it’s about all word’s

Menikmati Pesona Tahun Baru Caka

Posted on: February 21, 2008

Pergantian tahun dalam setiap kebudayaan memang selalu disambut suka cita. Mulai dari tahun baru Masehi bagi umat Kristen, Hijriyah bagi umat Muslim, Imlek bagi warga Tionghoa dan Caka bagi umat Hindu.

Saya termasuk beruntung masih bisa menikmati keragaman budaya bangsa tersebut. Dan pekan lalu menjadi perayaan tahun baru Caka yang saya nikmati secara langsung di Bali untuk kesekian kalinya.

Harus diakui pergantian tahun Caka secara umum memang kurang disambut meriah oleh sebagian besar warga Indonesia. Namun pergantian tahun ini justru unik berkat prosesi Nyepi yang dilakukan secara khidmat.

Kali ini saya menghabiskan waktu di Desa Candi Kuning, Bedugul yang masuk dalam wilayah Kabupaten Tabanan. Selain Bedugul dengan danau dan pura Ulun Danau Beratan, kabupaten ini termasuk kaya akan obyek wisata. Mulai dari Tanah Lot, Alas Kedaton dan Kebun Raya Eka Karya.

Seluruh obyek wisata itu dihubungkan dengan infrastuktur jalan yang baik dan menawarkan keelokan pemandangan alam. Sebelum peristiwa Bom Bali I, rata-rata obyek wisata itu dikunjungi 500.000 orang tiap tahun.

Keasrian alam di Tabanan diperoleh berkat wilayah topografis yang sempurna yaitu memiliki pegunungan dan pantai. Tanahnya rata-rata subur sehingga semua wilayahnya bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

Tak heran jika kabupaten ini disebut sebagai lumbung pangan. Hal itu diperoleh tidak hanya karena memiliki areal sawah terluas di seluruh Bali tetapi juga berkat adanya komoditas sayuran dan buah untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan super market di Bali.

Sejak jaman Belanda masih bercokol di bumi Nusantara, kawasan wisata Bedugul memang sudah dikenal sebagai tempat wisata. Terletak di ketinggian 1.400 meter meliputi seluruh wilayah di sepanjang tepian barat Danau Bratan.

Seperti halnya Puncak, udara di Bedugul sejuk dan bersih, namun pemandangan alam yang indah masih unggul di wilayah ini. Villa dan hotel tidak dibangun sembarangan. Tak heran gunung, hutan, dan danau tampak harmonis di kawasan wisata alam ini.

Wilayah ini bagai mangkok raksasa yang dilatari Gunung Catur di sebelah utara sementara di tengah-tengah wilayah ini terdapat Danau Bratan yang menjadi primadona kawasan wisata ini.

Selain indah, ada keunikan dari danau ini. Di tepinya terdapat Masjid Al Hidayah sementara di sisi lainya terdapat Pura Ulun Danu. Pura ini merupakan persembahan kepada Dewi Danu, lambang sumber kesuburan tanah di sekitarnya.

Menurut babad Bali, pura yang terdiri dari empat meru (bangunan utama) ini dibangun oleh Raja Mengwi pada tahun 1633. Bangunannya menjorok ke danau sehingga terlihat seperti menyembul dari dalam air.

Sementara di seberang danau terdapat tiga buah gua Jepang. Masing-masing memiliki kedalaman 25 meter yang digali oleh tenaga romusha dari warga sekitar semasa pendudukan Jepang.

Jika sudah sampai di tempat ini rasanya Kebun Raya Eka Karya yang memiliki luas 129,2 hektar itu tak boleh dilewatkan. Kebun raya ini terletak di antara Danau Beratan, Danau Tamblingan, Danau Buyan dan kawasan hutan lindung di sebelah baratnya.

Bila Anda gemar main golf dengan nuansa alami, maka Bali Handara Golf Country Club yang letaknya tak jauh dari Danau Bratan bisa menjadi rujukan bagi Anda. Namun ada saran khusus, kalau tidak siap dengan keheningan lebih baik tidak ke tempat ini.

Selain sangat sepi, jalan masuk ke fasilitas penginapan sangat jauh dan minim penerangan. Saya sendiri sangat suka menginap di tempat ini karena bisa memandangi danau dari jendela kamar atau berkeliling menyusuri jalanan setapak yang sunyi di seputaran hotel.

Nyepi yang sunyi

Dibandingkan Nyepi yang lalu-lalu, barangkali suasana Nyepi yang paling sunyi yang pernah saya temukan adalah di Bedugul. Pasalnya ritual Hari Raya Nyepi umat Candi Mas yang mengambil tempat di pinggir Danau Beratan yang pada tahun sebelumnya mengundang banyak wisatawan asing kini betul-betul sepi penggemar.

Padahal sejak dulu rangkaian upacara menyambut tahun baru Caka di wilayah ini diakui paling unik sebab tidak hanya melibatkan unsur umat Hindu namun juga umat Islam Candi Kuning.

Warga Muslim tersebut secara sukarela membantu pengamanan upacara yang dilakukan umat Hindu di lima desa adat a.l Kembang Merta, Bukit Catu, Candi Kuning, Pemuteran dan Batusesa.

Pada masa itu Pecalang Muslim dan Hindu bersatu demi kelancaran jalannya upacara pangerupukan dengan pawai ogoh-ogoh yang diadakan sehari sebelum Nyepi, melasti, tawur, sipeng dan ngembak geni yang dilakukan sehari setelah Nyepi.

Tak heran jika kali ini seluruh warga di kelima desa adat Hindu itu begitu khusyuk memanjatkan doa dan harapan pada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Mohon agar Bali kembali ramai dikunjungi wisatawan.

Selain itu, kelima desa itu juga menghaturkan izin atas berjalannya proyek eksplorasi energi panas bumi (geotermal) oleh PT Bali Energy Limited, perusahaan bentukan Pertamina dan California Energy.

Proyek yang dimulai tahun 11 tahun lalu itu sempat mangkrak karena krisis ekonomi pada 1997. Baru tiga tahun lalu Presiden Megawati mencanangkan kembali berjalannya proyek ini.

Rangkaian hari raya ini terdiri atas melasti atau mekiis, tawur, sipeng dan ngembak geni. Pangerupukan (ngerupuk) dengan pawai ogoh-ogoh diadakan sehari sebelum Nyepi dan Ngembak, sehari setelah Nyepi.

Dalam nyepi dikenal catur brata (empat pantangan) a.l amati geni (pantang menyalakan api) atau memadamkan sifat marah, benci, iri, dengki, serakah, dendam yang berkobar dalam raga; amati gawe (pantang bekerja) dan fokus pada kegiatan rohani; amati lelungan atau pantang bepergian; amati lelangun (pantang melihat pertunjukkan atau hiburan).

Brata penyepian ini dilakukan 24 jam mulai pagi hingga pagi berikutnya dan dilanjutkan dengan Sima Krama atau Dharma Shanti yaitu saling memaafkan dengan seluruh keluarga, handai taulan, teman sekerja.

Nyepi di Bali dilakukan dengan melaksanakan catur brata yang tak boleh dilakukan. Melasti dilaksanakan dua hari menjelang tilem kesanga dan dilakukan di pantai bagi yang dekat dengan lut, tepi danau bagi yang dekat dengan danau atau sumber mata air yang disucikan bagi daerah yang jauh dari laut atau danau.

Tujuan melasti adalah angamet sarining bhuana, angelebur malaning bhumi (mengambil sari-sari bumi dan melebur atau membersihkan kotoran dunia. Intinya saat semua prelingga pretima (badan perwujudan dari Tuhan) dibawa ke laut, danau, mata air suci lalu diupacarai. Kemudian kembali diistanakan ke Bale Agung dan siap dipuja umatnya pada tilem kesanga.

Kemudian tawur, merupakan upacara yang dilaksanakan di perempatan jalan di pusat pemerintahan (provinsi, kabupaten, kecamatan, desa). Umumnya di kota-kota, upacara ini dilaksanakan pada jam 12.00.

Namun di desa-desa diadakan pukul 17.00 atau 18.00 makna nya adalah menetralisir keadaan bhuana agung (jagad raya) dan bhuana alit (tubuh manusia). Hal ini dilakukan sebab selama setahun penuh manusia terlalu banyak mengambil isi dunia berupa air, bahan makanan, bahan pakaian dan lain sebagainya sehingga terjadi ketidakseimbangan.

Lebih-lebih yang dilakukan atas keserakahan sehingga terjadi kepincangan antara bhuana agung dan bhuana alit. Jadi tawur ini adalah upacara kurban yang dilaksanakan secara tulus, ihklas dan juga sebagai latihan bagi manusia untuk melepaskan ikatan dari daya tarik benda duniawi.

Tawur juga digambarkan sebagai pengusiran pada bhuta kala (keburukan) yang ada pada manusia a.l iri, dengki, serakah, marah, benci. Secara awam digambarkan dalam visualisasi ogoh-ogoh yang sering menimbulkan bencana.

Pengusiran para bhuta kala ini disebut pengerupukan yang dilaksanakan sehari menjelang Nyepi. Tahun ini makin unik sebab ditujukan sebagai unjuk anti RUU Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP).

Bagi masyarakat Bali, RUU APP adalah hal yang wajib diperangi sebab akan menjadi Bom Bali III. Tidak hanya ogoh-ogoh anti RUU APP, beberapa penggotong ogoh-ogoh melengkapi diri dengan kaos bertuliskan penolakan RUU tersebut.

Bagi Anda yang ingin menikmati suasana Nyepi unik yang lain ada di Desa Munduk, Singaraja. Berbeda dengan di tempat lain, di desa itu penduduk memasak di pinggir jalan.

Hal ini dilakukan sebab rumah mereka menjalani amati geni atau tidak boleh menyalakan api atau memasak. Semua orang yang melalui dapur-dapur itu diterima dengan hangat untuk mencicipi masakan.

Transportasi kini murah

Sangat mudah menuju Bedugul. Dari Bandara Ngurah Rai, Denpasar tempat itu bisa dicapai dalam waktu dua jam. Bila dengan kendaraan umum, Anda bisa naik mobil bus dari terminal Ubung, Denpasar. Resikonya butuh waktu lama.

Perjalanan menuju Bedugul bukan sesuatu yang membosankan, Anda bisa menyaksikan pemandangan alam yang tidak kalah menakjubkan. Jika jeli cukup banyak hal-hal eksotik di sepanjang perjalanan.

Sementara itu jika Anda berkendara dari Singaraja atau dari sebelah utara Bedugul. Perjalanan akan lebih menantang sebab ada tiga obyek wisata yang menanti a.l Air Terjun Gitgit, Danau Buyan dan Danau Tamblingan Lake.

Kedua danau itu masih sangat asli sebab perahu bermotor dilarang mengarungi kedua danau itu. Yang sangat menguntungkan, tarif sewa kendaraan di Bali kini sedang banting harga seiring sepinya kunjungan wisatawan mancanegara.

Harapan besar pada BEL

Peristiwa Bom Bali II tidak hanya kembali mencoreng citra aman yang sedang diperjuangan masyarakat Bali pasca Bom Bali I. Bagi warga Pulau Dewata itu, Bom Bali II betul-betul merupakan pukulan telak bagi dunia pariwisata.

“Tingkat hunian hotel, villa dan losmen di Bali yang sempat di atas 50% langsung anjlok sampai 30%. Padahal hasil pertanian kami seluruhnya diserap oleh industri pariwisata. Hasilnya kini hanya tutup modal saja,” ujar Gusti Wija, Bendesa Candi Kuning, Bedugul.

Ritual Hari Raya Nyepi umat Candi Mas yang mengambil tempat di pinggir Danau Beratan yang tahun-tahun sebelumnya mengundang banyak wisatawan asing kini betul-betul sepi penggemar.

Padahal sejak dulu rangkaian upacara menyambut tahun baru Caka di wilayah ini diakui paling unik sebab tidak hanya melibatkan unsur umat Hindu namun juga umat Islam Candi Kuning.

Warga Muslim tersebut secara sukarela membantu pengamanan upacara yang dilakukan umat Hindu di lima desa adat a.l Kembang Merta, Bukit Catu, Candi Kuning, Pemuteran dan Batusesa.

Pada masa itu Pecalang Muslim dan Hindu bersatu demi kelancaran jalannya upacara pangerupukan dengan pawai ogoh-ogoh yang diadakan sehari sebelum Nyepi, melasti, tawur, sipeng dan ngembak geni yang dilakukan sehari setelah Nyepi.

Tak heran jika kali ini seluruh warga di kelima desa adat Hindu itu begitu khusyuk memanjatkan doa dan harapan pada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Mohon agar Bali kembali ramai dikunjungi wisatawan.

Selain itu, kelima desa itu juga menghaturkan izin atas berjalannya proyek eksplorasi energi panas bumi (geotermal) oleh PT Bali Energy Limited, perusahaan bentukan Pertamina dan California Energy.

Proyek yang dimulai tahun 11 tahun lalu itu sempat mangkrak karena krisis ekonomi pada 1997. Baru tiga tahun lalu Presiden Megawati mencanangkan kembali berjalannya proyek ini.

“Besar harapan kami proyek ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat lokal seperti prioritas warga lokal sebagai karyawan proyek. Sesuai dengan skill yang dimiliki warga kami,” lanjut Wija yang sudah 26 tahun mengabdi menjadi bendesa adat.

Sekitar US$ 46,7 juta sudah dikucurkan ke proyek yang dimaksudkan untuk menambah ketersediaan tenaga listrik di Bali serta mengurangi ketergantungan pada tenaga listrik dari Jawa yang berisiko karena disalurkan dengan kabel laut.

Selain soal tenaga kerja, lanjut Wija, adanya proyek listrik ramah lingkungan itu bisa menjadi daya tarik pariwisata pendidikan bagi Kabupaten Bedugul yang sampai saat ini masih mengandalkan pariwisata alam.

Potensi panas bumi Bedugul sendiri dinilai lebih baik dibanding PLTP Gunung Salak, Wayang Windu, Kamojang, Darajat, Dieng, dan Lahendong. Panas bumi di Bedugul bisa memproduksi 93% uap dan hanya 6-7% air.

Warga desa di sekitar Bedugul juga sadar, wisatawan asing yang berkunjung ke Bali sangat mempedulikan isu-isu lingkungan. Untuk itu sumber-sumber energi yang ramah lingkungan harus mendapatkan dukungan dari seluruh pihak.

Tantangan sebagian warga Bali yang membawa isu lingkungan sudah dicarikan jalan ke luar dan telah sepakati warga Bedugul. Untuk itu, BEL membeli tanah seluas 132 hektar di daerah Gesing untuk dijadikan hutan lindung atau hutan produksi.

“Jangan sampai karena proyek. Lingkungan rusak seperti Pulau Serangan atau masyarakat terpinggirkan seperti saudara kita di Papua atau di tempat lain.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: