it’s about all word’s

Saat Kapitalisme Kehilangan Akal

Posted on: February 21, 2008

Judul : Dekade Keserakahan
Era ’90-an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia
Penulis : Joseph E. Stiglitz
Penerbit : Marjin Kiri, Februari 2006
Tebal : 386 halaman

Buku yang baik adalah buku yang mencerahkan. Untuk itu diperlukan lingkungan yang kondusif bagi proses dialektika yang terjadi. Amerika Serikat sebagai negara demokratis berhasil melahirkan banyak pemikir jempolan.

Beberapa memang militan dan acap kali menyerang kebijakan AS, sebut saja Noam Chomsky di bidang perpolitikan. Sementara di bidang ekonomi makro kita pasti kenal mantan Kepala Ekonom Bank Dunia, Joseph E. Stiglitz.

Kalau Chomsky sering membuat merah telinga pejabat-pejabat AS sehingga membuat ketakutan penerbit buku. Maka Stiglitz acap kali membuat lembaga internasional yang jadi kendaraan kapitalisme AS seperti IMF, WTO dan Bank Dunia gregetan.

Hasilnya muncul kecaman keras dari Kepala Ekonom IMF, Kenneth Rogoff pada Stiglitz saat peluncuran buku Globalization and Its Discontents. “Resep kebijakan Stiglitz justru memperburuk masalah suatu negara dengan menggenjot inflasi,” ujar Rogoff seperti dikutip dari Washington Post.

Peraih Hadiah Nobel di bidang ekonomi 2001 itu, juga tak kurang lantangnya memaparkan ‘dosa-dosa’ lembaga multilateral Bank Dunia dan WTO yang juga dinilai telah menyebabkan krisis ekonomi di berbagai belahan dunia.

Pentingnya kerjasama bilateral

Buku yang dialih bahasakan oleh Aan Suhaeni itu menegaskan pandangan Stiglitz tentang sebuah bentuk hubungan ekonomi yang didasarkan kerjasama bilateral daripada kerja sama multilateral, kawasan atau antar kawasan.

Menurut Profesor dari Massachussette Institute of Technology itu perdagangan secara bilateral akan terjadi secara alamiah atas dasar kebutuhan dan saling menguntungkan.

Pendapat itu didasarkan karena buku yang berjudul asli The Roaring Nineties, Towards a New Paradigm in Monetary Economics itu terinspirasi pada krisis ekonomi di Asia termasuk Indonesia.

Dengan data-data empiris dia pengungkapan fakta permasalahan struktural di bidang makro-ekonomi yang telah menyebabkan kondisi usaha menjadi serba tidak pasti.

Kondisi ini telah menimbulkan masalah baru atas munculnya disintermediasi pada industri perbankan di sebagian besar negara Asia mengalami permasalahan disintermediasi perbankan dalam skala berbeda-beda.

HAsilnya muncul paradigma baru tentang industri perbankan yang lebih senang bermain aman dengan kecenderungan memutar kapital melalui selisih bunga bank sentral daripada memperoleh margin melalui penyaluran kredit

Kondisi ini terjadi tidak hanya di negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Jepang dan Thailand, tetapi juga di Rusia, Brazil dan Argentina yang sempat ‘batuk pilek dan muntah darah’ terserang wabah krisis moneter.

Kondisi itu diperparah kebijakan IMF. Hasilnya dari sisi ekonomi terjadi merosotnya mata uang domestik, naiknya capital outflows, tingginya tingkat suku bunga dan likuidasi bank.

Guru Besar Columbia University, New York itu berpendapat kebijakan IMF yang menuntut negara-negara yang mengalami krisis untuk mengurangi defisit anggaran dan menaikkan suku bunga.

Menurut ekonom berjuluk “The Rebel Within” itu, kebijakan ala IMF justru mendorong resesi dan memperbesar kemungkinan investor hengkang dari negara-negara melarat tersebut.

Sudah menjadi konsensi umum bahwa IMF hanya bersedia membantu ekonomi yang sedang terpuruk bila mau menjalankan kebijakan ideologi fundamentalisme pasar, yaitu bikin pasar modal, buka pintu selebar mungkin untuk lalu lintas barang, jasa, dan modal.

Peran pemerintah dalam ekonomi diperkecil, antara lain dengan swastanisasi perusahaan negara. Indonesia pun kini mulai merasakan panyakit IMF sejak tuntutan itu dijalankan.

Sebut saja BBM naik, tarif listrik naik, hingga kepemilikan Indosat dan bank-bank dalam negeri pindah dikuasai Singapura dan Malaysia. Sementara skandal Enron di AS justru diam-diam dikubur dalam-dalam.

Dan, perlahan namun pasti AS dan Eropa pun mulai merasakan kesulitan ekonomi. Resesi merambat naik, mata uang internasional perlahan melemah, kesulitan likuiditas dan ujung-ujungnya perusahaan raksasa harus melakukan perampingan.

1 Response to "Saat Kapitalisme Kehilangan Akal"

selumit menyelumit separti sumpit di kota sampit membuat pikiran terasa sempit terus di hempit dan terapit oleh amal sipit dan dosa buncit membuat pertayaan akan diri membukit yang terasa sakit menjerit kemudian lari terbirit-birit smbil mencrit-mencrit dalam sbuah gigit gempita………….pertanyaan yg tmbul dztu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: