it’s about all word’s

Tempo Magazine Story

Posted on: February 21, 2008

Judul : Wars Within:
The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia
Penulis : Janet Steele
Penerbit : Equinox Publishing dan ISEAS
Tebal : 328 halaman

Setiap kali membicarakan industri media cetak Indonesia, maka majalah mingguan Tempo akan selalu menjadi bagian dari industri tersebut. Selain tetap bertahan lebih dari dua dekade dengan dihiasi penutupan, Tempo tetap optimis membawa semangat perlawanan.

Oleh Steele, Tempo tidak hanya dibahas sebagai sebuah institusi industri pers namun juga sebagai sebuah industri yang melibatkan emosi. Layaknya sebuah keluarga besar, Tempo tumbuh dengan emosi dan kebersamaan di dalamnya.

Hasilnya nama Goenawan Mohamad tak akan bisa dipisahkan dalam sejarah perjalanan majalah tersebut. Seperti halnya majalah bulanan Intisari memiliki P.K Ojong dan harian Kompas dengan Jacob Oetama.

Hal yang juga tak bisa dipisahkan adalah pemain-pemain bisnis di belakangnya. Meski mereka lebih banyak bermain dibelakang panggung namun tanpa tangan dan modal mereka industri pers Indonesia tentu bak lentera tanpa minyak.

Tentu saja, aspek kapitalisme yang tak mengenal sekat diantara industri pers tak bisa dipinggirkan. Sebut saja nama-nama yang muncul di buku ini a.l Ciputra dan almarhum Eric Samola yang menyokong kelahiran Tempo, ternyata juga berperan bagi suksesnya harian ekonomi Bisnis Indonesia dan Jawa Pos.

Kisah bisnis ini begitu unik dan tak boleh ditinggalkan—bahkan mengawali buku ini—seputar bangkitnya Tempo dari kubur pencabutan SIUPP. Penulis yang berprofesi sebagai dosen ini cukup sabar untuk menggali latar belakang yang beragam.

Hasilnya tentu saja pembaca menjadi dekat dengan konflik emosional yang dilakoni oleh para jurnalis Tempo. Konflik tersebut tak hanya melibatkan Goenawan dengan kawan-kawan dekatnya, misalnya Bambang Bujono yang terlibat aktif dengan majalah Detektif dan Romantika (D&R).

Ataupun kebencian loyalis Tempo kepada kawan-kawannya yang mengadu nasib di majalah Gatra pasca penutupan Tempo. Pasalnya mereka percaya Gatra tak lebih dari boneka dari penguasa melalui kepemilikan Bob Hasan.

Makin rumit karena ternyata sudah menjadi rahasia umum bahwa penyokong Tempo, Grafiti Pers memiliki D&R melalui Bambang Bujono. Dan Grafiti Pers yang juga milik Ciputra memiliki saham di Gatra melalui Yayasan Jaya Raya.

Dengan gaya bahasa Inggris-nya yang nyastra, karya Steele terasa nikmat saat membawa pembaca menyusuri nukilan perjalanan para founding father Tempo itu. Persentuhan mereka sebagai salah satu penyapih bayi– dan penentang–Orde Baru tentu saja tak bisa dibantah.

Mulai dari masa Harian Kami yang melegenda hingga embrio Tempo yaitu majalah Ekspres yang secara tak langsung diakui oleh Goenawan diilhami majalah Time yang dulu sering dipinjamnya dari diplomat Amerika, Paul Gardner.

Entah kebetulan atau disengaja, jika Anda jeli maka pada edisi awal Tempo sangat mirip dengan Time, hasilnya tentu saja gugatan kepada di awal 1973 namun berhenti begitu saja pada pertengahan 1974.

Lebih dari itu, dari buku ini tentu saja banyak kejutan bagi pembaca yang berasal dari generasi 1980-1990-an yang ‘dipaksa’ menikmati dan mengimani sejarah indah Orde Baru melalui sistem pendidikan ataupun pers yang dikendalikan oleh tali kekang SIUPP.

Campur tangan pemerintah—lebih tepatnya militer—tak hanya sampai disitu, melalui lembaga pers bonekanya kala itu yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) kerja wartawan hingga pemberitaan direkayasa sedemikan rupa agar lebih manis didepan penguasa.

Tentu saja hal tersebut sangat menguntungkan dan mendukung langgengnya kekuasaan Soeharto. Tempo sebagai media bentukan para aktivis 66—yang juga mengantarkan Soeharto sebagai presiden—berani mengambil langkah lain.

Meski pun untuk itu, mereka juga harus menghadapi kawan-kawan seangkatannya sendiri. Sebut saja Menteri Penerangan dan pendiri harian Pos Kota kala itu, Harmoko, yang merupakan kawan dekat Nono Makarim di Harian Kami yang juga kawan dekat Goenawan.

Langkah berani melawan arus yang patut dicatat adalah keberanian Tempo untuk menampung mantan tahanan politik kasus G30S/PKI yang lulusan Pulau Buru. Salah satunya Amarzan Ismail Hamid yang biasa dipanggil Amarzan Loebis. Bahkan namanya tampil di masthead majalah itu.

Padahal kita tahu saat itu pemerintah Orde Baru sedang sangat gemar menggunakan jargon ‘bersih lingkungan’. Sebagai bagian dari kampanye anti komunis di lembaga pemerintahan, eksekutif hingga lembaga pers.

Hasilnya Harmoko yang gerah dengan langkah Tempo lalu mengirim surat permintaan agar nama Amarzan dikeluarkan dari masthead. Namun Goenawan memilih untuk menolak permintaan itu.

Meski saat itu Amarzan memilih untuk menghapus namanya, Goenawan mengatakan “If you don’t want your name to be cut out from the masthead. I won’t do it. I won’t take off,” (hal 163)

Saat itu kondisi berangsur pulih seperti sedia kala. Lama berselang hal yang sama muncul kembali pada awal 1986. Kali ini datang surat dari Dirjen Pers dan Grafis, Soekarno. Hasilnya Amarzan memilih pindah ke Matra.

Harus diakui Steele membawakan buku ini sangat ringan dan mengalir. Hanya satu kekurangan dari buku ini adalah tiadanya penggalian penulis terhadap bisnis dan kesejahteraan awak Tempo usai ditangani Bambang Harymurti yang sukses membuat kejutan dengan harian Koran Tempo.

Sebab sebagai sebuah institusi bisnis, selain idealisme ada faktor finansial yang menarik untuk diteropong diantara persaingan yang makin ketat dan bergelimangnya pemain di ranah industri pers. (alp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: