it’s about all word’s

Andreas Harsono: need subsidy

Posted on: February 22, 2008

Di tengah persaingan ketat industri pers saat ini, tak banyak wartawan Indonesia yang mampu mencapai level tertinggi di bidang jurnalistik. Tapi Andreas Harsono merupakan salah satu pengecualian.

Wartawan dan ayah satu anak ini memiliki sejarah perjalanan menarik. Usai lulus sebagai insinyur dari Universitas Kristen Satya Wacana, Andreas bekerja di sebuah perusahaan perakitan truk.

Pekerjaan itu tak bertahan lama. Jiwa kewartawanan membawanya melanglang buana hingga ke Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Di sana dia bekerja sebagai wartawan lepas untuk harian The Nation Bangkok.

Setelah itu dia kembali ke Indonesia dan pernah bekerja di Jakarta Post menulis untuk Tempo hingga dibreidel. Andreas ikut mendirikan Institut Studi Arus Informasi bersama wartawan senior Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Aristides Katoppo dan lainnya pada Desember 1994.

Saat ini Andreas-yang pernah meraih beberapa penghargaan jurnalistik-masih sering menulis untuk harian The Nation (Bangkok) atau menulis untuk beberapa institusi pers di luar negeri, dan mengajar.

Berkaitan dengan profesinya sebagai jurnalis, pria murah senyum itu tak pernah absen membaca buku setiap hari, meski dalam tiga tahun terakhir ini dia sibuk menulis buku berjudul From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

Untuk keperluan tersebut, Andreas mewawancarai sedikitnya 600 narasumber dari Sabang, Merauke, Pulau Miangas di dekat Pulau Mindanao, Filipina, hingga di P. Roti, Timor.

Pada tahun kedua penulisan bukunya itu dia mendapatkan bantuan dana penulisan dan biaya hidup dari Ford Foundation. Sebagian lagi jatah untuk belanja buku bulanan, senilai Rp400.000.

Menyangkut kualitas buku di Indonesia yang sulit berkembang, menurut dia hal itu terjadi karena tidak adanya kemudahan atau subsidi dari pemerintah. “Seharusnya penulis seperti Pramoedya Ananta Toer atau Rendra diberi subsidi oleh pemerintah,” cetusnya.

Bebas memilih

Untuk anaknya semata wayang berusia delapan tahun, Andreas memberikan kebebasan memilih bahan bacaan yang disukainya.

Putranya yang bersekolah di Gandhi Memorial International School itu dibiasakan berbicara bahasa Inggris sejak kecil.

Tak heran jika sang bocah lebih lancar berbicara menggunakan bahasa Inggris, dan sangat menyukai kegiatan yang diadakan dalam bahasa Inggris seperti story telling, yang rutin diadakan oleh toko buku Aksara.

Andreas mengatakan satu atau dua minggu sekali dia bersama sang anak pergi mengunjungi toko-toko buku besar di Jakarta. Sering juga dia membelikan buku-buku serius bagi putranya itu.

Bisnis Indonesia Edisi: 22/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: