it’s about all word’s

Wei Tsin Fu: Music Method

Posted on: February 21, 2008

Para ilmuwan sering membicarakan bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks sebagai bagian yang berbeda dari bagian otak yang mengurangi emosi yaitu sistem limbik. Padahal keduanya mempunyai hubungan. Interaksi yang disebabkan rangsangan bunyi musik yang menentukan kecerdasan emosional.

Sri Hermawati Dwi Arini dalam makalah Musik Merupakan Stimulasi Terhadap Keseimbangan Aspek Kognitif dan Kecerdasan Emosi menjelaskan korteks adalah bagian berpikir otak dan berfungsi mengendalikan emosi melalui pemecahan masalah, bahasa, daya cipta, dan proses kognitif lainnya.

Sedangkan sistem limbik merupakan bagian emosional otak. Sistem meliputi ini thalamus, yang mengirimkan pesan-pesan ke korteks; hippocampus, yang berperan dalam ingatan dan penafsiran persepsi; dan amigdala, pusat pengendalian emosi.

Menurut ahli perkembangan otak, Siegel musik dapat berperan dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat berpengaruh ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaringan neuronal otak.

Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh hemisfer otak kanan. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.

Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran antara otak kanan dan kiri.

Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent terdapat pada setiap manusia.

Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.

Ide dan penggunaan musik bagi pengembangan otak sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno oleh Plato dan Phytagoras dan penggunaan terapi musik telah terbukti bermanfaat bagi perkembangan kognisi, perilaku serta kesehatan.

Bahkan terapi musik juga telah digunakan untuk menolong para korban pada Perang Dunia I dan II. Dengan penggunaan terapi musik ini, para korban dilaporkan lebih cepat sembuh dan memiliki kondisi lebih baik.

Terapi ini makin ditanggapi dengan antusias oleh khalayak sejak efek Mozart dipublikasi Don Campbell setelah Frances Rauscher dari Universitas California dalam Irvine Project menemukan fakta bahwa efek ini dapat meningkatkan 8-9 poin IQ.

Padahal efek ini berlangsung hanya beberapa menit dan hanya mencakup kemampuan spasial-temporal. Tetapi masyarakat terlanjur terpesona dengan publikasi tersebut.

Metode Wei Tsin Fu

Diam-diam ternyata Indonesia sudah lebih maju dari pada efek Mozart tersebut, Indonesia memiliki ahli musik bernama Wei Tsin Fu yang merupakan satu-satunya orang Asia yang menjadi direktur sekolah musik tinggi di Eropa yaitu Inge Wuest, Musikakademie Bayern dan MusikakademieTubingen.

Untuk MusikakademieTubingen sendiri sejak berdiri tahun 1987 tercatat memiliki 450 murid dari berbagai negara di Eropa dan Amerika. Sekolah musik ini mengadakan konser lebih dari 200 kali tiap tahunnya di empat benua a.l Berlin, Munich, Stuttgart, Zurich, Moskow, Paris, Johannesburg, Liverpool, Salzburg, New York dan lain-lain.

Jebolan sekolah ini tidak hanya menjadi dirigen, dosen atau komposer untuk industri film dan musik komputer namun banyak pula yang menjadi dokter, pengacara, ahli matematika dan ilmu teknik yang lain.

Selama 30 tahun dalam pengembaraan di Eropa dengan bekerja sama dengan Research Institute of human Brain Jerman, Wei mengembangkan efek Mozart ini untuk menemukan suatu metode pembelajaran musik yang dapat mengaktifkan fungsi otak kiri, kanan, otak kecil dan susunan syaraf pada sumsum tulang belakang sehingga menghasilkan kemampuan yang sangat tinggi baik di bidang akademis maupun non akademis.

Mirip Habibie, Wei yang asal Indonesia menjadi direktur sekolah musik tinggi Eropa yang diundang Menteri Kebudayaan Jerman mulai bulan September 2003 untuk memberi cerama di kongres pendidikan Jerman dengan tema Kemampuan yang tinggi dapat dicapai hanya dengan orang-orang yang tahu bagaimana mencapainya dengan metode yang mudah.

Seimbangkan kiri dan kanan

“Umumnya bagian kanan otak orang Asia secara alamiah tumbuh lebih dominan dibanding otak sebelah kiri,” ujar Wei.

Oleh sebab itu dalam metode Wei diajarkan metode yang merangsang otak kiri-wilayah analis-berkembang mengimbangi otak kanan. Salah satu metode adalah mengajarkan pada anak-anak didiknya untuk bermain lagu-lagu dari seluruh dunia.

Menurut Wei melodi dan lagu setiap bangsa memberikan efek yang berbeda-beda pada bagian susunan saraf otak. Sebagai contoh lagu-lagu Jerman cenderung lebih serius dan merangsang proses analisis otak kiri, lagu Perancis relatif lebih riang merangsang wilayah tengah otak, Asia yang dinamis merangsang bagian kanan otak.

“Nah kalau musik yang merangsang sumsum tulang belakang itu musik Afrika, kita [Asia] cenderung sangat lemah disini,” paparnya.

Contoh hasil pendidikan Wei terbukti dari 9 murid didiknya yang lulus SMU atau Universitas pada 2001 mendapat hasil yang tinggi. Tujuh diantaranya mendapat nilai rata-rata 100%, dua dengan 98%.

Keponakan Wei sendiri, Astar Winoto menjadi professor tertinggi di Universitas California USA (Berkeley) dan sebagai penyelidik sel dan genetik dengan delapan penghargaan sejak 15 tahun masuk di buku Who is Who.

Rekor lain adalah keberhasilan Wei mendidik pemula asal Jerman dan New York yang betul-betul baru belajar membaca not hingga mampu memainkan Bach Prelude C Mayor atau Beethoven Fur Elise hanya dalam waktu satu minggu.

Pada konser di Balai Sarbini, awal pekan ini Theophilia salah satu murid Wei yang baru berumur lima tahun sudah sangat lincah memainkan Beethoven Fur Elise dihadapan penonton. Tidak cuma Theophilia, Yoseph Neil Sanmikha-pernah bermain di Opera House Sydney-ikut menunjukkan kemampuannya memainkan Gershwindan Prokofieff Piano Concerto in f.

Namun seperti pepatah hujan batu di negeri sendiri hujan emas di negeri lain, Sejak Wei mendirikan Akademi of Networked Thinking in Music (ANTIM) dua tahun lalu metode Wei kurang mendapat respon yang baik dari departemen terkait di negeri ini.

Padahal Februari tahun depan Departemen Pendidikan Singapura sudah mengundang Wei untuk mengajar guru-guru disana. Tujuannya jelas, tidak lain agar murid-murid sekolah di negeri singa itu mendapatkan hasil yang tinggi tanpa belajar berat.

Nasib Wei ini kurang lebih sama dengan nasib Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo yang melakukan penelitian sekitar 1981 tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya.

Menurut Daryono bila peserta didik mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam perasaannya.

Namun sampai kertas hasil penelitiannya menguning dimakan umur, instansi terkait tetap tidak memperhatikan hasil kerja Daryono.

7/12/04

1 Response to "Wei Tsin Fu: Music Method"

Sangat disayangkan jika pemerintah atau pendidikan musik formal di Indonesia tidak mengupayakan metode ini sebagai bagian dari kurikulum pendidikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: