it’s about all word’s

Johann Casutt: Machine Pastor

Posted on: February 21, 2008

Sempat jualan naik bak terbuka

Saya dilahirkan 24 Januari 1926 sebagai anak ke 4 dari keluarga yang berlima anak. Sekolah dasar di Horgen Kt. Zuerich. Kl. 6 saya tidak menyelesaikan, karena saya dipindah ke sekolah berasrama di Engelberg.

Engelberg adalah desa turis dan mempunyai biara romo Benediktjin yang mengurus sekolah tersebut.

Selama 8 tahun saya belajar disitu dan sesudah memperoleh ijasah dari Gymnasium itu, saya pindah ke Chur 1945 untuk studi philsaphat dan theologi. Sesudah tahun ke dua saya ikut retret agung dari Ignatius dari Loyola. Saya merasa terpanggil untuk masuk ordo Jesuit dan berkarya di tanah misi.

Orang tua tidak begitu senang dengan pilihan saya, toh tidak menghambat.
Setelah diterima di ordo Jesuit, saya berangkat ke Rue, Kt. Fribourg untuk memulai novisiat yang berlangsung selama dua tahun. 1949 saya dikirim ke Inggris untuk belajar filsafat selama 3 tahun.

Sesudah itu saya harus pergi ke India. Namun pada tahun itu untuk pertama kalinya visa itu ditolak. Oleh karena itu saya dikirim langsung ke teologi, ke Eegenhoven di Belgia.
1952-1955 saya belajar teologi, ditahbiskan imam dan 1955 dikrim untuk tahap pendidikan yang terahkir ke Muenster (Westphalia).

Disitu saya menerima surat dari provinsial yang menawarkan kepada saya Indonesia sebagai tempat kerja. Saya langsung menerima tawaran itu, sehingga 1957 saya bisa berangkat ke Indonesia.

Dalam perjalanan, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi India selama 14 hari. Saya pergi ke Puna dan mengalami musim kemarau. Semua kering, tidak ada yang hijau dan dimana-mana ada debu. Saya ingat ketika kapal terbang melayang di atas Jakarta, saya merasa lega karena dimana-mana ada yang hijau.

Saya tinggal beberapa hari die Kolese Kanisius dan meneruskan perjalanan ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia. Pada bulan Mei saya pindah ke Mertojudan dan tinggal selama 8 tahun.1965 saya pindah ke Yogya, ke Asrama Mahasiswa Realino.
1971 saya harus meninggalkan mahasiwa dan mengambil alih pimpinan dari sekolah baru Akedemi Tehnik Mesin Industri.

Terus terang saya merasa berat tanggung jawab yang saya harus pikul, karena saya tidak disiapkan untuk itu. Tanggung jawab besar, karena sekolah itu disiapkan dengan
cukup banya uang.

Selama 29 tahun saya pegang pimpinan sekolah itu. Dari 75 mahasiwa kami mengembankannya sampi lebih dari 300 mahasiswa. Dari sekolah yang mehasilkan defisit, kami dapat menjadikannya sekolah yang beruntung

Pada 1 Desember 2000 saya dapat menyerahkan pimpinan kepada tenaga yang muda dan yang disiapkan, kepada Romo Triatmoko. Beliau menanyakan: Romo dapat memulai sekolah baru di Jakarta? Saya menjawab: saja mencoba.

Sekarang berdiri di Cikarang, di Education Park, satu sekolah baru, yang dapat mencetak tenaga yang trampil untuk industri. 2004 saya kena stroke, suatu tanda bawa saya harus berhenti dan meninggalkan sekolah ini kepada orang yang lebih muda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: