it’s about all word’s

Aviliani: Tugaskan pegawai bacakan buku

Posted on: February 22, 2008

Agar tetap tajam menganalisis suatu masalah, seorang analis tentu saja membutuhkan banyak informasi. Tanpa informasi, analis ibarat seorang serdadu tanpa peluru di medan perang.

Aviliani, ekonom wanita dari Indef, mengaku sangat menyadari pentingnya informasi. Untuk itu, dia punya cara ampuh untuk mendapatkan informasi mutakhir, yaitu melalui internet.

Tak heran berlangganan Internet menjadi anggaran tetap dosen STIE Perbanas dan STIA LAN ini. Nilainya bahkan mengimbangi anggaran belanja buku yang mencapai Rp500.000 setiap bulan.

Meski begitu, aktivitas membaca tidak ditinggalkan. Bagi Aviliani, kegiatan itu sudah menjadi kebutuhan primer yang tidak dapat ditinggalkan atau dikurangi.

“Setiap hari sebelum tidur saya sempatkan diri untuk membaca,” ujarnya saat mengikuti diskusi bertajuk Strategi Pembiayaan Pembangunan Untuk Mencapai Sasaran Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Gedung Bank Indonesia, baru-baru ini.

Bahkan jika kesibukan menyita waktunya, Aviliani tak jarang menelepon salah satu pegawainya yang ditugasi membaca buku yang diinginkan.

“Nanti saat kesibukan sudah lewat, maka saya akan menelepon pegawai saya untuk menceritakan isi buku itu,” papar pengagum buku-buku karya ekonom Joseph E. Stiglitz ini.

Menurut Aviliani, penulis buku The Principles of Macroeconomics tersebut sangat konsisten dengan analisisnya sendiri. Padahal pandangan Stiglitz termasuk konservatif dibanding ekonom lain. Tetapi justru hal itu yang membuat pandangan dia dianugerahi hadiah Nobel.

Sikap konsisten terhadap pandangan tersebut itulah yang tidak ditemukan pada pengarang buku-buku ekonomi di Indonesia. Menurut dia, sejauh ini penulis di Indonesia masih sebatas menyentuh masalah ekonomi yang kontekstual dan faktual.

Investasi

Kebiasaan membaca buku rupa-rupanya menjadi investasi pendidikan dan kebiasaaan yang ditanamkan Aviliani kepada putrinya, Ismi Hadiyani Putri, yang baru berumur tiga tahun.

Menurut dia, banyak orang tua yang terbiasa membiarkan anak balita (bawah lima tahun) mengisi aktivitas mereka dengan sekadar bermain. “Padahal seharusnya pada umur itu pembentukan karakter dimulai.”

Untuk itu Aviliani mengaku memulai kebiasaan membacakan cerita tiap kali menjelang tidur hingga menyediakan karpet bertuliskan huruf. Akhirnya justru putrinya itulah yang selalu menuntut untuk membaca tiap kali ada kesempatan.

Wanita yang bercita-cita ingin mendirikan yayasan yatim piatu ini mengaku sangat prihatin dengan kebiasan membaca buku yang masih rendah di dunia pendidikan Indonesia.

Dia menuturkan sampai saat ini masih jamak ditemui orang tua yang beranggapan membaca adalah aktivitas yang menghamburkan waktu.

Dengan kata lain, buku masih diposisikan sebagai kebiasaan sekunder. Keadaan ini tidak hanya terjadi di sekolah tingkat dasar, tapi juga menggejala di perguruan tinggi. “Hasilnya yang terjadi adalah sekedar gelar bukan ilmu,” ujarnya.

Gejala itu diperparah oleh sistem kurikulum pendidikan Indonesia yang tidak pernah disesuaikan untuk bakat anak-anak. Alhasil yang terjadi adalah generasi yang terdidik setengah-setengah.

Bisnis Indonesia Edisi: 15/05/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: