it’s about all word’s

Timika: Surga pariwisata yang sulit menggeliat

Posted on: February 21, 2008

Harus diakui, seperti halnya perjalanan ke surga bawah air Wakatobi, Sulteng, rasa penasaran saya langsung memuncak saat diundang PT Bank Nasional Indonesia Tbk untuk mengunjungi ibukota kabupaten Mimika, Timika.

Tambah lagi penuturan kawan Mapala UI yang sudah merambah Timika makin mempengaruhi saya. Alhasil putihnya salju Cartenz Pyramid, koteka, karapao suku Komoro, eksotisme suku Amungme langsung menghantui angan.

“Masa punya KTP Indonesia dan hapal menyanyikan hmyne Satu Nusa Satu Bangsa malah belum pernah ke ujung barat Indonesia,” pikir saya.

Namun untuk itu saya harus sabar meringkuk di kabin pesawat Garuda selama lima setengah jam dan disambut macetnya pintu pesawat begitu mendarat di bandara internasional Timika, Moses Kilangin.

Udara masih dingin dan embun belum menguap dari rumput saat kaki ini pertama kalinya menjejak tanah kota tambang dengan penduduk sekitar 50.000 orang itu.

Walau bergelar bandara internasional, jangan bayangkan seperti halnya Sukarno-Hatta dan Ngurah Rai. Moses Kilangin jauh dari itu. Jalur berbatu merupakan penghubung landasan dan terminal kedatangan penumpang.

Yang disebut terminal kedatangan pun lebih tepat disebut kandang dengan kawat yang biasa digunakan untuk menutup lapangan tenis. Harap maklum, bandara yang dikelola PT Airfast Aviation Facilities Company (AVCO) ini memang dibangun bagi kegiatan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dari bandara hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk mencapai Hotel Sheraton. Hotel bintang empat dengan 84 kamar itu sangat unik. Mirip tempat peristirahatan di tengah hutan.

Pohon dibiarkan tak ditebang. Mbitoro, patung ukiran karya seniman Kamoro menyambut. Dibuat dari kayu utuh, ukurannya besar-besar. Yang terbesar diletakkan di muka pintu hotel. Tingginya tiga meter dengan diameter sepelukan tangan saya.

“Kamar penuh. Maklum kami menjadwalkan dua menteri dan rombongannya akan menghadiri pembukaan klinik kesehatan [Griya BNI],” jelas External Communications Group Head PT BNI, Ryan Kiryanto.

Kami hanya manggut dan nurut untuk bermalam di Hotel Serayu di Jalan Yos Sudarso. Letaknya di antara kantor Lembaga Pengembangan Masyarakat Amugme dan Komoro (LPMAK) yang lebih serinh kosong dan pasar umum Timika yang berdebu

Secangkir kopi susu dan setangkup roti bakar jadi pengganjal perut untuk segera mengunjungi Kuala Kencana, kota bagi pekerja Freeport. Butuh waktu sekitar 20 menit naik mobil untuk sampai di kota dengan penduduk tak lebih dari 3.000 orang itu.

Untuk masuk ke kota ini Anda wajib lapor pada pos jaga dan mendapat kartu tamu. Jalan menuju kota modern ini mulus dan lebar. Kiri kanan rumput terpotong rapi dan pepohon dibiarkan alami. Saya jadi ingat jalanan di kota Perth, Australia Barat.

Meski jalan sepi dan mulus. Mobil tak boleh melaju di atas 60 km/jam. Jika Anda nakal, harap hati-hati! Ada kamera kecepatan yang tersembunyi.

Lima belas menit dari pos jaga. Akan ditemui taman monumen Kuala Kencana. Disitu ada kantor PTFI yang berseberangan dengan toko serba ada.

Monumen kota ini berbentuk empat Yamate (perisai) yang digabung. Motifnya kura-kura. Di ujung bawah monumen ada prasasti dengan tanda tangan Presiden Suharto saat meresmikan berdirinya kota itu, 5 Desember 1995.

Monumen ini diapit gereja dan masjid. Di ujung timur berdiri Gereja Bethel dan di baratnya Masjid Batur Rahim kokoh menantang matahari. Sayang lampu tamannya banyak yang pecah.

Keterbatasan infrastruktur

Dengan Rp32,6 miliar, Timika merupakan penyumbang pajak terbesar se Indonesia. Sementara dana perimbangan dari pemerintah pusat cukup besar. Saya mencatat Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Timika sebesar Rp264 miliar.

DAK merupakan dana yang diperuntukkan untuk percepatan pembangunan pada sektor kesehatan, pendidikan, perikanan, pertanian, kehutanan, dan peternakan. Sedang DAU disesuaikan dengan pembangunan dan kemajuan yang ada di daerah tersebut.

Dompet wilayah ini juga dijamin menggelembung berkat dana royalti penambangan dari PTFI yang mencapai Rp85 miliar.

Namun penyaluran dana itu wajib dipertanyakan jika masih banyak Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) hingga sekolah di pedalaman yang reyot berdebu, sementara gedung-gedung pemerintahan yang megah justru lebih sering kosong tanpa penghuni.

Banyaknya jalanan yang rusak, rasanya sudah cukup menjadi gambaran tanda tanya besar bagi kemajuan wilayah dengan kucuran dana besar ini.

Sektor pariwisata yang coba dirintis PTFI melalui Festival Budaya Kamoro dan Festival Budaya Asmat dan punya potensi menarik tamu internasional malah justru sekadar jadi ajang setor muka tahunan pejabat daerah pada tamu-tamu dari Jakarta.

Tak heran jika tokoh adat Komoro, Johannis Samin saat festival ini berlangsung bahkan keras mengkritik kelakuan Gubernur Papua, JP Solossa yang tak pernah menginjak tanah Timika. Penggantinya, Sodjuangon Situmorang? Setali tiga uang!

Tak hanya Gubernur, Meneg Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifullah Yusuf yang diharapkan hadir—tentu dengan fasilitas–BNI pun ogah berkunjung ke daerah ini tanpa alasan yang jelas.

Melihat kondisi yang ada itu, saya justru jadi pesimistis akan nasib Timika di masa mendatang.

Potensi yang tertutup izin

Menurut Reception Manager Hotel Sheraton Timika, Hendrik Wakum emas terpendam pariwisata terbesar di tempat ini ada di pantai dan puncak gunung.

“Menyusuri muara hingga kepantai, atraksi berburu buaya adalah adalah suguhan eksotis yang belum digarap secara profesional,” ujarnya

Sementara Cartenz Pyramid yang menjadi puncak tertinggi di Asia-Pasifik (4.884 mdpl) adalah daya tarik bagi penggila kegiatan gunung pasti tahu besarnya daya pikat puncak gunung bersalju itu.

Jangan heran bila pendaki-pendaki papan atas kelas dunia berlomba untuk mendaki gunung dengan salju abadi di wilayah ekuator dunia itu. Sebut saja Heinrich Harrer, Reinhold Messner, Pat Morrow, hingga Junko Tabei pernah menjamah puncak ini.

Sayang ijin pendakian ke puncak gunung melalui Tembaga Pura itu ijinnya dipastikan sulit didapat dengan berbagai alasan.

“Kalau lewat Tembaga Pura hanya butuh delapan jam untuk sampai ke base camp terakhir, Lembah Danau-danau,” tutur anggota senior pecinta alam Mapala UI, Adi Seno yang sudah empat kali mendaki Cartenz. Dua diantaranya melalui Tembaga Pura.

Bandingkan dengan waktu yang wajib ditempuh jika harus melalui Ilaga yang harus memutar ke utara. Setidaknya butuh tujuh hari untuk sampai ke Lembah Danau-danau.

Sampai ada satir tentang pendakian ke tempat ini ”Lebih sulit mengurus izinnya daripada mendaki gunungnya,” Bahkan wilayah ini pernah tutup total pasca kasus penculikan tim biologi ekpedisi Cartenz-Lorentz di Mapenduma 1995 – 1996.

Manajer Corporate Communication PTFI, Mindo Pangaribuan di Timika menegaskan larangan itu sudah menjadi keputusan pemerintah karena wilayah tambang memang tertutup bagi masyarakat umum.

Jangankan untuk mendaki. Untuk masuk ke Tembagapura saja sulitnya bukan main. Dari rombongan BNI hanya empat orang saja yang diizinkan masuk. Anda wartawan? jangan mimpi! Aih, jangan-jangan memang benar ada dosa besar yang disembunyikan?

Kendala Akses

Satu-satunya akses tercepat menuju ke Timika adalah melalui jalur udara. Ada empat maskapai yang melayani jalur ini a.l Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Airefata dan Airfast.

Ada pula penerbangan intenasional dari Australia melalui Darwin yang dilayani Airfast. Tetapi maskapai ini biasanya lebih banyak dipadati konsultan ataupun tamu PTFI.

Beberapa pemain swasta seperti Jatayu Airlines dan Carstensz Papua Airlines (CPA) yang sempat mengutarakan niat mereka menggarap jalur ke Timikia justru akhirnya lenyap tak berbekas.

Landasan dengan panjang 2390 meter itu merupakan pintu masuk wisatawan dari dan ke Jayapura, Biak, Merauke, Sorong, Makasar, Manado, Denpasar, Surabaya, Jakarta, Darwin Australia dan Papua Nugini.

Sedangkan lima lapangan terbang perintis lainnya terletak di Kokonao, Akimuga, Jila Jitu dan Palamo.

Namun bagi Anda yang mabuk udara bisa saja menggunakan kapal laut untuk mencapai Timika. Jalurnya bisa melalui Makassar atau Menado. Jarak tempuhnya pun ‘cukup lumayan’. Dari Menado paling cepat dua sampai tiga minggu!

Pelabuhan laut ada dua yaitu Pelabuhan Pamako dan Amampare. Pamako yang terletak 60 km dari Timika untuk masyarakat umum sedangkan pelabuhan Amampare khusus untuk PTFI.

Dari tempat itu tersedia kapal berukuran kecil untuk menyusuri sungai-sungai di pedalaman wilayah itu a.l Komoro, Pikapu, Jaramay dan Mimika.

Sedangkan jalur darat ke Timika dari kota lain di Papua boleh dikata tak ada. Sopir kami, Udin yang asli Bugis menjamin tidak akan pernah kesasar kalau menyusi jalan aspal kota ini.

Bagaimana tidak, hanya ada dua jalur yang seluruhnya buntu. Satu ke Mapuru Jaya tempat bangsa Komoro bermukim. Dan satu lagi tentu saja ke Kuala Kencana yang ujungnya wilayah terlarang, Tembaga Pura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: