003.
Penerima penghargaan dari UNEP Global 500 sewaktu Rio Summit,1992.
The Earth Day International Award di United Nations 1993.
The Indonesia Presidential Medal for The Environment 1995.

*BISNIS INDONESIA 18 April 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: