it’s about all word’s

Yuniadi H Hartono

Posted on: February 21, 2008

Jadikan buku sejarah sebagai cerminan

Hobi baca buku ternyata tidak hanya sekedar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Membaca ternyata juga mampu menjadi sebuah cerminan hidup bagi seseorang.

Deputy Director of Marketing Planning and Communication Daimler Crysler Indonesia (DCIna), Yuniadi Haksono Hartono mengaku karena menyimak buku sejarah lah yang menjadikannya tetap mawas diri.

“Bukan soal pekerjaan saja yang terpengaruh tetapi juga kehidupan kita. Apa yang sudah saya lakukan itu kita harus selalu menoleh kebelakang,” ujarnya saat ditemui Bisnis disela-sela Simposium Teknologi DaimlerChrysler, pekan lalu.

Secara pribadi, lanjutnya, itu untuk menghindari menjadi orang yang sombong. Sebab sebelum kita menatap masa depan kita harus menatap masa lalu.

Hasilnya lelaki tiga anak ini dapat menghargai orang-orang yang baru bergaung dengan perusahaannya. “Sekarang memang mereka masih staff, tetapi siapa tahu bertahun kemudian mereka mejadi pimpinan kita.”

“Saya kan bukan keturunan orang kaya raya. Misalnya nanti jadi orang kaya raya. Saya harus bisa ingat asal dari masa saya. Nanti istilahnya kacang lupa kulit,” lanjut lelaki yang menyelesaikan pendidikan strata satu hingga masternya di Jerman.

Soal hobi baca lelaki yang aktif di kepengurusan Gaikindo periode 2004-2007 ini sendiri cukup unik yaitu seputar buku-buku yang berkaitan tentang sejarah misalnya sejarah tentang Perang Dunia II hingga misteri pemberontakan G 30 S PKI.

Menurut dia hal yang paling berkesan dari buku-buku sejarah adalah karena tidak akan mungkin ada masa kini tanpa masa lalu. “Makanya saya suka dengan buku sejarah disamping membaca pendapat dari pelaku sejarahnya.”

Maklum saja bergabungnya lelaki yang juga hobi berkunjung ke musium ini dengan Daimler juga karena ketertarikannya dengan sejarah perusahaan otomotif asal Jerman itu.

Saat ini dia mengaku masih mencari-cari dua buku yang bersejarah yaitu buku memoar Jenderal M. Yusuf tentang Supersemar yang hingga kini tak kunjung terbit dan memoar AM Hanafi, anak kesayangan Presiden Sukarno.

Seperti diketahui AM Hanafi merupakan tokoh pemuda tahun 1945 dan menjadi duta besar di Kuba. Karena G30S PKI, Hanafi menjadi pelarian politik yang mendapat suaka dan akhirnya meninggal di Paris.

Buku pertama, Hanafi berjudul Menteng 31 dapat terbit semasa Soeharto masih berkuasa (1996) berkat bantuan anggota Komnas HAM, B.N. Marbun S.H. dan Aristides Katoppo dari Penerbit Sinar Harapan.

Sedangkan buku kedua berjudul Hanafi Menggugat diterbitkan oleh penerbit fiktif Edition Montblanc, Lile-France 1998. Kedua buku itu sebenarnya semua dikerjakan di Jakarta oleh Hasta Mitra.

“Sampai sekarang masih saya cari. Kalau ada yang bisa nyariin buku itu. Wah lebih dari oke banget tuh,” tuturnya dengan mata berbinar-binar.

Lucunya, Yunadi mengaku kebiasaan baca bukunya bukan sekedar hobi tetapi sudah menjadi sebuah kebutuhan. Pasalnya sejak kecil dia sudah suka membaca buku.

“Sehari tidak bisa dipastikan [baca buku] tapi kalau belum baca buku atau majalah belum bisa tidur. Majalah pun bukan yang isinya gosip gitu tapi yang ada ilmunya tapi tidak berat,” paparnya.

Dan rupa-rupanya kebutuhan membaca itu sudah menjadi kebutuhan keluarga sebab anak-anaknya pun sudah mulai dibiasakan mengenal buku meski mereka masih kecil-kecil.

“Kalau kita pergi kemanapun selain membelikan mainan biasanya kita berikan buku-buku yang berisi angka atau huruf. Istri saya juga termasuk orang yang suka baca,” tuturnya.

Jadi, lanjutnya, kegiatan membaca itu sudah menjadi bagian dari kebiasan keluarga kita bahkan kalau masuk ke rumah saya di kamar mandi pun ada majalah atau buku.

Meski cinta buku, Yunadi mengaku belum memiliki cukup banyak koleksi. Pasalnya seringkali usai membaca sebuah buku, buku itu dia berikan kepada orang lain.

Perihal anggaran buku pun tidak pernah teratur dipersiapkan. “Kalau suka ya beli. Buku-buku saya juga tidak dari luar negeri. Kebanyakan juga dari dalam negeri,” cetusnya.

Hanya khusus sejarah Perang Dunia II yang kebanyakan dari luar negeri. Berbeda dengan buku-buku sejarah Indonesia rata-rata buatan lokal dan harganya sangat terjangkau sekitar Rp50.000-Rp75.000.

“Saya paling senang kalau bisa membaca buku dan bisa membayangkan oh saya ada di saat kisah itu terjadi. Kebetulan saya sangat suka berimajinasi. Oh kaya gini kejadian dan suasana saat itu.” (alp)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: