it’s about all word’s

Hamsad Rangkuti

Posted on: February 21, 2008

Bakal meluncurkan buku lagi

Jadi jawara Khatulistiwa Literary Award yang bergengsi bukan jaminan bakal lebih membuat nama si pengarang lebih berkibar atau dikejar-kejar pihak penerbit luar negeri.

Setidaknya hal itu dirasakan penulis buku kumpulan cerpen ‘Bibir dalam Pispot’, Hamsad Rangkuti yang meraih Khatulistiwa Award tahun 2003 yang sudah dua tahun ini menunggu penerbit untuk edisi bahasa Inggris bukunya itu.

“Buku saya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, tapi belum juga dapat penerbit. Sambil menunggu saya sedang mempersiapkan kumpulan cerpen terbaru yang akan rampung akhir tahun ini,” ujarnya kepada wartawan di toko buku QB World, pekan lalu.

Menurut warga Depok itu pencarian penerbit untuk buku tersebut sudah dibantu oleh Panitia Khatulistiwa Literary Award (KLA). Hanya saja sejauh ini belum juga ada hasilnya.

Setidaknya, lanjut Hamsad, berkat menang penghargaan KLA buku saya jadi lebih banyak dibaca orang. Orang jadi lebih mengenal buku itu, bahkan sampai dicetak ulang oleh penerbitnya.

“Sebelumnya mungkin orang sudah mengenal Hamsad lewat media, tapi itu hanya
sebatas tahu saja dan belum pernah membaca hasil karya saya. Tapi ketika ketika ada award kepada saya lewat buku itu, orang mulai mencari buku itu,” tutur dia.

Menurut dia melalui penghargaan KLA masyarakat menjadi bertanya-tanya dan penasaran tentang buku yang berhasil meraih penghargaan. Imbasnya tentu saja pada hasil penjualan buku tersebut.

“Selain itu saya mendapatkan hadiah uang dan diberi kesempatan mengunjungi Inggris untuk mengikuti berbagai kegiatan di bidang kepenulisan seperti London Writers Festiva,” lanjut pria kelahiran Medan, Sumatera Utara itu.

Penghargaan KLA menurut pemimpin redaksi majalah sastra Horison merupakan penghargaan tertinggi yang pernah dia terima selama empat dekade menggeluti dunia tulis menulis.

Pria berusia 63 tahun ini memang setia menggeluti dunia sastra. Sebelum Bibir dalam Pispot, Hamsad Rangkuti sudah tiga kali menerbitkan kumpulan cerpennya, yaitu Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), dan Sampah Bulan Desember (2000).

‘Bibir dalam Pispot’ merupakan kumpulan enam belas cerpen bertahun penulisan antara 1979-2003 yang pernah dimuat dalam harian Kompas, kecuali cerpen berjudul “Lagu di Atas Bus” yang pernah dua kali dimuat majalah Horison pada tahun 1981 dan 2002.

Sebelum ditetapkan sebagai pemenang, karya Hamsad telah menyisihkan 70 buku lainnya yang terbit antara September 2002 sampai Mei 2003. Dewan juri yang terdiri atas Eka Budianta, Endo Senggono, Frans M Parera, Veven SP Wardana, dan Yanusa Nugroho.

Bibir dalam Pispot memenangi penghargaan KLA dengan hadiah Rp70 juta. Tahun ini KLA memasuki tahun keenam penyelenggaraannya dengan bertambahnya besar hadiah KLA menjadi Rp100 juta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: