it’s about all word’s

Khoe Yoen What: Raja Bakso Semarang

Posted on: February 21, 2008

Bicara Semarang, pertama-tama orang tentu akan selalu ingat dengan lumpia atau bandeng presto, namun bicara soal pembuat bola daging yang bernama bakso tentu tak banyak yang tahu.

Padahal pembuatan bakso hampir mirip dengan pembuatan anggur, rasa bakso sangat ditentukan dari mana sapi tersebut berasal, jenis makanan sapi, daerah daging dipotong hingga lama daging disimpan.

“Daging sapi kelas satu itu daging sapi Jawa yang masih kedhut-kedhut [segar],” papar Khoe Yoen What, pemilik bakso sapi Bokoran Semarang.

Dari daging jenis ini dihasilkan bakso yang jika dikonsumsi tidak akan meninggalkan rasa lemak di mulut sedangkan daging sapi Bali relatif kasar berlemak dan daging impor dari Australia, India dan Amerika adalah daging bermutu paling rendah.

Seiring berkembangnya teknologi, kini bakso dapat diproduksi dengan mudah dan murah dari bahan baku campuran berbagai daging dan bahan perasa kimiawi.

“Terlalu gampang, sampai ada orang yang tega bikin bakso murah meriah dari daging ilegal dicampur formalin,” tuturnya mengomentari banyaknya bakso yang dijual murah dan sangat awet meski dijual dalam kondisi terbuka.

Khoe menuturkan dirinya tidak tertarik untuk melakukan hal tersebut selain berbahaya, dalam dunia perdagangan namanya sangat dipertaruhkan, alasan yang sangat masuk akal untuk sebuah produk yang telah 34 tahun dia bangun dan pertahankan.

Bakso Mahal itu dari Bokoran

Berawal dari membantu orang tua (Khoe Yau Siang) berjualan bakso kakap dan sapi-kini bakso Asia-di sekitar pasar tradisional Gang Baru, kawasan Pecinan Semarang.

Khoe muda bersama istri (Lilian Mi) di tahun 1970 dengan modal dengkul mulai membuat usaha bakso daging sapi di Jeruk Ringgit daerah Wotgandul. “Jaman itu, bumbu saja ngutang sana sini,” ujarnya.

Mulai saat itu, pengantin muda itu bergelut dengan daging sapi, tepung tapioka dan berbagai bumbu. Setiap pagi Khoe mengayuh sepeda kumbangnya menuju pasar Gang Baru untuk merintis usaha dan terkenal sebagai pembuat bakso mahal.

Pada jaman itu pembuat bakso di Semarang termasuk Khoe muda hanya ada empat orang-saat ini tiga diantaranya sudah meninggal atau tidak membuat bakso lagi-dan bakso Khoe dijual dengan harga Rp10/butir, paling mahal diantara yang lain.

“Saat itu ada yang nakal, jual Rp5/butir dan dijual disebelah dagangan saya,”kenang Khoe. Namun lagi-lagi hukum pasar lah yang menilai, bakso Khoe tetap pilihan nomor satu pembeli. “Mungkin karena sudah terkenal mahal, orang jadi selalu ingat bakso saya,” kelakarnya.

Waktu berlalu, seiring dengan hadirnya anak pertama dan kedua-Khoe Han Hwa dan Khoe Soe Cen-pasangan Khoe dan Lilian memutuskan untuk pindah ke daerah Bokoran tahun 1975 untuk memulai masa kejayaan bakso Bokoran.

Khoe menuturkan di tempat baru itu dalam sehari sekitar 70 kg daging diubah menjadi bakso, bahkan jika mendekati hari-hari raya-lebaran, tahun baru dan natal-daging yang harus dioleh meningkat menjadi dua kwintal/hari.

Memasuki jaman mesin cacah daging tahun 1985, Khoe-lah orang pertama di Semarang yang memulai menggunakan, disusul memanfaatkan kotak-kotak pendingin.

Strategi sebagai sebuah barang mahal dan berkualitas tinggi inilah yang terus dipertahankan oleh Khoe yang lalu mengemas bakso dalam kantung plastik tanpa udara sehingga dapat bertahan hingga 2 minggu tanpa bahan pengawet.

Mulai redup

Seiring dengan putaran roda nasib, Bakso Bokoran perlahan mulai meredup. Banyak faktor menurut Khoe yang mempengaruhi seperti banyaknya pemain nakal, kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik dan tidak adanya penerus dinasti Bakso Bokoran.

Khoe menuturkan penurunan omzet Bakso Bokoran terjadi semenjak krisis moneter melanda negeri ini, namun dirinya mengaku tidak pernah berniat untuk menurunkan harga produknya.

Bahkan dia pernah menolak pesanan sebuah perusahaan ritel terbesar di Indonesia yang memesan baksonya karena karena rendahnya spesifikasi mesin pendingin milik toko tersebut.

“Freezer yang bagus itu 0 derajad sampai -5 derajad, kalo dibawah itu, bakso ndak isa awet,” paparnya.

Khoe mengakui beberapa toko-toko pemesan akhirnya batal memesan, tetapi brand image Bakso Bokoran sebagai produk elit tentu saja lebih penting untuk dipertahankan.

Untuk mempertahankan omzet, Khoe memilih untuk menciptakan produk-produk lain seperti Kekian, mie Chang Sho, Tahu isi, Hai Keng yang sudah diterima oleh pasar baik di dalam maupun di luar Semarang.

Sedangkan masalah pewaris, seiring hadirnya Liang Ming Lie dan Liang Ming Tek (cucu) Khoe mengaku belum melihat diantara ke empat anaknya. Dua anak tertua tak terlihat tertarik meneruskan usaha ini, anak terakhir (Khoe Soe Fie) masih terlalu kecil, hanya anak ketiga (Khoe Ming Hwa) sudah mulai membantu dalam hal pengantaran

“Yang penting usaha saya tidak pernah utang dan produksi jalan terus,”ujar Khoe seyakin geliat pengusaha unit usaha kecil dan menengah yang tersebar di Indonesia.

*Bisnis Indonesia 16/8/04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: