it’s about all word’s

Ignatius Suharyo

Posted on: February 21, 2008

Secara teoritis saya bisa kaya

Bau udara lembab pertanda hujan segera turun, meruap di bilangan Pandanaran, Semarang. Sehari setelah umat Hindu merayakan Nyepi, saya berkesempatan berjumpa dengan Ignatius Suharyo di pastoran Katedral yang hanya sepelemparan batu dari Monumen Tugu Muda.

Hari itu dia sedang kurang sehat. Sudah sebulan ini Suharyo menempuh perjalanan Semarang-Yogyakarta-Surakarta untuk menjalankan tugas sebagai gembala gereja.

“Apalagi kalau bukan tugas gereja. Tetapi sempat juga saya berdiskusi dengan kawan-kawan Muhammadiyah di Yogyakarta. Topiknya bagus sekali, tentang upaya menghapus utang negara. Kita ini merdeka tapi sebetulnya masih dijajah melalui utang,” tuturnya.

Anak keenam dari sembilan bersaudara itu sedang gembira berkat kemenangan tim sepak bola asal Inggris, Arsenal atas tim sepak bola asal Italia, Juventus dalam kompetisi piala Champions.

Selain sepak bola, dia gemar bulu tangkis. Saat ini sepak bola sudah tidak pernah dilakoni karena hambatan usia. Sementara bulu tangkis masih rutin dijalani untuk memelihara kebugaran.

Pendek kata, dalam sehari kehidupan Suharyo tak jauh-jauh dari urusan pastoral yang jauh dari kesenangan duniawi. Tak heran jika kemudian panggilan untuk hidup selibat atau tidak menikah selalu menjadi hal yang menarik bagi masyarakat kebanyakan.

“Seperti halnya imam Katolik yang lain. Kalau ditanya perihal panggilan [menjadi imam] itu butuh penjelasan yang panjang dan tidak jelas. Karena yang namanya panggilan itu memang tidak jelas,” tuturnya.

Menurut dia sejak awal jalan hidupnya memang sudah digiring untuk menjadi gembala geraja. Pertama dia dibesarkan dalam satu keluarga yang Katolik yang saleh dan taat.

Alasan kedua adalah salah seorang kakak Suharyo yaitu Suitbertus Sunardi pada tahun 1955 masuk ke pertapaan Rowo Seneng untuk menjadi pastor. Hal itu tentu merupakan pengaruh yang besar bagi dirinya.

Pengaruh lingkungan itu membuat dalam dirinya tumbuh keinginan untuk menjalani kehidupan imam sejak kecil. Hal itu mendapatkan muara, saat dia masuk pendidikan calon imam pada usia 11 tahun.

Langkah Suharyo didukung keluarga. Selain dia dan Sunardi, semua anak laki-laki dalam keluarga itu masuk seminari meski tidak menjadi imam. Sementara dua adik perempuan mereka menjadi suster.

“Saat itu saya baru lulus sekolah rakyat. Lalu masuk saja [ke Seminari ] dan senang di sana. Berkembang terus. Dan keputusan pertama saya secara sadar untuk menjadi imam adalah setelah lulus SMA tahun 1968,” tuturnya.

Setelah itu dia masuk seminari tinggi hingga lulus sebagai Sarjana Filsafat/Teologi FKSS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Dan keputusan terakhir untuk menjadi imam adalah saat akan ditahbiskan sebagai tahun 1975.

“Apa ada godaan? Ya biasa tho. Tapi saya merasa sungguh-sungguh bimbang itu belum pernah. Kebimbangan paling serius itu terjadi ketika saya naik dari kelas enam ke kelas tujuh,” tuturnya mengenang.

Saat itu teman-teman sekelas dia yang jumlahnya 26 ketika masuk kelas tujuh, 14 diantaranya mengundurkan diri. Padahal seluruh teman yang mundur itu golongan pandai. Keputusan mereka sedikit banyak mempengaruhi Suharyo dan 11 murid yang lain.

“Rektor saya saat itu, Van Der Butten bertanya. Apa kamu juga mau keluar. Spontan saya jawab tidak. Setelah itu saya tidak pernah mempertanyakan panggilan saya. Mungkin Tuhan terlalu baik pada saya,” tuturnya.

Kalau godaan perempuan?, lanjut dia, Oh kalau itu biasa. Tetapi saya belum sampai bimbang dan bertanya-tanya tentang panggilan saya.

Praktis setelah peristiwa itu, jalan hidup Suharyo terbilang mulus. Usai lulus sebagai sarjana, dia lalu bekerja di paroki Bintaran lalu melanjutkan studi tingkat Doktor di Universitas Urbaniana, Roma, Italia.

Menurut dia, sebetulnya dia merasa tidak senang selama tinggal ke luar negeri. Hasilnya selama studi itu dia hanya berkutat di rumah, sekolah dan perpustakaan.

“Tapi Roma memang kota yang luar biasa. Setiap batu di kota itu bisa berbicara tentang sejarah dunia, baik keindahan, seni, sejarah. Selain itu tidak ada hal istimewa,” kenang dia.

Dan yang tak banyak orang tahu, meski Italia gudang tim-tim sepak bola jempolan, televisi di negeri itu tak ada yang menyiarkan pertandingan sepak bola.

Tahun 1981, adalah hal yang paling bersejarah, yang pertama Suharyo berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul Ecclesiological Implications of the Lucan Last Supper Narative.

Sementara itu, masih di tahun yang sama, satu-satunya kawan tahbisan Suharyo meninggal di kota itu karena serangan jantung. Praktis dalam angkatan itu, tinggal Suharyo saja yang masih hidup.

Ketiban Jabatan

Usai bergelar doktor, dia langsung pulang ke tanah air dan mengajar di almamaternya selama 16 tahun. Hingga kemudian selarik perintah dari Roma menugaskan dia menjadi Uskup Agung Semarang.

Belum lama menjabat, tiba-tiba jabatan Uskup Agung Ordinariat Militer Indonesia diserahkan padanya karena Kardinal Julius Darmaatmadja SJ yang juga menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta mengundurkan diri dari jabatan itu.

Sesuai tradisi jabatan itu sudah secara turun-temurun selalu dijabat oleh Uskup Agung Semarang sejak tahun 1948 yaitu Albertus Soegijapranata SJ.

“Saya ya ndak tahu. Kok saya yang ditunjuk. Yang nunjuk kan Roma. Tugasnya ya melayani umat katolik yang berprofesi sebagai tentara dan polisi.,” paparnya.

Dengan dua jabatan itu, Suharyo merangkap tugas diosesan dan tituler. Uskup Diosesan adalah uskup yang diberi tugas untuk bekerja di suatu wilayah keuskupan.

Sedang Uskup Tituler adalah uskup yang tidak bertugas pada satu wilayah keuskupan, misalnya uskup yang melayani angkatan bersenjata.

Berbeda dengan Soegijapranata dan Darmaatmadja, Suharyo tidak masuk dalam tarekat Jesuit. Dia adalah imam diosesan yang tidak mengucapkan kaul kemiskinan.

“Kami mengucapkan kaul ketaatan dan kaul kemurnian. Dan tidak mengucapkan kaul religius atau kaul kemiskinan. Jadi teorinya saya bisa kaya. Teoritis. Tapi mau kaya dari mana?” ujarnya.

Jabatan itu, lanjut dia, berarti tugas pelayanan. Orang sering melihat imam pun mengejar karier. Kalau pun ditunjuk sebagai menjabat apa. Itu artinya saya mendapat kesempatan untuk memberikan pelayanan yang lebih luas.

Salah satu tantangan jaman bagi geraja yang sedang dia coba jawab adalah terus mempertahankan sumbangan tradisional gereja yaitu pendidikan dan kesehatan yang sejak jaman kolonial sudah dilakukan.

“Sejauh saya tahu sekolah dan pelayanan kesehatan Katolik sampai saat ini mutunya masih lumayan karena tidak sembarangan membuka untuk mencari keuntungan,” ujarnya.

Hal itu bisa dipertahankan karena inspirasi iman. Setiap lembaga katolik dari atas hingga bawah memiliki tiga kunci pelayanan a.l inspirasi iman, mewujudkan iman, transformasi iman.

Menurut dia kalau itu sumbangan tradisional ini terus dipertahankan maka ‘buah’ nya akan muncul entah beberapa tahun ke depan.

Selain itu kini mulai dimunculkan pelayanan baru a.l desk sekretariat mitra perempuan untuk memperjuangan kesetaraan gender, ada komisi justice and peace, komisi hubungan antara agama dan kepercayaan.

Sumbangan itu dilakukan melalui jalur yang dikoordinasikan oleh komisi-komisi di KWI, Keuskupan dan seksi-seksi di Paroki.

Sementara itu, di luar struktur gereja sedang dikembangkan ekonomi kerakyatan dalam bentuk Credit Union. Gerakan ini tidak hanya mengurusi uang tetapi juga pendidikan, keterampilan, kemandirian, kewirausahaan.

“Lebih pada mentalitas bukan pada persoalan uang. Tahun ini kami ingin memberi perhatian serius pada gerakan ini,” tutur Suharyo serius.

Tidak itu saja, lanjut dia, kini sedang dikembangkan kerasulan dalam bidang hukum. Kita sering melihat peraturan atau undang-undang yang mendadak muncul dan tidak jelas tujuannya. Bukannya mensejahterakan tetapi malah menyusahkan.

Data terakhir menunjukkan ada lebih dari 1.000 perda yang menyimpang. Termasuk perda yang ramai di Tangerang. “Dalam kondisi saat ini kerjasama antar iman dalam hal-hal perumusan aturan-aturan ini sangat penting meski agak sulit,”

Soal RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi? Jelas RUU ini akan membawa bangsa ini ke arah teokrasi. Dan ada kesan perempuan sangat dilecehkan oleh RUU ini karena selalu dianggap sebagai yang harus selalu disalahkan.

“Bahwa pornografi itu merusak ya. Itu saya setuju bahwa harus ada UU untuk meminimalisir kerusakan akibat pornografi ya. Tetapi jangan sampai UU itu mulai masuk dalam hidup moralitas!”

Kalau itu sudah terjadi, lanjut dia, negara ini akan menjadi totalitarianisme. Semua mau diatur termasuk nanti mau menanak nasi. Keberatan saya itu.

Wawancara

Pebisnis Katolik belum mewujudkan imannya!

Memerangi korupsi adalah gerakan moral yang diusung oleh bangsa ini. Sayang, gerakan yang diprakarsai Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah itu sampai saat ini terkesan berjalan setengah-setengah.

Gereja Katolik sebagai bagian dari komponen bangsa ini, sejak tiga tahun lalu menegaskan dukungan terhadap gerakan itu melalui nota pastoral dan memasukkannya sebagai tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini.

Tetapi sudahkan umat Katolik menjadikan antikorupsi sebagai hal yang dijalankan dan diwujudkan sebagai bagian dari mengimani Yesus Kristus? Untuk menjawab hal itu Bisnis mewawancarai Sekjen KWI Ignatius Suharyo, berikut petikannya :

Gereja Katolik menjadikan antikorupsi sebagai tema APP tahun ini. Apa ini artinya korusi sudah menjadi hal yang ‘diimani’ umat Katolik sebagai salah satu bangsa terkorup di dunia?

Membicarakan korupsi yang berhubungan dengan uang adalah hal mudah untuk ditemukan. Namun persoalan korupsi tidak selalu pada hal-hal yang bersentuhan dengan uang. Tidak sekadar membicarakan soal uang hilang.

Tidak menjalankan tanggung jawab untuk mewujudkan kebaikan bersama atau merugikan keadaban publik sudah menjadi bagian dari korupsi. Sama halnya ketika trust dituntut maka yang muncul justru adalah sentimen pribadi atau antar kelompok.

Kalau antikorupsi dikaitkan dengan Paskah tentu sangat berhubungan. Harapannya Paskah menjadi kekuatan bagi orang-orang Kristiani untuk terus menerus membiarkan dirinya dibusukkan oleh korupsi tetapi bangkit mulia seperti pengalaman Paskah itu.

Bagaimana dengan dunia bisnis Indonesia? Bukankah cukup banyak pebisnis besar adalah umat Katolik?

Dalam nota pastoral, bisnis sebagai salah tiang pokok keadaban publik harus dijalankan dengan prinsip fairness. Nyatanya ada perselingkuhan antara pemilik modal dan penguasa juga hal-hal buruk lain.

Tema APP ini kan tak ubahnya sebuah tawaran. Dan kita tahu tawaran yang biasanya diterima adalah hal yang menarik. Yang cocok.

Nah, tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Keadilan sosial menurut pemikiran gereja itu kan artinya tuntutan yang sangat berat bagi pemegang kekuasaan atau pemilik modal.

Pertanyaannya apakah pengusaha yang katakan lah Kristiani mau mengimplementasikan atau mewujudkan imannya dalam seluruh sepak terjang usahanya. Masalah di situ, dan hal itu belum terlihat di Indonesia.

Ini artinya mewujudkan iman dalam artian antikorupsi sangat sulit?

Ketika orang beriman katakan lah diwajibkan mengungkapkan iman. Mereka rajin. Berdoa, ke gereja, ziarah atau apa-apa pun mereka rajin. Karena tidak menuntut apa-apa, paling-paling lelah. Tetapi kalau dituntut untuk mewujudkan imannya itu berat.

Sebagai pebisnis Katolik, ini artinya dalam berbisnis harus selalu berpegang pada etika-etika ajaran sosial gereja. Itu menuntut banyak. Dan seringkali moralitas kalah dengan modal.

Kondisi tersebut yang kemudian dikatakan Bapak Kardinal [Julius Darmaatmadja] Sila pertama Pancasila sudah diganti menjadi Keuangan yang Mahakuasa.

Memang [mewujudkan iman Katolik] dalam bisnis itu tidak mudah. Saya mudah mengatakan karena saya hanya dalam tataran prinsip. Tetapi nanti kalau sudah sampai pada tataran realitas. Tidak mudah dan seringkali pertimbangannya ruwet.

Apakah gerakan menuju hal yang lebih baik mulai nampak dalam komunitas gereja?

Ada tapi baru yang kecil-kecil. Yang besar-besar? Ya begitu lah. Masalah mewujudkan iman juga terjadi pada komunitas agama lain. Rumah ibadah banyak, upacara agama selalu dipenuhi umat tapi korupsi dan kekerasan masih marak terjadi.

Dan APP sebagai masa persiapan menyambut Paskah, sejatinya adalah gerakan untuk mewujudkan iman. Besar harapan menjadikan antikorupsi sebagai tema APP bisa diwujudkan oleh umat termasuk pebisnis.

Bisa dijelaskan yang dimaksud dengan gerakan kecil-kecil itu?

Mau mengatakan yang besar bagaimana. Lha wong Gereja Katolik kan kecil. Jadi akses ke gerakan yang besar kan tidak punya. Tetapi saya percaya salah satu kekuatan bangsa ini adalah masyarakat akar rumput.

Sasaran gereja Katolik ke situ. Contohnya seperti ekonomi kerakyatan dan hal-hal kecil lainnya. Dalam nota pastoral juga ada ajakan solidaritas umat Katolik kepada kaum yang tertindas dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

Biodata
Nama : Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo
Tempat dan tgl lahir : Sedayu, Yogyakarta/ 9 Juli 1950

Pendidikan :
1968 SMA Seminari Mertoyudan, Magelang
1971 Sarjana Muda Filsafat/ Teologi
1976 Sarjana Filsafat/Teologi FKSS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta
1981 Doktor Theologi Biblicum Univ. Urbaniana, Roma, Italia

Jabatan
Guru Besar Ilmu Theologi Univ Sanata Dharma, Yogyakarta
Uskup Agung Semarang
Uskup Agung Ordinariat Militer Indonesia
Sekjen Konferensi Wali Gereja Indonesia

Pengalaman :
1981-1991 Pengajar Sekolah Tinggi Kateketik STFK Pradnyawidya, Yogyakarta
1983-1993 Ketua Jurusan Filsafat dan Sosiologi-FIP IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta
1993-1997 Dekan Fakultas Teologi Univ Sanata Dharma, Yogyakarta
1994-1996 Pengajar Univ Kristen Duta Wacana, Yogyakarta
Pengajar Unika Parahyangan Bandung
1996-1997 Direktur Program Pascasarjana Univ Sanata Dharma, Yogyakarta
1997 Ketua Konsorsium Yayasan Driyarkara

2 Responses to "Ignatius Suharyo"

Salam kenal dari Bali…….
Terima kasih atas pencerahannya

salam kenal juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: