it’s about all word’s

Khofifah Indar Parawansa: on interview

Posted on: February 21, 2008

Cukup lama waktu yang harus saya habiskan untuk menunggu di ruangan bernomor 1719 Gedung DPR/MPR RI, Senayan sebelum dapat berjumpa dengan salah satu Srikandi dalam perpolitikan nasional yang memiliki nama Khofifah Indar Parawansa.

Seperti halnya ruangan anggota dewan yang lain. Saya kemudian akhirnya malah terlibat obrolan dengan asisten Khofifah. Ketiganya wanita berjilbab. “Tunggu dulu ya mas. Ibu sedang ada tamu,” ujar salah satu di antara mereka.

Saya hanya mengangguk, lalu meneguk segelas minuman dalam kemasan yang disediakan. Belum juga habis. Muncul wanita tanpa jilbab tanpa make up, bajunya berwarna hijau tua.

Yo opo iki mas [bagaimana ini mas]. Tunggu sebentar ya. Saya masih ada tamu. Atau mau wawancara sekarang saja. Di sini?” tanya wanita yang tak lain Khofifah yang memang sudah terkenal cepat akrab dan memiliki ciri khas dialek Suroboyo.

Tentu saja saya menolak dan mempersilahkan agar politisi PKB itu menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Rupanya benar, hanya sepeminuman teh para tamu pun mulai meninggalkan ruangan.

Alhasil giliran saya memasuki ruangan Wakil Sekretaris DPP PKB Kuningan itu. Ruangan itu tak terlalu besar. Di samping kiri pintu masuk terdapat meja besar tempat Khofifah bekerja.

Dimukanya terdapat meja kursi tamu. Di atasnya beberapa piring dan cangkir para tamu masih bergelatakn belum sempat dibereskan.

“Saya ini penggemar grup musik Peterpan. Itu kan bagian dari relaksasi. Sebagai Ketua Majelis Muslimat NU. Kan tidak pantas kalau saya ke klub dan nyanyi karaoke,” ujar istri dari Indar Parawansa.

Dari perkawinannya dengan pria kelahiran Palu itu, keluarga itu dilimpahi empat anak a.l Fatimasang Parawansa, Jalaluddin Mannagalli Parawansa, Yusuf Mannagalli Parawansa dan Ali Mannagalli.

Dan rupanya, jatuh hati Khofifah pada Peterpan tersebut berasal dari anak-anaknya yang gemar memperdengarkan lagu-lagu cinta band asal Bandung itu. Menurut dia band tersebut mampu dengan sangat lembut mengekpresikan soal asmara.

Perempuan yang sedang mempersiapkan penerbitan buku tersebut selain suka Peterpan ternyata gandrung dengan musik Banyuwangian dan keroncong mendayu-dayunya Mus Mulyadi dan Waljinah.

“Mus Mulyadi itu memang lagunya tentang cinta tapi soft. Begitu juga tentang Waljinah. Coba mana ada suara yang bisa seperti Waljinah,” ujar mantan pendaki gunung itu.

Pendaki gunung? Tidak hanya itu. Khofifah juga gemar panjat tebing, hobi olahraga yang tidak umum dilakukan orang yaitu hoki.

Untuk urusan naik gunung. Hal itu sudah diakrabinya sejak kelas 2 SMA. Kegiatan ini berlanjut hingga dia kuliah di Unair dan bergabung dengan klub pecinta alam.

Prestasi pendakiannya cukup lumayan. Selain sudah mendaki seluruh gunung di Jawa Timur daia juga sudah menjejak puncak tertinggi di Pulau Jawa yaitu Gunung Semeru.

Sayang kegiatan itu terhenti sejak dia mulai sibuk ikut kegiatan ekstra kampus. Saat kuliah, dia tercatat sebagai Ketua IPPNU dan PMII Kodya Surabaya. Tak cukup itu dia juga Wakil Sekretaris Generasi Muda Persatuan Indonesia, Propinsi Jatim.

Dari keluarga egaliter

Melihat sepak terjang mantan Meneg Bidang Pemberdayaan Perempuan itu. Tentu saja kita harus menengok latar belakang keluarga Khofifah yang diakuinya berasal dari kampung.

Meskipun keluarganya termasuk cukup konservatif, namun tidak ada larangan terhadap dirinya saat dia mulai aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. Saat di bangku SMA, Khofifah adalah Ketua OSIS sekaligus Ketua Dewan Kerja Pramuka SMA Kahdijah Surabaya.

Selain itu, sejak kelas 2 SMA, dia sudah rajin mengikuti seminar-seminar dengan pembicara Gus Dur dan Cak Nur. Lepas dari mengerti atau tidaknya. Dia selalu berusaha menghadiri acara kedua pentolan NU itu.

Aktivitasnya makin menjadi-jadi saat dia kuliah dan menjadi aktivis mahasiswa.

“Sejak mahasiswa sudah sering pulang jam 2 pagi. Saya perempuan. Tapi kalau pakai motor seluruh orang tahu kalau pasti ngebut.”

Suasana masa lajang yang begitu dinamis itu membuat. Khofifah bersama suaminya mantap untuk selalu memberikan ruang untuk berbeda pendapat bagi anak-anak mereka.

“Anak saya kelas III SMP sudah biasa bertanya pada saya. “Bagaimana pendapat ibu?”. Banyak terminologi mahasiswa yang dia pakai.”

Perempuan yang mengawali karir di lembaga legislatif pada era 1992. Sejak masih berusia 27 tahun itu rupanya enggan membaca majalah perempuan atau gosip.

Hasilnya tidak saja anak-anaknya gemar melahap koran umum macam Kompas. Tetapi pembantu pun jadi rajin membaca majalah Tempo atau Gatra.

Pengaruh Nahdlatul Ulama yang selalu membuka ruang perbedaan menurut dia menjadi pengaruh yang tak terpisahkan dari seluruh gerak langkah dan pemikirannya.

“Di NU, Anda bisa mencari orang yang paling konservatif hingga yang liberal. Benturan itu dianggap sebagai keniscayaan, perbedaan pendapat itu dianggap sebagai rahmat,” jelasnya

Untuk itu harus dibedakan antara Islam konservatif dan Islam radikal. Sebab siapapun yang menganggap Islam sebagai ajaran maka siapa pun akan menebar kasih.

Kepemimpinan yang telah diajarkan Nabi Muhamad di Madinah itu adalah sebuah contoh satu entitas umat yang luar biasa. “Kalau ada umatnya yang mencurigai agama lain, mencurigai suku lain, itu umatnya, bukan agamanya. Harus dibedakan.”

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama ini juga termasuk perempuan yang secara tegas kesewenang-wenangan kaum adam yang memaksakan poligami.

Menurut dia poligami atau pernikahan dengan banyak istri adalah emergency exit door alias jalan keluar terakhir yang oleh Alquran sudah diatur sedemikan ketat bahkan berujung pada ajaran monogami.

“Toh ruang itu [poligami] diberikan. Kenapa? Karena di negri Arab pada jaman Nabi. Satu laki-laki bisa kawin dengan 50 perempuan. Dengan aturan poligami di Al-Quran kan sudah ada penurunan. Itu pun harus dilihat secara komprehensif.” tegasnya

Jika hal itu akan diterapkan saat ini. Tentu saja harus dilihat kondisi saat ini seperti aspek psikologis, biologis dan demografis. Di Indonesia, meenurut data BPS jumlah perempuan lebih sedikit dari laki-laki. Jadi sekarang tidak ada alasan demografis.

“Dan sekarang kan trennya menikah bukan mengawini janda untuk menyelamatkan harta anak yaim. Tapi kawin dengan yang muda, artinya karena hawa nafsu. Untuk itu perlu dibangun keluarga yang sakinah, mawadah,warrahmah,” lanjutnya.

Wawancara

Rancangan Undang Undang Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) sejak pertama kali di cetuskan langsung memicu kontroversi. Silang sengketa dari pihak yang setuju dan menentang semakin lama semakin keras.

Hal ini makin diperburuk dengan isu-isu Islamisasi oleh pihak-pihak yang tidak setuju. Untuk itu Bisnis menemui mantan Menteri Negara Bidang Pemberdayaan Perempuan yang terlibat aktif merintis hal ini sejak tahun 2001.

Sebetulnya di mana letak permasalah RUU APP ini?

Ini kan baru draft dari DPR yang belum final. Prosesnya, setelah draft kasar disampaikan ke pemerintah, lanjut ke penunjukan siapa leading sectornya, lalu Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) dari pemerintah. Ini belum apa-apa kok sudah ditolak.

Saya sendiri juga muslimat NU yang terlibat aktif dengan proses ini sejak 2001. Kita berproses sudah lama. Alasan terlibat aktif adalah penyelamatan generasi bangsa. Produk akhir dari ini adalah regulasi bukan restriksi. Ini berbeda.

Ada suara yang menyatakan RUU ini akan memberangus kearifan lokal dan pariwisata Bagaimana pandangan Anda?

Ada hal-hal yang menganggap bahwa kesenian ini sebagai komoditas ekonomi dari pada komoditas budaya. Yang namanya bentuk-bentuk berkesenian lebih pada ksploitasi ekonomi bukan pada budayanya.

Pada tataran ini kita melihat jika pornografi dan pornoaksi ini sebagai industri, maka dia akan sangat kental dengan tarikan kapitalisme, karena berbiaya tinggi.
Kalau sudah begini, maka akan terjadi tarik menarik kepentingan di dalamnya.

Pada aspek wisata misalnya. Ada aspek ekonomi dan budaya. sementara regulasi adalah aspek yuridis. Maka jangan kita melihat APP ini sebagai aspek yuridisnya saja.

Kita harus melihat APP ini pasti akan mengakomodir kepentingan budaya dan ekonomi. Ini perlu ada pengaturan. Saya takut mereka yang anti itu sudah menjadi bagian dari kapitalis.

Dalam draft nya masih ada eksepsi dengan budaya setempat. Terkait dengan olah raga, kesenian, termasuk ada ruang perdebatan. Makanya ini regulasi.

Tetapi ditakutkan prakteknya akan seperti Perda Tangerang yang konroversial. Bagaimana?

Judulnya lain. Itu Perda. Saya tidak setuju kalau ada peraturan membuat orang takut. Saya tidak suka, tapi kita juga harus melihatnya secara jernih. Itu terjadi di Tangerang. Sedangkan kita menyiapkan regulasi secara nasional, dan draft ini sudah lama. Tangerang masih baru.

Ketiga, UU ini harus dibangun di atas dasar pluralisme. Sehingga kekhawatiran bahwa ini proses Islamisasi. Saya jadi geli melihat itu. Bijaksana saja dulu. Kalau itu sudah jadi pijakan, start kita bahas ini.

Dulu pengaturan Pornografi dan Pornoaksi berusaha dimasukkan dalam KUHP, tapi sekarang jadi UU. Menurut Anda?

KUHP itu ternyata belum komprehensif untuk menjadi payung perangkat hukum di dalam mengatur PPA. Maka pelu perangkat hukum yang lain. Apakah UU atau konsensus tidak masalah.

Yang penting harus ada pengaturan yang statusnya nomor dua. Tapi siapa yang jadi representasi masyarakat yang berhak mengabil konsensus? Kalau tokoh agama nanti ini ditarik ke persoalan agama.

Sementara kalau para pebisnis nanti ke kepentingan kapitalis. Lebih adil kalau ini melalui UU karena siapapun yang membahas, inputnya harus akademik draft. Yang objektifitasnya harus dijamin.

Cyber sex dan cyber crime? Itu belum diatur bagaimana itu?

Akan dicoba di UU informasi. Bisa dimasukkan tapi perlu dibahas.

Kalau pemerintah setuju, apakah hal ini akan berdampak pada pendidikan seks di sekolah?

Di pesantren sudah ada. Namanya bab nikah. Sudah ada preparationnya, diajarkan hak antara laki-laki dan perempuan. Itu yang secara natural sudah ada. Tapi seringkali orang melawan karena judul pendidikan seks itu.

Saran?

Proaktif saja. Pemerinta juga belum menunjuka siapa leading sectornya. Kalau sudah nanti bisa mengundang semua elemen masyarakat. Yang anti juga jangan menganggap Islamisasi, dan itu perlu dijelaskan.

Perlu dialog debat publik. Dengan adanya dialog saya berharap kalau [RUU] ini lahir sudah bisa efektif.

Suara-suara kaum feminis mengatakan RUU ini kriminalisasi pada wanita?

Ini gak ada hubungannya dengan diskriminasi perempuan dan membatasi ruang gerak perempuan. ini harus clear. Tapi saya punya indikator keberdayaan perempuan.

Indikator pemberdayaan perempuan secara internasional ada di UNDP sudah ada a.l derajad pendidikan, kesehatan, income, itu paling fear. Bukan dengan buka beha!! (Hmmm…). tidak ada yang mengatakan perempuan buka beha dan telanjang itu namanya pemberdayaan perempuan.

Biodata:
Nama Lengkap : Khofifah Indar Parawansa
Tempat Lahir : Surabaya, Jawa Timur
Tanggal Lahir : 19 Mei 1965

Pendidikan :
SD Taquma Surabaya, 1977
SMP Khodijah Surabaya, 1981
SMA Surabaya, 1984
Sarjana Muda Universitas Taruna Surabaya, 1989
S1 Fisip Universitas Airlangga, Surabaya, 1990
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1993

Organisasi :
Pengurus Pusat Muslimat NU
Pengurus Besar Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
Pengurus IPPNU (Ikatan Putera Puteri Nahdlatul Ulama)
Anggota KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Jawa Timur
Anggota GMPI (Generasi Muda Persatuan Indonesia) Jawa Timur
1998 kini Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PBB)
1989 1992 Staf Pengajar Universitas Islam Taruna Surabaya
1990 1992 Staf Pengajar Universitas Wijaya Putera
1990 1992 Staf Pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah
1992 1997 Anggota DPR-RI dari FPP (PPP)
1997 1998 Anggota DPR-RI, wakil ketua Komisi VIII Bidang Kesra, FPP (PPP)
1999 2004 Anggota DPR/MPR dari PKB
1998 2000 Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Task Force Pemenangan Pemilu
1999 2001 Menteri Negara Bidang Pemberdayaan Perempuan pada Kabinet Reformasi Pembangunan, rezim Gus Dur
1999 2004 Wakil Ketua DPR-RI
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, 2000-2005
Wakil Sekretaris DPP PKB Kuningan, 2002-2007

1 Response to "Khofifah Indar Parawansa: on interview"

http://jkt1.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/01/time/142514/idnews/667069/idkanal/10

Jumat, 01/09/2006 14:25 WIB

Pemecatan Marissa dari PDIP Jangan Terkesan Dizalimi
Muhammad Nur Hayid – detikinet

Jakarta – PDIP tidak ingin pemecatan Marissa Haque sebagai anggota PDIP dipublikasikan secara besar-besaran. PDIP tidak ingin ada kesan Marissa menjadi pahlawan karena dipecat.

“Kita mendudukkan sesuai permasalahannya,” kata Wakil Ketua Fraksi PDIP Panda Nababan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/9/2006).

Panda lantas mengatakan, Marissa dulu pemain sinetron dengan lakon di Komisi X, produsernya PDIP, sutradaranya Ketum PDIP Megawati. Sekarang Marissa menjadi pemain sinetron dengan lakon sebagai wakil gubernur, produsernya PKS dan sutradaranya Presiden PKS Tifatul Sembiring.

“Padahal dulu sebelum menjadi anggota, dia sudah tanda tangan di atas materai setia kepada partai. Kalau begini, etis tidak?” cetus Panda.

Menurut Panda, seharusnya jika Marissa telah menetapkan diri sebagai calon gubernur dari PKS, Marissa sebaiknya mengundurkan diri tanpa menunggu pemberian sanksi dari DPP. “Kalau Anda sebagai wartawan detikcom kemudian Anda menulis di media lain, pantas nggak itu? Harusnya dia tahu,” tambah Panda.

Saat didesak apakah surat pemecatan Marissa sudah sampai ke fraksi, Panda tidak mau menanggapi. “Persoalannya dipecat atau tidak, tapi didudukkan pada masalah yang sebenarnya,” ungkap Panda.

Sementara anggota PDIP Effendi Simbolon dengan nada bergurau menimpali pernyataan Panda bahwa seluruh anggota fraksi dilarang berkomentar tentang Marissa. “Kata Sekjen nggak boleh dikomentari oleh anggota, kenapa Pak Panda berkomentar,” kata Effendi sambil tertawa lebar.

Panda pun lantas menyahut pernyataan Effendi. “Untuk saya tidak apa-apa,” ujar Panda sekenanya yang diikuti derai tawa para wartawan. ( san )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: