it’s about all word’s

Sulitnya mengarungi gelombang transisi

Posted on: February 21, 2008

Judul : Managing Transitions
Mengatasi Masa Transisi
Organisasional yang Melelahkan
Penulis : William Bridges
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer, Januari 2006
Tebal : 242 halaman

Maestro manajemen paling berhasil abad ini, Jack Welch punya sebuah gagasan ‘Berubahlah sebelum terlambat’ yang banyak didengar orang dan berhasil diterapkannya dari menit pertama sejak mengambil alih General Electric pada musim semi tahun 1981.

Untuk itu setiap karyawan dituntut harus merangkul perubahan. Tidak mudah memang namun menjelang tahun 1990-an GE telah muncul sebagai perusahaan terkuat di AS.

Sayang, Welch sama sekali tidak membagi ilmunya tentang mengatasi masa transisi. Harus disadari transisi dan perubahan adalah dua saudara yang berbeda namun saling melengkapi.

Perubahan lebih bersifat situasional seperti pindah ke tempat baru, pemimpin berganti, reorganisasi peran tim, revisi tunjangan, gaji, pensiun, beragam efisiensi hingga keputusan uji coba cara kerja baru.

Sementara transisi lebih menekankan pada kondisi psikologis hasil penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Tanpa melalui fase transisi maka perubahan paling cerdas pun akan menjadi perubahan paling bodoh.

Alih-alih ingin untung justru buntung dan berujung pada frustasi individu yang terlibat dalam lingkungan yang sedang berubah tersebut.

Kemampuan individu atau institusi memahami, menerima, merespons, dan beradaptasi terhadap perubahan, terutama perubahan di fase transisi yang bersifat personal dan membutuhkan kecerdasan menghadapi kesulitan, dan fase transisi tersebut menjadi kunci terpenting bagi keberhasilan untuk tetap bertahan hidup.

Orang bijak berkata; “Semua orang berfikir untuk merubah dunia, tetapi tak seorangpun yang berfikir untuk merubah dirinya”, demikian kata Leo Tolstoy.

Perlunya kecakapan mengelola transisi

Tak heran jika kemudian William Bridge berkeyakinan bahwa sesungguhnya masalah kita hingga saat ini bukanlah kurang dan rumitnya perubahan itu, melainkan ketidakefektifan mengelola perubahan, terutama di fase transisi.

Setidaknya ada tiga fase transisi yang harus dilalui ketika menginternalisasi dan menyesuaikan diri dengan situasi baru yang terjadi karena perubahan, yakni; (1) pengakhiran, kehilangan dan penanggalan; (2) zona netral; dan (3) permulaan baru.

Transisi adalah suatu proses dimana orang keluar dari dunia lama dan masuk ke dunia baru atau dimulai dengan suatu pengakhiran dan diakhiri dengan suatu permulaan atau dalam bahasa agama fase pertaubatan.

Permulaan sangat tergantung pada pengakhiran, setiap pintu keluar adalah pintu masuk ke suatu tempat lain, namun sayangnya banyak orang tidak suka mengakhirinya, karena telah terperangkap dalam “kenyamanan”.

Tarik menarik psikis terjadi paling kuat saat harus meninggalkan nilai-nilai lama yang nyaman tersebut dan mulai memasuki fase pengorbanan diri. Ibarat pasien sedang koma. Sadar tidak, mati tidak.

Pada kondisi ini ada tekanan psikologis yang sangat kuat seperti merasa terombang ambing, kecemasan meningkat dan motivasi merosot, mudah terpolarisasi, cara lama sudah ditinggalkan.

Sementara di sisi lain cara baru belum terbentuk atau belum dirasakan nyaman, dan selalu timbul keraguan serta meminta petunjuk, dan bahkan tergoda untuk mengikuti siapa saja yang tampaknya mengetahui kemanapun dia akan melangkah.

Pada kondisi ini, diperlukan sikap pemimpin yang mampu memahami usaha perubahan yang sedang dilakukan oleh anak buahnya. Untuk itu diperlukan kerja keras untuk mempererat hubungan antar individu.

Jika bisa melalui saat-saat kritis ini barulah kaki karyawan mulai diajak untuk menginjak yang disebut perubahan tanpa bisa dipungkiri masih ada gagap psikologis atau sakit hati tercerabut dari dunia yang sebelumnya nyaman.

Dalam ketiga fase ini diperlukan kemampuan untuk mengelola fase transisi, seperti; menilai kesiapan transisi, merencanakan transisi, membentuk tim pemantau transisi, melakukan bimbingan anggota organisasi di masa transisi, dan memilih pemimpin yang kredibel di masa transisi, bisa jadi hal itu belum dilakukan.

Sebab pada dasarnya yang sering menggelora adalah keinginan untuk berubah tetapi tidak mau berkurban untuk mengawali perubahan, yakni mengelola fase transisi secara efektif. Setidaknya yang kecil-kecil dulu dan dilakukan pada diri Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: