it’s about all word’s

Menuju tatanan dunia baru

Posted on: February 21, 2008

Judul : Amerika dan Dunia
Editor : A. Zaim Rofiqi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, 2006
Tebal : 455 halaman

Judul : Rusia Baru Menuju Demokrasi
Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya
Penulis : A. Fahrurodji
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, 2006
Tebal : 264 halaman

Judul : Memahami Indonesia
Editor : Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit
Penerbit : Soegeng Sarjadi Syndicate, 2006
Tebal : 402 halaman

Bukan kebetulan jika ketiga buku ini disatukan dalam sebuah tulisan resensi. Amerika, Rusia dan Indonesia menempati tempat tersendiri dalam polarisasi politik dan ideologi dunia.

Semasa perang dingin, Amerika sejak awal merupakan panglima paham liberalisme yang memimpin blok Barat sebaliknya Rusia dalam bentuk Uni Sovyet adalah pemimpin blok Timur yang membawa bendera komunisme.

Diantara dua kepentingan besar itu, Indonesia melalui visi dan misi Sukarno adalah salah satu pencetus kekuatan non blok yang menyatukan negara-negara baru yang enggan masuk ke dalam salah satu kekuatan besar tersebut.

Namun sejarah membuktikan blok timur dan non blok berhasil dibungkam Amerika dan sekutunya melalui jargon globalisasi yang tak lain adalah wajah kapitalisme gaya baru. Uni Sovyet tumbang.

Sementara non blok yang dihuni negara-negara berkembang satu per satu dipaksa bertekuk lutut di bawah utang yang disalurkan lembaga-lembaga donor dunia yang tak lain adalah tangan Amerika.

Dalam buku Amerika dan Dunia, Francis Fukuyama berpendapat bahwa Demokrasi Liberal telah menang dan persoalan ideologi merupakan masalah masa lalu sementara Samuel Huntington melihat dari sisi yang berbeda.

Bagi Huntington, konflik masa depan bukan bersifat ekonomi, ideologis dan politis, tetapi lebih bersifat budaya. Yakni ketika berbagai peradaban besar dunia saling berbenturan.

Serangan terhadap WTC dan Pentagon menghadapkan bangsa Amerika pada kenyataan bahwa abad baru telah tiba yang membawa serta tantangan-tantangan baru sekaligus diakui atau tidak menciptakan sosok imperium paranoid.

Dalam pidato George W. Bush jelas terlihat wajah AS yang makin keras pada negara-negara penentangnya dan menguatkan pandangan negatif terhadap wajah lembut Paman Sam yang sebelumnya berusaha dibangun Bill Clinton.

Perang kepentingan

Sementara itu dalam Rusia Baru Menuju Demokrasi Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya, penulis buku ini A. Fahrurodji—berkat latar belakang pendidikannya–mampu merangkum perjalanan panjang sejarah bangsa Rusia.

Melalui buku setebal 264 halaman itu pembaca akan dengan mudah dan cepat mengerti tentang Rusia baik dalam hal perjalanan politik, sosial, budaya dan hal-hal yang kini menjadi masalah besar bagi negara itu.

Dalam hal politik, sangat jelas terlihat kegamangan sebuah raksasa yang terbiasa dalam rezim totaliter komunis saat harus memulai demokrasi parlementer yang dihiasi perbedaan pendapat.

Belum lagi beban untuk terus mempertahankan kekuatan politik sebagai pewaris nama besar imperium Uni Sovyet yang mendapat tekanan luar biasa dari barat melalui Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sudah bukan rahasia lagi kalau anggota Federasi Negara-negara Merdeka (CIS) lebih tergiur untuk masuk menjadi angggota NATO ketimbang kembali menjadi bagian dari pakta pertahanan Rusia.

Alasannya apalagi kalau bukan duit yang lebih melimpah dan memungkinkan mereka memiliki sistem pertahanan yang lebih canggih untuk menjaga teritorial mereka.

Selain itu ancaman disintergrasi dalam bentuk konflik bangsa Chechnya mau tak mau menjadi semacam api dalam sekam yang hingga kini tidak juga menemukan pemecahan dan terus memakan korban.

Konflik ini bukan saja kepentingan Rusia, namun seluruh dunia. Sebab konflik di Republik Ichkeria itu adalah ‘sekolah’ para teroris internasional yang melibatkan penjahat transnasional seperti Khattab dan Osama bin Laden.

Dalam hal ini AS, justru berpendapat sebaliknya dan menyunat berbagai bantuan sosial bagi rakyat Rusia. Pada sisi lain AS dengan entengnya menginvasi Afganistan dan Irak dengan alasan terorisme.

Jika di tarik sebuah benang merah, kedua buku pertama tersebut secara tersirat menggambarkan tarik menarik kepentingan baru di antara kedua negara besar itu yang tentu saja imbasnya akan menimpa negara-negara yang tetap bersikukuh bebas dari pengaruh keduanya.

Diantara konflik geopolitik kedua raksasa itu, Indonesia kini justru sedang tertatih-tatih menata demokrasi setelah terus menerus menjadi uji coba berbagai paham yang dibawa oleh para pemimpinnya.

Baik Sukarno dan Suharto semasa kepemimpinan mereka pernah sama-sama bermesraan dengan masing-masing negara besar tersebut melalui paham yang mereka anut sekaligus dibuat terjungkal oleh kedua negara itu.

Tak heran dalam Memahami Indonesia itu terlihat kecenderungan bangsa ini kini lebih kritis terhadap uluran tangan dari AS maupun Rusia dan berusaha untuk lebih mandiri baik dalam politik, bisnis dan pertahanan.

Dalam kondisi aktual hasilnya memang langsung terlihat, baik Rusia maupun AS kini berlomba-lomba mencuri hati Indonesia yang secara geopolitik sangat penting di wilayah Asia Tenggara.

2 Responses to "Menuju tatanan dunia baru"

dear redaktur,

terimakasih telah menilik buku saya “Rusia Baru Menuju Demokrasi”. buku yang saya tulis dengan harapan membuka ‘jendela’ bagi pemahaman kita tentang bangsa lain, dalam hal ini Rusia.

saya tidak tahu kapan redaksi yang terhormat menulis resensi ini. namun yang harus kita acungi jempol adalah bahwa apabila ini kita kaitkan dengan peristiwa 08.08.08 (yakni peristiwa yang terjadi di Ossetia Selatan) maka isu tentang pertarungan geopolitis Rusia-AS belumlah usai dan apa yang saudara tuliskan menjadi sangat aktual.
apa yang terjadi di bekas republik-republik soviet saat ini adalah, khususnya di kawasan kaukasus, adalah sebuah babak baru pertarungan apa yang dikenal dengan Heartland vs Sea Power, dlm terminologi geopolitik.

saya mencoba membahas ini lebih dalam di Jurnal Glasnost – kajian Rusia – Slavia UI.

saya berharap semakin banyak orang yang peduli tentang ‘positioning’ Indonesia di dalam tatanan dunia yang semakin absurd ini (lihatlah kasus serbuan Israel ke Gaza). Artinya, memahami bangsa lain, untuk kemudian memperkuat kualitas bangsa sendiri, sehingga kita tidak melulu jadi penonton. sebagaimana yang saya pahami dari Rusia, dulunya adalah bangsa terjajah seperti kita, tapi kemudian bisa bangkit dan menjadi bangsa yang tak hanya disegani tapi juga mempengaruhi berbagai proses yang terjadi secara global.

terimakasih,

A.F.

jkt, 28.01.09

saya mencari-cari buku kamu mas fahruroji, dimana-mana ga ada, kasih lokasinya dong, butuh banget nih:(

email saya ya di nuralamin_mail@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: