it’s about all word’s

Quo Vadis bahan bakar alternatif alami

Posted on: February 21, 2008

Melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus di atas US$60 per barrel membuat seluruh orang tersentak Belum lagi kenyataan bahwa cadangan minyak di Indonesia hanya 4,8 miliar barel.

Sementara setiap tahun Indonesia memproduksi 550 juta barel. Ini artinya jika terus dikonsumsi, diperkirakan cadangan minyak itu akan habis dalam waktu tujuh tahun mendatang.

Diantara kebingungan itu, akhirnya semua pihak terpaksa menoleh kembali pada bahan bakar alternatif alami (bio fuel). Untuk mesin bensin ada gasohol sebagai subtitusi atau penggantinya. Lalu untuk mesin diesel ada biodiesel.

Sejatinya hukum perhitungan ekonomis, maka pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) harus lebih murah. Namun kesulitan berkembangnya bahan bakar alternatif ini selain karena harga biofuel yang mahal juga karena tidak adanya kesungguhan pemerintah terhadap hal ini.

Untung ada berkat di balik bencana rencana pemerintah untuk mencabut seluruh subsidi BBM. Pada satu sisi ini tukang bajaj sampai pemilik Jaguar kompak kelimpungan.

Sementara supir truk hingga pabrik tak kalah pusing dengan melejitnya harga solar. Tak mau kalah, PLN pun ikut-ikutan ribut ingin menaikkan tarif dasar listriknya.

Kenyataan ini akhirnya memunculkan Gasohol BE-10 dan biodiesel hasil studi penelitian Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) BPPT Lampung yang selama bertahun-tahun terlupakan.

“Padahal kami sudah melakukan penelitian tentang bio fuel sejak tahun 1983. Hanya kemudian harga minyak menjadi sangat murah. Orang pun terlena dan lupa kalau bahan bakar fosil ini ada batasnya,” ujar Agus Eko Tjahjono, Kepala Balai Teknologi Pati, BPPT.

Gasohol BE-10 merupakan campuran dari 90% bensin dan 10% bioetanol. Sedangkan biodiesel merupakan bahan bakar substitusi dari minyak sawit (CPO) atau minyak jarak.

Sebagai perhitungan untuk menghasilkan satu liter biodiesel diperlukan satu kilogram CPO dengan persentase 10%-30% biodiesel dengan 70%-90% solar. Harga biodiesel CPO jika diproduksi diperkirakan sekitar Rp 2.400 per liter.

Sedangkan harga pengolahan produksi jarak untuk menjadi solar sekitar Rp1.500 per liter dan untuk residu Rp600 per liter. Sementara untuk menghasilkan satu liter etanol dibutuhkan 6,5 kg ubi kayu dengan harga jual sekitar Rp2.600- Rp2.900 per liter.

Sementara untuk memperoduksi seliter gasohol dari jagung yang sekilonya Rp1.600 diperlukan duit senilai Rp4.000. Jadi kalau dihitung-hitung masih ada disparitas harga yang cukup lumayan. Lalu apa sulitnya?

Kebijakan dan kesungguhan

Kalau berbicara tentang gasohol maka, kita harus melihat negara Brazil yang sudah merintis gasohol dari tebu sejak pertengahan tahun 1970-an. Alasannya apa lagi kalau bukan gara-gara harga minyak.
Untuk impor, saat itu mereka tak punya cukup dana. Akhirnya meliriklah mereka pada perkebunan tebu yang hasilnya cukup melimpah.
Pemerintah serius rakyat pun mengikuti. Hasilnya hingga tahun 2004, produksi etanol Brasil sudah mencapai 15 miliar liter.

Tak heran Amerika Serikat, Swedia, Prancis, India, Jepang dan China pun mulai menggunakan gasohol yang berbasis alkohol nabati.

Pemerintah Indonesia pun sebetulnya sudah tanggap dengan memunculkan Perpres No 5 Tahun 2006 dan Inpres No 1 Tahun 2006 tentang kebijakan energi, khususnya pemanfaatan energi yang berasal dari nabati.

“Hanya anehnya, jika Anda menjual campuran etanol dan bensin. Anda bisa ditangkap dengan tuduhan tindakan pengoplosan. Belum lagi larangan tentang menjual alkohol yang siap menjerat Anda,” ujar pengamat otomotif, Kukuh Kumara.

Pada sisi lain untuk kebutuhan bahan nabati penghasil bio fuel. Sampai saat ini kita masih mengalami kekurangan khususnya jagung dan gula.

Untuk jagung dan singkong, meski produksi keduanya terus meningkat namun kita butuh setidaknya 1 juta ton jagung per tahun untuk konsumsi dalam negeri.

Sementara untuk urusan gula, rasanya gonjang ganjing impor gula sudah bisa menjawab kondisi gula dalam negeri kita. Dalam setahun kita
butuh mengimpor 300.000 ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula.

Yang menggembirakan barangkali produksi CPO Indonesia yang terus meningkat. Bahkan pada tahun 2004 mencapai 9,09 juta. Belum lagi kita sudah membangun pabrik oleokimia terbesar di dunia.

Hal yang sama juga terjadi pada tanaman jarak yang kebutuhan bibitnya seluruhnya bisa dipenuhi di dalam negeri. Menanamnya pun sama gampangnya dengan singkong.

Sayangnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie justru menolak mencanangkan penanaman jarak. Alasannya akibat belum adanya kepastian pembeli.

Kendala ini masih bertambah dengan belum tersedianya teknologi murah pengolahan dan investasi pendirian pabrik biofuel dalam skala besar. Kalau sudah begini bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: