it’s about all word’s

Industri jazz yang mulai bergairah

Posted on: February 21, 2008

Sebagai musik yang menonjolkan elemen sinkopasi. Musik jazz tergolong musik yang penuh kejutan. Hal yang sama terjadi dengan denyut nadi industri musik ini. Kadang menghentak kadang mengalun pelan.

Tahun 2006 menjadi tahun penting bagi industri jazz tanah air yang akan dibuka dengan dua pagelaran besar yaitu Jakarta Internasional Java Jazz Festival dan konser enam kota grup band Earth Wind and Fire.

Java Jazz tahun lalu mencetak sukses dengan berhasil menarik 48.000 pengunjung dan disimak oleh jutaan pemirsa baik melalui siaran radio dan jutaan pemirsa lainnya melalui saluran televisi.

Tak heran jika kemudian Ketua Umum dan penggagas festival Peter Gontha tahun ini berani untuk menghadirkan kurang lebih 100 grup band, 30 diantaranya band internasional.

Ini artinya akan ada lebih dari 1200 artis yang akan bermain di 14 panggung dan menghibur kira-kira 60.000 pengunjung selama tanggal 3 hingga 5 Maret mendatang.

“Kami selalu memperhatikan secara seksama musisi luar negeri dan musisi dalam negeri. Termasuk kerap mengevaluasi kemahiran mereka. Festival ini dirancang sesuai dengan kegemaran masyarakat pada umumnya,” ujarnya rilis Java Jazz 2006.

Pengalaman sukses tahun lalu yang dialami Dji Sam Soe Super Premium saat menyelenggarakan festival jazz berskala internasional dengan tajuk Dji Sam Soe Super Premium Bali Jazz Fextival membuat perusahaan rokok ini ketagihan.

Tak heran jika tahun ini mereka lalu mendatangkan grup musik jazz legendaris era tahun 80-an, Earth Wind and Fire Experience dalam Dji Sam Soe Premium Earth Wind and Fire Experience Worldwide Tour 2006.

“Kami berharap dapat memuaskan pecinta musik jazz yang rindu akan deretan lagu hits era tahun 80-an melalui grup musik ini. Kami juga siap menyajikan pergelaran jazz lainnya di tahun ini,” ujar Brand Manager Dji Sam Soe, Veronica Risariyana

Kedua ajang besar di awal tahun ini sama artinya musik jazz mendapat sambutan positif dari musisi jazz Tanah Air dan penikmat musik jenis ini.

Sayangnya hanya sedikit orang kaya seperti halnya Peter Gontha yang kemudian membuat ajang musik atau menghadirkan musisi jazz internasional ke tanah air.

Salah satunya Senior Country Officer Presdir JPMorgan Indonesia Gita I. Wirjawan ini mendirikan Omega Production yang banyak membidani musisi-musisi jazz muda berbakat.

Sebut saja Tompi, Niel Djuliarso, Harry Tolado, dan Rio Moreno adalah musisi-musisi muda jazz dibawah asuhan Gita yang juga akan merilis album jazz bersama musisi jazz asal Amerika, Bob James.

“Kalau memang ada musisi jazz atau musik aliran apapun yang saya lihat berbakat, saya bersedia menanggung biaya produksinya sampai mereka mengeluarkan album sendiri,” ujar Gita yang juga piawai memainkan tuts-tuts piano ini berujar.

Kampus dan bibit baru

Sementara itu, di balik gemerlap panggung jazz yang dipenuhi artis-artis internasional rupa-rupanya kampus masih menjadi tempat yang setia disinggahi oleh para petinggi musik jazz

Sebut saja Java Jazz yang selain menggelar Jazz Workshops juga mengadakan Jazz Masuk Kampus yang mementaskan musisi-musisi jazz yang akan tampil di festival nanti ke tengah-tengah kampus universitas.

Menurut Gontha ajang ini juga menjadi semacam klinik jazz dari para dewa jazz untuk berinteraksi dengan para pemula dengan membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka kepada mahasiswa.

Sebelum hadirnya Java Jazz, sebetulnya sudah terlebih dahulu hadir 28th Jazz Goes To Campus (JGTC) yang diadakan di kampus FE UI. Ajang jazz tahunan yang usianya sama dengan North Sea Jazz Festival di Belanda.

Ajang ini termasuk punya prestasi yang bagus dan bertaraf internasional. Beberapa musisi besar pernah hadir di tempat ini. Sebut saja Bob James, Dave Koz, Ron Reeves,Los Cabaleros, Coco York, Claire Martin Quintet dan Mike Del Ferro.

Sayang akhir-akhir ini dari ajang JGTC tersebut justru tidak muncul musisi-musisi muda jazz yang cukup potensial. Sebaliknya angin baik justru hadir dari New York saat
Nial Djuliars berhasil meraih urutan ketiga penghargaan pada Lomba Penulisan Lagu Amerika Serikat 2005 lewat karyanya My Smooth One.

Penampilan pianis lulusan Berklee College of Music, Boston ini tidak main-main. Terbukti saat bermain bersama Zefanya Hartani Putra dalam pertunjukan musik bertajuk Konser Jazz 2 Putra Bangsa di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 6 Januari lalu.

Inal tampil dengan grupnya, Inner Heart Jazz Ensemble sedang Zefanya yang masih berusia 11 tahun itu hadir bersama The Uncles Band mampu memukau publik penggemar jazz yang memadati GKJ.

Sebetulnya diantara keduanya terdapat calon musisi jazz di masa mendatang yaitu gitaris muda Dion Janapria yang bermain bersama pemain jazz kawakan a.l Jeffrey Tahalele (bas), Eddy Syakroni (drums), Arief Setiadi (saxsofon).

Yang terpental ke luar

“Sebetulnya memang menyedihkan kalau melihat nasib band-band jazz di dalam negeri. Kalaupun muncul musisi muda. Kadang mereka tidak sabar meniti karir. Sebaliknya jika ada justru tenggelam di tanah air,” ujar Gideon Momongan.

Gideon sendiri sampai saat ini menjabat sebagai A& R Executive Director Indie Jazz yang boleh dibilang merupakan salah satu dari sedikit promotor musik jazz lokal yang juga bergerilya memasarkan karya-karya musisi jazz lokal melalui Indie Land Record.

Gideon mencontohkan nasib grup band beraliran rock progressive (prog-rock) Discus yang membuka Jakarta World Music Festival. Ajang yang untuk pertama kalinya diadakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pertengahan Desember 2005.

Band beranggotakan delapan orang yang meraih sukses di luar negeri justru tak terlalu dikenal di dalam negeri. Tak heran banyak orang bertanya-tanya saat Discus mendapat penghargaan AMI-Samsung Award 2004.

Padahal album pertama mereka 1st (1999) dan tot licht! (2003) mendapat ulasan dari majalah-majalah musik di Amerika Serikat, Prancis, Brasil, Belgia dan Italia.

“Ironis kan? Sebagai band yang hebat Discus justru lebih sering main di luar negeri. Kalau di dalam negeri paling bisa dihitung,” lanjut Gideon.

Band ini justru lebih sering manggung festival musik di Amerika Serikat, Baja Prog V di Meksiko, Festival ProgSol, Swiss dan tahun ini Discus justru diundang tampil pada festival Zappanale di Jerman.

Festival ini sangat bergengsi sebab merupakan festival tahunan terbesar untuk menghormati komponis Frank Zappa, dan Discus merupakan satu-satunya grup musik Asia yang akan tampil di festival tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: