it’s about all word’s

Sam Po Kong bersolek

Posted on: February 21, 2008

Setiap kali membicarakan gedung batu Sam Po Kong maka disana akan muncul eratnya hubungan budaya China, Indonesia, persebaran agama Islam hingga setianya warga Tionghoa di Semarang terhadap leluhurnya.

Gedung batu Sam Po Kong sendiri adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He biasa disebut Cheng Ho atau Sam Po Tay Djien atau Dampo Awang.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu di daerah Simongan di tepi sungai Banjir Kanal atau sebelah barat daya Kota Semarang.

Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Aura klenteng memang sangat mendominasi situs ini, setiap Lak Gwe Ji Kauw atau Lak Gwe Sha Cap atau tanggal satu dan lima belas sesuai penanggalan Imlek diadakan peringatan atau sembahyang oleh warga Tionghoa.

Padahal menurut sejarah Cheng Ho adalah laksamana yang beragama Islam. Mungkin karena pamor keislaman tokoh satu ini tenggelam dibalik bayang-bayang asalnya sehingga umat Islam kurang memandang tokoh Islam ini.

Dalam buku Amen Budiman Semarang Riwayatmu Dulu I ditulis bahwa Zheng Ho adalah seorang Islam, dilahirkan di daerah K’un Yang di kawasan Yunnan tengah.

Dari sebuah batu bersurat yeng terukir diatas makam ayahnya yang berada di daerah itu dapat diketahui bahwa ayahnya adalah seorang Ha-tche, sedang nama keluarganya adalah Ma. Seperti juga ayahnya, kakeknya juga disebut Ha-tche.

Adapun nama Ha-tche tidak lain adalah merupakan salinan dari kata Haji. Dengan demikian jelas sekali, bahwa baik ayah maupun kakek Zheng Ho adalah orang Islam yang telah menunaikan rukun Islam yang kelima.

Menurut Ir. Setiawan dalam buku Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu Semarang dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid.

Uniknya jika Anda ke Surabaya, akan ditemukan sebuah masjid berarsitektur klenteng dengan nama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia yeng terletak di jalan Gading, tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Kusumabangsa, Surabaya.

Zheng Ho mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan sejak itu Zheng Ho lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai Kam.

Karenanya Zheng Ho sering juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang besar.

Meskipun diatas disebut bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan pemujaan.

Warga etnis Tionghoa memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung tinggi serta dimohon berkahnya. Meski begitu tak sedikit umat Islam, Kristen dan Katolik mendatangi tempat ini untuk memohon berkat.

Pada sebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga Liem Djing Tjie pada tahun 1960.

Dan tahun ini, terasa istimewa sebab selama seminggu pada awal Agustus mendatang ditempat ini akan dilaksanakan peringatan 600 tahun perjalanan Laksamana Ceng Ho (Sam Po Tay Djien) di Semarang.

Untuk itu klenteng ini bersolek, bahkan bisa dibilang seluruh kompleks ini dipugar total sehingga lebih megah dan luas. Bahkan untuk itu panitia peringatan dikoordinasi langsung oleh Gubernur Jateng.

Selain itu dukungan juga datang dari Kementerian Perdagangan dan Industri, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta Badan Koordinasi Penanaman Modal. Panitia terdiri atas masyarakat Tionghoa di Jateng, unsur Pemprov Jateng, serta Kota Semarang sebagai fasilitator.

Maklum saja kegiatan ini bakal dihadiri pengusaha nasional dan internasional itu merupakan momen strategis. Calon investor dari dalam dan luar negeri bisa melakukan diplomasi perdagangan.

*Bisnis Indonesia 20/7/05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: