it’s about all word’s

Susahnya mencari pemimpin

Posted on: February 21, 2008

Pergantian pemimpin di Indonesia memang selalu menyimpan kejutan. Pada tataran politik, suksesi menjadi bersahabat karib dengan tragedi. Sebut saja pemindahan tampuk kekuasan dari Sukarno ke tangan Suharto yang berlanjut ke tangan Habibie.

Tidak seperti PM Mahatir Muhamad yang mempersiapkan Ahmad Badawi sebagai penggantinya. Pemimpin-pemimpin di Indonesia justru terlena dengan nikmatnya kekuasaan. Hasilnya proses kaderisasi terpinggirkan.

Hal yang sama juga terjadi di dunia bisnis. Sebut saja kehebohan pasar dalam negeri saat mantan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid akhirnya disetujui menjadi Direktur Utama PT Telkom Tbk mengeser Kristiono.

Maklum saja selain bukan berasal dari Telkom Arwin jelas tidak berpengalaman di bidang telekomunikasi. Padahal dipundaknya ada tanggung jawab agar Arwin mampu menstabilkan keuangan Telkom sebagai perusahaan terbesar yang terdaftar di pasar modal Indonesia.

Saat itu Meneg BUMN Sugiharto mengatakan, Arwin diharapkan dapat mendorong Telkom menjadi perusahaan yang memiliki kapitalisasi sebesar US$33 miliar dari kapitalisasi saat ini yang hanya US$11 miliar.

Keriuhan setiap suksesi di dunia bisnis dalam negeri memang tak hanya sekali. Sebut saja saat Djohan Emir Setijoso dari Bank Rakyat Indonesia menggantikan Abdullah Ali sebagai Dirut Bank Central Asia pada Mei 1998.

Berbeda dengan BUMN yang cenderung sarat unsur politis dan titipan kepentingan. Pada tingkat lembaga bisnis swasta terutama bank penggantian seperti ini lumrah. Semuanya bergantung pada sang pemilik.

Biasanya, jika pemilik bank berganti, pemilik baru akan menentukan orang-orang yang dianggap layak masuk jajaran direksi. Pola seperti ini berlaku universal di mana pun, tak terkecuali di negara ini.

Setiap pemilik perusahaan pastilah menginginkan perusahaannya untung. Sebab, mereka telah mengeluarkan uang yang tak sedikit. Agar untung, mereka harus yakin bahwa jajaran pengurus perusahaannya mampu mewujudkan keinginannya itu.

Fenomena penggantian pengurus bank terutama pada tingkat level atas tak datang dengan sendirinya. Hal ini imbas dari peluncuran Paket Deregulasi Oktober 1988 (Pakto 1988).

Pakto sendiri bak pupuk super bagi tumbuhnya bank di tanah air. artinya izin pendirian bank dibuka sangat lebar tanpa disertai sistem pengawasan yang memadai. Akibatnya, setiap pemilik uang dapat mendirikan bank dengan mudah.

Hasilnya jumlah bank pun melonjak drastis. Dari hanya puluhan sebelum Pakto lalu menjamur menjadi 111 bank lalu beranak pinak hingga 240 bank. Sayang hal ini tidak diikuti dengan peningkatan kualitas bankir berkualitas.

Tak heran bila saat itu bankir andal dan berpengalaman di bidang perbankan menjadi makhluk langka yang jadi rebutan di dunia perbankan. Kini jauh lebih sulit. Tidak hanya lulusan terbaik mereka juga harus lolos uji kepatutan Bank Indonesia.

Tetapi bagaimana dengan kaderisasi? Rupa-rupanya masih jadi anak tiri di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal ini diperkuat oleh hasil survei kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Development Dimensions International dan Center for Applied Behavior Research (CABER).

Survei ini diselenggarakan di 43 negara dan diikuti oleh 944 organisasi. Di Indonesia survei ini diisi 558 responden yang berasal dari 23 organisasi. Setiap organisasi mendapat jatah 20 kuisioner di berbagai level manajer dan satu kuisioner bagi divisi SDM.

Organisasi peserta di Indonesia a.l The Jakarta Post, PT Badak NGL, BCA, BII, Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Panin, BRI, Exelcomindo, Indosat, HM Sampoerna, Pertamina, Pindad, Soho, Toyota, United Tractor hingga Yamaha Indonesia.

Padahal di tingkat global level senior manajer merupakan faktor yang sangat menentukan kepercayaan pasar terhadap perkembangan bisnis. Hal ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di dalam negeri.

Persoalannya pemilihan seseorang untuk menempati posisi senior manajer di dalam negeri masih dipengaruhi faktor kedekatan keluarga, kepentingan politik yang berakibat kurangnya tingkat transparansi pemilihan calon.

Hasilnya terdapat persepsi bahwa mayoritas responden di Indonesia menginginkan sosok kepemimpinan yang dapat membuat keputusan di tengah kondisi makro yang tidak stabil (61%).

Persepsi ini muncul jika Anda melihat kultur budaya ‘atas petunjuk Bapak’ yang sudah dibiasakan di lembaga bisnis dan kondisi saat survei ini dilakukan di masa awal terpilihnya SBY sebagai presiden baru.

Termasuk budaya kepemimpinan yang sering kali dikaitkan dengan sosok yang memiliki kuasa atas para pengikutnya. Kepemimpinan selalu dihubungkan dengan kemampuan memberi petunjuk, perintah, nasihat, arahan bagi para pengikut.

Kesulitan ini makin menajdi jika dikaitkan dengan persepsi responden dari pihak SDM yang menyatakan dalam jangka waktu lima tahun mendatang akan semakin sulit menemukan kandidat pemimpin di level yang semakin tinggi. Pada level senior angka itu di atas perusahaan global (69%).

Sementara hanya 57% dari organisasi peserta survei yang telah memiliki rencana suksesi sedangkan 39% organisasi peserta sama sekali belum memikirkan rencana suksesi di tingkat senior manajer.

Tak heran setiap kali terjadi suksesi lembaga bisnis di dalam negeri selalu kelimpungan mencari calon atau justru terus menerus mempertahankan seseorang di posisi tersebut dalam waktu yang lama.

Melihat hasil 2005 DDI Leadership Forecast Survey ini jelas tampak sekali kesulitan yang akan dihadapi lembaga bisnis di Indonesia dalam hal mencari pemimpin di masa mendatang.

Jika ini tidak segera diantisipasi maka daya saing institusi bisnis di dalam negeri harus dipertanyakan di tengah derasnya globalisasi yang mewajibkan pemimpin yang penuh inovasi dan visi.

30/11/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: